Popular Post

Total Pengunjung

Wall Street Kembali Cetak Rekor Tertinggi

Posted by On 17.49.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa kesepakatan dagang awal AS-China segera diteken. Indeks utama Wall Street kembali mencetak rekor tertinggi pada Senin (23/12). Harga saham Boeing yang melejit menjadi penyokong lonjakan Dow Jones.

Kemarin, Dow Jones menguat 0,34% ke 28.551,53. Indeks S&P 500 menguat 0m09% ke 3.224,01. Nasdaq Composite menguat 0,23% ke 8.945,65.

Harga saham Boeing menguat 2,91% setelah CEO Dennis Muilenburg dicopot dari jabatannya setelah krisis panjang yang melibatkan 737 MAX. Saham Boeing memiliki porsi besar pada Dow Jones dan sektor industri S&P 500.

Indeks S&P 500 mencapai rekor penutupan perdagangan baru dalam tiga hari berturut-turut. S&P 500 juga menyentuh angka tertinggi pada perdagangan intraday dalam delapan hari berturut-turut. Sedangkan Nasdaq mencapai angka penutupan tertinggi dalam delapan hari berturut-turut.

"Aliran berita baik terus berpihak pada kondisi bullish sehingga tidak sepenuhnya ada alasan bagi investor untuk menjual. Investor pun punya kekhawatiran akan ketinggalan reli pada satu setengah bulan terakhir," kata Chuck Carlson, chief executive officer Horizon Investment Services kepada Reuters.

Sentimen positif juga datang dari China yang akan menurunkan tarif impor berbagai produk mulai dari daging babi beku, alpukat, hingga sejumlah tipe semikonduktor pada tahun depan.

Mona Mahajan, US investment strategist Allianz Global Investors mengatakan bahwa kunci utama kelanjutan kondisi bursa dan bisnis yang positif adalah tarif tidak akan naik lebih tinggi dari posisi saat ini. "Ini adalah keyakinan bisnis yang penting," kata dia.

Meski bertebaran sentimen positif, ada data yang dirilis kurang oke pada awal pekan ini. Pesanan baru barang modal AS hanya naik tipis pada bulan November. Bahkan pengiriman turun. Hal ini menunjukkan bahwa investasi bisnis masih berpotensi menjadi pemberat pertumbuhan ekonomi kuartal keempat.
Perang Dagang Dongkrak Wall Street

Posted by On 17.56.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Indeks S&P 500 juga mencatat kenaikan persentase mingguan terbesar sejak awal September 2019 setelah data menunjukkan peningkatan belanja konsumen dan investor optimistis tentang perkembangan perdagangan Amerika Serikat (AS)-China.

Bursa saham Wall Street kembali mencapai rekor penutupan tertinggi pada Jumat (20/12). di mana Presiden AS Donald Trump mengklaim kemajuan dalam isu-isu perdagangan setelah berbicara dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Ini menghilangkan kekhawatiran akan eskalasi lain dalam perang dagang antara kedua negara.

Jumat (20/12), indeks Dow Jones Industrial Average naik 78,13 poin atau 0,28% menjadi 28.455,09, indeks S&P 500 naik 15,85 poin atau 0,49% ke 3.221,22. Sedangkan indeks Nasdaq Composite menguat 37,74 poin atau 0,42% menjadi 8.924,96.

Indeks S&P 500 juga mencapai level tertinggi intraday ketujuh berturut-turut ke rekor tertinggi harian intraday sejak Oktober 2017. Sementara indeks Nasdaq naik untuk sesi kedelapan berturut-turut.

"Saat ini cenderung menjadi penarik bagi pasar," kata Walter Todd, kepala investasi di Greenwood Capital Associates di Greenwood, Carolina Selatan, yang membantu mengelola dana sekitar US$ 950 juta.

Belanja konsumen yang menjadi kunci pertumbuhan ekonomi AS dan fokus utama bagi investor, naik 0,4% pada November 2019. Ini menambah serangkaian data optimistis yang telah membantu meredam kekhawatiran resesi ekonomi AS, yang melanda pasar awal tahun ini.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai tertinggi dalam satu tahun. Sekitar 11,53 miliar saham berpindah tangan pada Jumat (20/12).

Harga saham Nike Inc turun 1,2% setelah pembuat pakaian olahraga terbesar di dunia melaporkan pertumbuhan pendapatan yang lebih rendah dari perkiraan dari Amerika Utara.

Sementara harga saham emiten operator pelayaran yang dipimpin Carnival Corp melonjak 7,6% setelah memperkirakan laba tahun 2020 yang sebagian besar di atas perkiraan.

