Popular Post

Total Pengunjung

Soal Aksi Terorisme di Medan, Ini Kata Psikiater

Posted by On 01.15.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Terkait aksi teror bom bunuh diri di Polrestabes Medan ternyata banyak faktor yang mempengaruhi seseorang atau kelompok terlibat dalam aksi terorisme. Salah satunya, paham radikal ini mudah terdoktrin kepada mereka yang merasa kesunyian dan depresi.

Menurut Psikiater dan dokter spesialis kejiwaan, Dr dr Elmeida Effendy MKed KJ SpKJ (K) ada beberapa faktor yang membuat seseorang sampai nekat atau dengan mudahnya terdoktrin untuk melakukan aksi bom bunuh diri.

"Salah satunya adalah karena masalah psikologi. Terutama, bagi mereka yang sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi di dunia, yang selalu merasa kesunyian di tengah keramaian, merasa sendiri dan tidak memiliki siapa-siapa, mengalami depresi atau gangguan jiwa lainnya akan lebih rentan untuk disugesti (didoktrin)," ungkap Elmeida kepada wartawan, Kamis (21/11/2019).Selain itu, sebut Elmeida, ada faktor lain yang juga bisa mempengaruhi yaitu keterbatasan intelegensi. Faktor ini akan sangat berpengaruh bagi doktrin atau sugesti tersebut dilakukan.

"Biasanya orang yang seperti ini (keterbatasan intelegensi) akan menganut paham aneh, sehingga menganggap aksi bom bunuh diri termasuk perbuatan jihad. Bahkan, jika terluka atau mati akan dijanjikan surga. Makanya, mereka akan melakukan apapun yang disuruh orang lain meski hal itu berbahaya dan kurang masuk akal," jelas Ketua Departemen Psikiatri FK USU ini.

Karenanya, Elmeida mengimbau bagi siapa saja yang memiliki anggota keluarga dengan masalah-masalah tersebut agar senanatisa menjaga dan mengawasinya. Jalin komunikasi yang lebih intens dan terbuka, agar dapat mencegah hal yang tidak diinginkan itu sampai terjadi.

"Jika hal itu terjadi dengan diri sendiri, maka jangan pernah mudah mempercayai ajakan orang lain untuk berbuat sesuatu yang ada di luar koridor hukum dan kebenaran. Berbicaralah terlebih dahulu dengan orang atau keluarga terdekat sebelum memutuskan sesuatu," terang dia.

Ia menyebutkan, carilah teman-teman yang baik dan mau membantu memilah apa yang dianggap pantas maupun tidak.

"Teman-teman yang selalu bersedia diganggu untuk ditanyakan pendapat, berdiskusi dan membahas berbagai hal," sambungnya.

Dia menambahkan, sebisa mungkin hindari kebiasaan untuk melamun dan kosong pikiran dengan cara selalu menjaga konsentrasi.

"Senanatiasa berdoa bila memiliki masalah atau dalam menentukan suatu keputusan terbaik. Dengan begitu, pikiran tidak akan kosong meskipun disaat sedang sendirian," imbuhnya.
Polisi Sudah Amankan 12 Orang Terkait Bom Bunuh Diri di Polrestabes
Medan

Posted by On 17.48.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Pascabom bunuh diri di Polrestabes Medan, Tim Gabungan yang terdiri dari personel Polda Sumut, Polrestabes Medan dibantu Densus 88 Mabes Polri sudah mengamankan 12 orang Rabu (13/11/2019) kemarin.

Wakapolda Sumut Brigjen Pol Mardiaz Kusin Dwihananto mengatakan, petugas kepolisian telah mengamankan sebanyak 12 orang untuk dimintai keterangannya lebih lanjut. Tim gabungan juga masih terus bergerak memburu sejumlah orang yang ada kaitannya dengan pelaku

Dia menjelaskan, dari 12 orang yang sudah diamankan tersebut, sejauh ini belum ada satupun yang ditetapkan sebagai tersangka. Adapun keduabelas orang itu, kata Mardiaz, terdiri dari orangtuanya dari Rabbial Muslim Nasution alias Dedek (24), mertua, istri, kakak, dan kemudian tetangga.

"Saat ini (semuanya) masih kita periksa, statusnya masih saksi," jelasnya.

Lebih lanjut Mardiaz mengaku, sejak Rabu kemarin, pihaknya terus bekerja insentif dan melakukan pengejaran terhadap beberapa orang yang ada kaitannya dengan pelaku. Ia membeberkan, dari penggeledahan di sejumlah lokasi, pihaknya juga turut mengamankan barang bukti yang dicurigai berbahan peledak.

"Dari rumahnya ada ditemukan beberapa barang bukti berupa pipa yang diisi dengan kandungan kimia, kemudian panah beracun, dan juga alat las dari rumah tersebut," terangnya.

Sementara itu, sambung Mardiaz, dari hasil interogasi terhadap istri pelaku, bahwasanya selama ini mereka ada melakukan pengajian eksklusif. Namun ia menegaskan, hal ini masih perlu pendalaman lanjut.

"Ini tentunya masih kita dalami motif-motifnya, apakah ada kaitan dengan kejadian bom. Kalau masalah pengajian, si istri bergabung dengan pelaku dan kawanan pelaku, ini juga sedang kita dalami," sebutnya.