Popular Post

Total Pengunjung

Data Ekonomi Kerek Dolar AS Menguat

Posted by On 18.00.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Pada perdagangan Rabu Kurs dolar Amerika Serikat (AS) naik ditopang kuatnya data ekonomi sehingga menurunkan kemungkinan Federal Reserve melanjutkan siklus pemotongan suku bunganya pada 2020.

Menurut FedWatch CME Group Fed akan memangkas suku dari level 150-175 basis poin pada pertemuan Januari 2020, 4,3% Maret dan 12% di April. Tapi melihat data ekonomi, penurunan suku bunga 50% akan tetap pada level saat ini hingga Desember 2020.

"Intinya ekonomi AS tetap pada pijakan yang kokoh bahkan ketika seluruh dunia berjuang," tulis Analis Brown Brothers Harriman.

Dolar naik terhadap euro sebesar 0,23% menjadi USD1,112. Mata uang tunggal telah berjuang untuk tetap di atas MA 200-hari di USD1,115. Dolar juga 0,39% lebih tinggi terhadap pound menjadi USD1,308, yang telah kehilangan semua perolehan pemilu karena kekhawatiran Inggris dapat meninggalkan Uni Eropa tanpa kesepakatan perdagangan.

Indeks dolar naik dua hari berturut-turut untuk pertama kalinya sejak minggu terakhir di November, dan telah pulih lebih dari sepertiga dari penurunan Desember. Sterling sedang menguji level terendah 12 Desember di dekat USD1,3050 dan penembusan di bawah ini akan di dekat USD1,2825.[reuters]
Pelaku Pasar Condong Buru Dolar AS

Posted by On 16.55.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Berdasarkan Bloomberg di pasar spot, rupiah melemah 0,13% ke Rp 14.038 per dolar AS. Sementara, di kurs tengah Bank Indonesia, rupiah juga melemah 0,15% ke Rp 14.025 per dolar AS.

Belum adanya konfirmasi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengenai penambahan tarif impor kepada China, membuat pelaku pasar condong memburu dolar AS dari pada rupiah.

Menurut Analis Monex Investindo Faisyal mengatakan rupiah melemah karena Trump belum beri kejelasan mengenai keputusannya terakir penambahan tarif impor ke China di 15 Desember mendatang.

"Trump sebelumnya berencana untuk menunda kenaikan tarif ke China, tetapi penasihat Trump hingga kini tidak bisa mengkonfirmasi hal tersebut lebih lanjut," kata Fasiyal.

Sementara, Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri juga mengatakan ketidakpastian perang dagang AS dan China yang berlanjut membuat pelaku pasar condong buru dolar AS.

Selain itu, dollar AS tersokong menguat karena pelaku pasar juga cenderung bersikap wait and see menanti hasil Federal Open Market Committe (FOMC) malam ini mengenai arah kebijakan Fed Fund Rate (FFR).

"Pelaku pasar banyak mengantisipasi data eksternal yang mayoritas dari eksternal, seperti inflasi AS juga akan keluar malam ini, sementara dalam negeri sepi sentimen, rupiah jadi melemah," kata Reny.

Ekspektasi pelaku pasar pada tingkat suku bunga AS adalah menurun dari 1,75% ke 1,5%. Jika ekspektasi pelaku pasar sesuai dengan keputusan The Fed, maka rupiah berpotensi menguat. Namun, jika The Fed mempertahankan suku bunganya maka rupiah berpotensi kembali melemah.

"Jika The Fed mempertahankan suku bunga maka rupiah hari ini Kamis (12/9) berpotensi kembali melemah di rentang Rp 14.000 per dolar AS hingga Rp 14.100 per dolar AS," kata Faisyal.

Sementara, Reny memproyeksikan rupiah hari ini bergerak di rentang Rp 14.015 per dolar AS hingga Rp 14.060 per dolar AS.
Pasangan Kurs USD/IDR Diprediksi Masih Bisa Menguat

Posted by On 19.24.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Sukses membawa nilai tukar rupiah berada dalam tren penguatan sepekan ini, Dominasi kebijakan pelonggaran moneter yang diterapkan dalam sepekan terakhir. Untuk sepekan ke depan, pasangan kurs USD/IDR tersebut diyakini masih bisa melanjutkan penguatan.

Melansir Bloomberg pada perdagangan Jumat (1/11) pukul 16.34 WIB, rupiah tercatat menguat 0,03% ke level Rp 14.038 per dolar AS dari penutupan sebelumnya. Sebaliknya, kurs tengah Bank Indonesia (BI) atau JISDOR, justru terkoreksi sebanyak 58 poin atau 0,41% menjadi Rp 14.066 per dolar AS.

Ekonom Bank Mandiri, Reny Eka Putri mengungkapkan, pergerakan rupiah dalam sepekan terakhir cenderung mengalami penguatan. Hal in menggambarkan respon positif pasar terhadap langkah pemangkasan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) yang dilakukan Bank Indonesia (BI) pekan lalu.

"Kebijakan BI untuk mendorong perekonomian 2019 tersebut mendapat respon positif dari market, meskipun perkiraannya ekonomi hanya akan tumbuh 5% di akhir tahun ini," kata Reny.

Di sisi lain, pekan ini Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mengumumkan untuk memangkas suku bunga acuannya sebanyak 25 basis poin (bps) ke kisaran 1,5% dan 1,75%. Alhasil, dollar AS pun tertekan dan menjadi sentimen positif bagi mata uang garuda, ditambah lagi aliran dana masuk ke Tanah Air juga bertambah.

Selain itu, Reny mengungkapkan data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dirilis sepekan ini mencerminkan adanya pelambatan ekonomi di Negeri Paman Sam tersebut, sehingga investor juga mulai beralih dan masuk ke pasar negara-negara berkembang atau emmerging market.

Dengan berbagai kondisi tersebut, rupiah dalam dua pekan terakhir terus bergerak menguat dan berada di bawah level Rp 14.100 per dollar AS. Sehingga, cukup memungkinkan bagi pasangan kurs melanjutkan penguatan di pekan depan.

"Apalagi, pekan depan bakal dirilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan ekspektasi year on year (yoy) ekonomi masih bertumbuh 5%, sedangkan untuk quarter on quarter (qoq) di level 3%," ungkapnya.

Sementara itu, data terkait ketenagakerjaan AS yang bakal dirilis akhir pekan ini diprediksi masih akan lesu. Sehingga, kondisi tersebut berpeluang menjadi sentimen tambahan penguat rupiah di pekan depan.

Reny meramalkan di pekan depan rupiah masih akan menguat dengan rentang pergerakan harga di kisaran Rp 13.950 per dolar AS, hingga Rp 14.110 per dolar AS. Penguatan tersebut juga didukung pergerakan teknikal yang menunjukkan tren harga masih akan ke area bawah.