Popular Post

Total Pengunjung

Gubsu: Pemprovsu Kucurkan Rp5 M untuk Tangani Virus Babi di Sumut

Posted by On 22.54.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Terkait penanganan virus babi (hog cholera), pihak Pemerintahan Provinsi Sumut mengucurkan anggaran sebesar Rp 5 Miliar. Saat ini tercatat sudah lebih dari 29.000 ekor babi mati di Sumatera Utara mendadak diduga terjangkit virus tersebut.

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengatakan, anggaran yang dikucurkan itu untuk kegiatan pengawasan babi yang terkena Hog Kholera hingga proses penguburan.

"(Anggaranya) untuk patroli, lalu (menyiapkan) pos-pos, untuk menutup jalan keluar masuk babi dari dalam keluar dan sebaliknya. Lalu menyiapkan personel untuk menguburkan babi yang mati," ujar Edy usai mengikuti Apel Kesiapsiagaan Natal dan Tahun Baru, di Lapangan Benteng Medan, Kamis (19/12/2019).

Kata Edy untuk membantu masyarakat mengubur babi, Pemprovsu juga telah menyiapkan alat berat untuk proses penguburan babi.

"Kita siapkan alat berat untuk menguburkan sehingga tidak dibuang di sembarang tempat," ujar Edy

Edy menegaskan anggaran yang digunakan bukan untuk memusnahkan seluruh babi yang ada di Sumut, melainkan hanya penanganan Hog Cholera saja.

"Belum, kalau untuk pemusnahan, anda bayangkan, babi di Sumut hampir mencapai 2 juta ekor. Kalau itu kali 3 juta per ekor, sudah berapa itu jumlahnya,"pungkasnya.
Gubsu: Isu Ikan Kena Bangkai Babi Itu Hoaks

Posted by On 21.38.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Menjelang perayaan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi, melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke Pusat Pasar Medan, Jalan Pusat Pasar, Medan. Inspeksi dilakukan untuk memastikan harga bahan pokok.

Dalam inspeksi yang dilakukan Edy pada Rabu (4/12) kemarin, diketahui harga sejumlah bahan kebutuhan pokok relatif stabil, meski ada beberapa komoditas harganya naik dan ada juga yang turun.

Bahan pokok yang harganya relatif naik seperti daging ayam, telur, gula, bawang merah, dan tomat. Untuk harga daging ayam beberapa pekan lalu rerata Rp26.000/kg menjadi Rp32.000/kg, telur dari yang biasanya Rp1.100/butir menjadi Rp1.400/butir.

Kemudian bawang merah yang sebelumnya Rp25.000/kg menjadi Rp30.000/kg, dan tomat sebelumnya rata-rata Rp3.000/kg menjadi Rp8.000/kg. Sedangkan gula pasir naik dari Rp12.000/kg menjadi Rp13.000/kg.

Para pedagang Pusat Pasar Medan menggunakan kesempatan ini untuk mengeluarkan unek-uneknya kepada Gubernur Sumut, seperti uang parkir yang mahal untuk bongkar muat barang, masalah kerapian hingga harga yang mahal dari distributor.

“Banyak pedagang yang mengeluhkan harga bahan kebutuhan pokok ini sudah mahal dari distributor. Pusat Pasar sangat tidak nyaman, harusnya Pusat Pasar itu bisa membuat orang nyaman berbelanja, kalau begini siapa yang lama-lama tahan di sini,” terang Edy.

Menurut Edy, kenaikan harga telur memang sudah diprediksi, karena menurunnya minat masyarakat terhadap ikan.

Pedagang ikan di Pusat Pasar, Tetty Simbolon, yang kiosnya didatangi Edy dan rombongan mengeluhkan sepinya pembeli dan menurunnya pendapatan, dampak pembuangan bangkai babi ke sungai. Bahkan, penurunan penjualan ikan mencapai 70%.

“Padahal ikan itu asalnya dari tengah laut, bangkai babi-babi itu paling cuma sampai pantai. Isu ikan kena bangkai babi itu hoaks,” ungkapnya.

Sedangkan komoditi yang mengalami penurunan adalah bawang putih, biasanya rerata Rp35.000/kg menjadi Rp28.000/kg, cabai merah yang sebelumnya Rp30.000/kg menjadi Rp24.000/kg. Cabai rawit yang sebelumnya Rp30.000/kg menjadi Rp25.000/kg, sedangkan daging sapi stabil di harga Rp110.000/kg.

Usai meninjau Pusat Pasar Medan, Edy dan rombongan menuju Gudang Bulog Divre Sumut di Jalan Mustafa untuk mengetahui ketersediaan bahan kebutuhan pokok. Saat ini Bulog memiliki stok 53.384 ton beras dan 53,8 ton daging kerbau beku.

“Stok cukup untuk 3 sampai 4 bulan ke depan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal beras dan daging, belum lagi yang dari petani. Kita juga sudah menyerap 7.000 ton beras dari petani, belum termasuk beras dari pengusaha,” sebut Kepala Bulog Divre Sumut, Arwakhudin.
Terkait Babi di Sumut, Edy: Tak Bisa Diatasi, Seluruh Babi harus
Dimusnahkan

Posted by On 18.08.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Soal matinya babi di Sumatera Utara, pihak Pemerintah Sumut mencatat 9.421 ekor babi mati akibat ‎virus hog cholera. Bila wabah tersebut tidak bisa diatasi, Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi menegaskan, seluruh babi harus dimusnahkan.

"Tim lagi turun. Kalau virus tidak bisa diatasi, semuanya harus dimusnahkan. Ke sana larinya itu," tegasnya.

Dia mengatakan, dirinya sudah menjumpai Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, di Jakarta baru-baru ini, untuk membahas ‎virus hog cholera yang menyerang peternakan babi di Sumut.

"Terkait virus ini, saya sudah ‎jumpa dengan Menteri Kesehatan, dan disebut tidak menularkan siapapun, baik manusia, binatang, dan lainnya. Khusus si babi. Kalau bukan babi, aman dia," ucapnya.

Edy juga mengungkapkan, Kementerian Kesehatan tengah memproses permintaan dari Dinas Kesehatan Sumut untuk mengirim vaksin dalam upaya mengatasi dan mencegah terjangkit ‎hog cholera.

"Untuk vaksin yang menentuskan itu Menteri Kesehatan. ereka yang mengeluarkan vaksin. Bukan Kadis Kesehatan. Dari Kementerian ke Kadis, ini sedang diproses," ungkapnya.