Di sisi lain, harga saham AS Steel Corp anjlok 10,8% setelah perusahaan itu memperkirakan kerugian kuartal keempat 2019 yang lebih besar dari perkiraan.
3 Indeks Acuan Wall Street Melanjutkan Relinya

Posted by On 17.34.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Pada perdagangan Kamis (19/12) waktu setempat ada tiga indeks acuan Wall Street melanjutkan relinya dikarena Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Steven Mnuchin mengatakan kesepakatan awal perdagangan AS dan China akan ditandatangani pada awal Januari.

Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average naik 137,68 poin atau 0,49% menjadi 28.376,96, S&P 500 naik 14,23 poin atau 0,45% menjadi 3.205,37, dan Nasdaq Composite menambahkan 59,48 poin, atau 0,67% menjadi 8.887,22.

Saham Conagra Brands Inc melonjak 15,9% setelah pembuat Slim Jim mengalahkan penjualan triwulanan dan estimasi laba.

Asal tahu, indeks acuan S&P 500 mencapai level tertinggi keenam beruntun sepanjang masa, terpanjang sejak Januari 2018, dan Nasdaq berakhir dengan kenaikan untuk sesi ketujuh berturut-turut. S&P 500, Nasdaq dan Dow Jones Industrial Average semuanya mencatat rekor penutupan tertinggi.

Komentar Mnuchin memperkuat optimisme yang telah membawa saham AS lebih tinggi sejak kesepakatan perdagangan diumumkan pekan lalu.

Dalam sebuah wawancara dengan CNBC pada hari Kamis, Mnuchin mengatakan perjanjian itu telah dituliskan di atas kertas dan diterjemahkan, dan tidak akan dinegosiasi ulang.

Komentar itu meredakan beberapa kekhawatiran bahwa perbedaan pendapat antara Washington dan Beijing dapat sekali lagi mencegah penyelesaian kesepakatan perdagangan, kata para analis pasar.

"Masih ada keraguan sampai kita mencapai penandatanganan yang sebenarnya," kata Quincy Krosby, analis Prudential Financial di Newark, New Jersey.
Data Ekonomi AS Sulut Wall Street Menguat Lagi

Posted by On 18.15.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang membaik jadi penopang rekor baru indeks utama Wall Street kemarin. Wall Street masih kuat menanjak lagi ke rekor tertinggi

Selasa (17/12), Dow Jones Industrial Average naik 0,11% ke 28.267,16. Indeks S&P 500 menguat tipis 0,03% ke 3.192,52. Nasdaq Composite menguat 0,10% ke 8.823,36.

Pasar perumahan AS bulan November naik lebih tinggi daripada prediksi. Izin pendirian bangunan pun naik ke level tertinggi sejak Mei 2007. Data dari Federal Reserve juga menunjukkan bahwa produksi manufaktur naik lebih tinggi ketimbang prediksi pada bulan November. Berhentinya aksi mogod pada General Motors Co menjadi penyokong produksi otomotif.

Keith Lerner, chief market strategist Truist/SunTrust Advisory Services mengatakan, sebagian besar data menunjukkan bahwa ekonomi global mulai stabil dan ekonomi AS berada dalam kondisi yang solid. "Pasar menghitung ulang harga karena risiko resesi menurun," kata Lerner kepada Reuters.

Tak cuma tiga indeks utama yang mencapai rekor tertinggi. Harga saham Apple Inc pun menyentuh rekor tertinggi dan ditutup dengan kenaikan tipis 0,2%.

Sementara harga saham Netflix Inc naik 3,7% dan menjadi salah satu saham dengan persentase kenaikan tertinggi pada indeks S&P 500. Penyedia layanan streaming ini mengatakan bahwa pertumbuhan bisnis di luar negeri tumbuh makin kencang, terutama di Asia Pasifik.

Di sisi lain, harga saham FedEx Corp merosot 6% setelah perusahaan jasa pengiriman ini melaporkan kinerja kuartalan.
Wall Street Tancap Gas ke Rekor Baru

Posted by On 16.22.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Terkait kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China masih menjadi penyulut kenaikan bursa saham AS membuatdan Wall Street tancap gas ke rekor baru di awal pekan. Data ekonomi China yang membaik pun turut meyakinkan investor untuk berburu saham.

Pada Senin (16/12), indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite menandai rekor baru dalam tiga hari perdagangan berturut-turut. Sementara Dow Jones Industrial Average akhirnya melewati rekor tertinggi yang tercapai November lalu.

Dow Jones menguat 0,36% ke 28.235,89. Indeks saham ini menguat di tengah penurunan harga saham Boeing Co yang mencapai 4,3%. Harga saham produsen pesawat ini jatuh setelah adanya laporan bahwa Boeing mempertimbangkan memangkas atau menghentikan produksi pesawat 737 MAX yang masih dikandangkan hingga kini.

Pengumuman kesepakatan dagang Jumat lalu antara AS dan China mengangkat prospek ekonomi global. Meski pertumbuhan ekonomi China diramal masih moderat, perkembangan perdagangan ini turut mengangkat prospek ekonomi selanjutnya. Kemarin, China merilis data produksi industri dan penjualan ritel yang melaju pada bulan November.

