Popular Post

Total Pengunjung

Rupiah Spot Menguat di Level Rp14.005/U$D

Posted by On 17.47.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Awal perdagangan di awal pekan. Senin (9/12/2019) pukul 8.18 WIB nilai tukar rupiah menguat. Kurs rupiah spot berada di Rp 14.005 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,23% ketimbang harga penutupan perdagangan pekan lalu pada Rp 14.038 per dolar AS.

Ini adalah penguatan rupiah dalam lima hari berturut-turut. Dalam lima hari atau sepekan terakhir, rupiah menguat 0,85% dari posisi Rp 14.125 per dolar AS pada awal pekan lalu.

"Rupiah menguat karena pelemahan dolar AS, harapan bahwa kesepakatan dagang AS-China mendekati penyelesaian dan pemulihan pasar saham Indonesia," kata Khoon Goh, head of Asia research ANZ Singapura kepada Bloomberg. Goh memperkirakan, kisaran perdagangan rupiah berada di Rp 14.000 hingga Rp 14.150 per dolar AS.

Rupiah menduduki posisi terkuat sejak 6 November 2019 atau sebulan lalu. Penguatan rupiah hari ini merupakan penguatan terbesar di pasar valas Asia. Selain rupiah, penguatan juga terjadi pada won dan dolar Taiwan. Sementara mayoritas mata uang Asia melemah terhadap the greenback.

Sementara itu, indeks dolar menguat tipis ke 97,001 dari posisi akhir pekan lalu pada 97,700. Indeks yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ini menguat pada Jumat lalu setelah turun dalam tiga hari perdagangan sebelumnya.

Meski menguat, posisi indeks dolar masih cenderung turun dalam sepekan terakhir.
Sentimen Eksternal Masih Menopang Kurs Rupiah

Posted by On 17.11.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA- Meskipun sentimen lain membanjiri pasar dan penantian kepastian kesepakatan damai perang dagang tahap pertama tetap jadi fokus investor.

Pada perdagangan di awal pekan ini, rupiah masih belum bisa ungguli dollar. Lagi-lagi, dolar menguat atas rupiah dan mata uang regional lainnya.

Pada Senin (2/12) rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 14.125 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,12% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 14.108 per dolar AS. Sementara kurs tengah rupiah melemah 0,14% ke level Rp 14.122 per dolar AS.

Menurut Direktur PT Garuda Berjangka Indonesia Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah atas dolar hari ini dipengaruhi oleh data PMI China yang dirilis lebih baik dari ekspektasi pasar.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan, data inflasi yang rilis hari ini meskipun lebih baik dari ekpektasi pasar, namun belum dapat menjadi pembangkit rupiah. Pasalnya, pasar masih lebih fokus pada kepastian perang dagang.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan data yang dirilis pagi, data inflasi lebih rendah dari perkiraan. Tapi sentimen itu masih dari faktor ekternal regional, data Cina lebih baik dari perkiraan. Fokus masih pada progres kesepakatan dagang karena ini sudah dekat tanggal 15 Desember yang merupakan deadline.

Sementara dari zona Euro, Ibrahim menilai kemungkinan Boris Jhonson menang dalam pemilu 12 Desember mendatang membawa jalan bagi keluarnya Inggris dari Brexit lebih cepat.

Pada perdagangan hari ini, Ibrahim dan Joshua nilai investor masih akan fokus pada kepastian terkait perang dagang. Di sisi lain, Josua menambahkan akan terdapat beberapa data ekonomi yang rilis di Amerika nanti malam.

Di antaranya, data NPI dan ISM Manufacturing AS. Pasar juga menantikan pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde terkait kebijakan ekonomi yang akan diterapkan ECB.

Josua menilai, jika hasil rilis data ekonomi AS menunjukkan perbaikan ada kemungkinan rupiah akan kembali melemah. Sehingga, Josua prediksikan hari ini rupiah akan melemah di kisaran Rp 14.075-14.150 per dolar AS.

Sementara Ibrahim memprediksi rupiah akan melemah ke kisaran Rp 14.010-14.150 per dolar AS karena dorongan faktor eksternal.