AS menunda kenaikan tarif impor atas produk dari China yang sedianya berlaku hari Minggu (15/12). Kedua pihak berencana meneken kesepakatan fase satu ini pada bulan depan. "Ini memvalidasi skenario terbaik yang diharapkan pasar," kata Oliver Pursche, chief marketing strategist Bruderman Asset Management kepada Reuters.

Bank sentral AS Federal Reserve menahan suku bunga pada bulan ini dan meluncurkan sinyal bahwa suku bunga akan bertahan sepanjang tahun depan. Tapi, penurunan suku bunga acuan AS yang sudah tiga kali tahun ini tampaknya cukup menyokong ekonomi AS.

"The Fed menaikkan ukuran aset dan ini secara umum dianggap akan baik untuk pasar saham," kata Paul Nolte, portfolio manager Kingsview Investment Management kepada Reuters. Dia menambahkan bahwa hal in sudah cukup untuk menopang pasar keuangan.
3 Indeks Acuan Wall Street Memerah Terseret Profit Taking

Posted by On 16.10.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - China dan Amerika Serikat (AS) telah sepakat dalam negosiasi dagang fase satu. Tiga indeks acuan Wall Street memerah pada perdagangan Jumat (13/12) terseret profit taking setelah sesi sebelumnya menyentuh rekor tertinggi.

Mengutip Reuters pukul 23,45 WIB, indeks Dow Jones Industrial Average turun 101,47 poin, atau 0,36%, menjadi 28.030,58. Indeks S&P 500 kehilangan 11,88 poin atau 0,37%, menjadi 3.156,69 dan Nasdaq Composite turun 18,12 poin, atau 0,21%, menjadi 8.699,20.

Kesepakatan perdagangan akan mencakup pengembalian sebagian dari tarif China dan menghentikan pungutan tambahan yang diberlakukan pada hari Minggu.

China menyetujui pembelian signifikan produk pertanian AS, tetapi gagal memberikan jumlah tertentu, mengecewakan beberapa investor yang mengharapkan komitmen yang lebih kuat. Di sisi AS, investor berharap lebih dari sekadar pengembalian sebagian dari beberapa tarif.

Para pejabat China mengatakan bahwa China dan AS mencapai kesepakatan tentang teks kesepakatan perdagangan fase satu. Langkah selanjutnya adalah bagi China dan AS untuk melalui langkah-langkah hukum dan mengatur waktu untuk menandatangani kesepakatan, dilansir dari CNBC.

Para pejabat China juga mengatakan tarif akan digulirkan kembali secara bertahap. Pembelian pertanian oleh China akan meningkat, tetapi para pejabat tidak menentukan berapa banyak.
Wall Street Menghijau Usai Rapat FOMC

Posted by On 17.14.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Setelah Federal Reserve menahan suku bunga acuan pada rapat FOMC yang berakhir kemarin Wall Street menguat. Bahkan, mayoritas anggota FOMC memperkirakan suku bung akan tetap sepanjang tahun depan.

Rabu (11/12), Dow Jones Industrial Average menguat 0,11% ke 27.911,30. Indeks S&P 500 menguat 0,29% ke 3.141,63. Sedangkan Nasdaq Composite melaju 0,44% ke 8.654,05.

Karl Schamotta, chief market strategist Cambridge Global Payments mengatakan, The Fed berpandangan optimistis tapi hati-hati. "Pola yang kita lihat lewat pernyataan dan proyeksi menunjukkan bahwa bank sentral yakin telah mengeluarkan cukup stimulus untuk mencegah penurunan," kata Schamotta kepada Reuters.

Pelonggaran moneter The Fed lewat tiga kali pemangkasan suku bunga tahun ini menjadi penyokong kenaikan bursa saham. Indeks S&P 500 sudah naik 25% sepanjang tahun ini.

Dengan sinyal The Fed yang akan menahan suku bunga sepanjang tahun depan, investor kini mengarahkan perhatian kembali ke negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, termasuk penetapan tarif pada Minggu (15/12).

Baca Juga: Moody's beri outlook negatif, begini pendapat analis untuk saham sektor perbankan

James Ragan, director of wealth management research DA Davidson mengatakan bahwa kenaikan pasar saham sepanjang tahun ini terutama disebabkan oleh penurunan suku bunga. "AS berada dalam kondisi suku bunga yang baik untuk mendukung laju pertumbuhan," kata dia.

Ragan menambahkan bahwa fokus pasar akan kembali ke penyelesaian perang dagang. Jika sampai Minggu tidak ada pengumuman penundaan atau pembatalan, maka tarif impor atas US$ 156 miliar produk dari China ke AS akan berlaku.