Popular Post

Total Pengunjung

Bahaya ! Ribuan Babi Mati di Sumut Terindikasi Virus ASF

Posted by On 18.28.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Terkait matinya ribuan babi di Sumatera Utara (Sumut), Balai Veteriner Medan menyebut selain disebabkan virus hog cholera, terindikasi terkena virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika.

Kepala Balai Veteriner Medan, Agustia mengatakan, pihaknya sejak September hingga Oktober 2019 telah mengambil sampel terhadap babi yang mati di beberapa kabupaten yang dilaporkan terjadi kematian secara mendadak. Pihaknya menerima laporan kematian babi dari dinas di kabupaten/kota dan provinsi.

"Kita sudah turun ke lapangan dan mengambil sampel di daerah yang terjadi peningkatan ekskalasi kematian babi. Hasilnya, benar seperti yang kita duga sebelumnya, hog cholera yang pernah terjadi di tahun 1993-1996, dan itu wabah," katanya, Kamis (7/11).

Agustia menjelaskan, hog cholera saat itu sudah ditangani. Dari segi ilmu kedokteran, virus itu tetap ada dan tidak menyerang jika ketahanan tubuh babi kuat. Ketika ketahanan tubuhnya kuat, namun masih muncul, maka di situ yang disebutnya dengan daerah endemis.

"Jadi serta merta bisa muncul. Agar tidak muncul, maka harus ada vaksinasi," jelasnya.

Menurut Agustia, penyakit babi tidak hanya hog cholera, mengingat kematian terus terjadi. Pihaknya kembali melakukan uji lab, dan hasilnya menemukan indikasi suspect ASF.

"Begini, kenapa saya katakan indikasi, karena selama ini tidak pernah ada dan saya katakan sampai saat ini tidak ada serangan virus ASF, tapi kalau indikasi ASF, iya. Beda antara ada dan indikasi, ya," terangnya.

Untuk membuktikan adanya ASF, dilakukan uji lab berkali-kali. Hasilnya disampaikan oleh atasan. Dalam hal ini, pihaknya melaporkan hasil uji lab ke Direktur Jenderal Penyakit dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

"Virus ASF ini belum pernah ada di Indonesia. Serangannya cepat dan sistemik. Babi yang diserang tidak kelihatan sakit, namun bisa tiba-tiba mati. Virus ASF ini masuk ke dalam tubuh dan mematikan organ-organ. Contoh, di hari pertama hingga satu minggu serangan, babi tidak terlihat sakit, namun selanjutnya mati," ungkapnya.

Ada juga yang dalam seminggu serangan, namun babi tidak langsung mati. Sehingga babi tersebut menjadi sumber penyebar virus. ASF belum ada obatnya, dan juga vaksinnya belum ada.

"Jadi itu yang membedakannya dengan hog cholera yang vaksinnya sudah ada," ujar Agustia.

Agustia menerangkan, babi yang terserang virus ASF ini masih bisa dikonsumsi, namun setelah dimasak dengan suhu 100 derajat celcius. Kenapa masih bisa dikonsumsi? karena tidak zoonosis, tidak menular kepada manusia, tapi pig to pig.

Untuk menghindari penyebaran lebih luas, ada perlakuan di lapangan yang harus mengikuti standar ASF. Pertama, masyarakat tidak membeli ternak babi yang harganya murah. Kedua, masyarakat juga harus menerapkan bio sekuriti, tidak saling menjenguk ternak yang sakit.

Ketiga, bangkai babi tidak dibuang ke sungai atau ke hutan melainkan dikubur. Keempat, perlu dilakukan pengetatan lalu lintas ternak dan menjaga sanitasi kandang.

"Untuk kandang sendiri harus sesering mungkin dicuci. Manajemen kandang, untuk memastikan kandang bersih itu memang tidak mematikan, tapi cukup membantu," Agustina menandaskan.
Heboh Bangkai Babi di Medan, Lebih Dari 4 Ribu Babi di Sumut Mati
Karena Kolera

Posted by On 06.53.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Ratusan ekor bangkai babi mengambang di aliran Sungai Bedera, yang melintas di wilayah utara Kota Medan, sejak Sabtu 2 Nopember 2019 kemarin.

Kondisi itu pun membuat kehebohan warga, khususnya yang tinggal di wilayah Medan Utara, karena bau busuk yang begitu menyengat akibat keberadaan bangkai tersebut.

Kehebohan yang terjadi di Medan ini, juga terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Khususnya di sejumlah wilayah di kawasan Tapanuli.

Meski tak ada ratusan bangkai babi ditemukan di wilayah-wilayah itu, namun jumlah hewan ternak babi milik warga yang mati, jumlahnya telah mencapai ribuan.

Bahkan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara, mencatat sebanyak 4047 ekor babi mati mendadak sejak September hingga November 2019 ini.

“Matinya akibat kolera babi. Penyebaran virus bisa makin meluas karena sebagian peternak membuang babi yang mati ke sungai. Padahal, bangkai babi seharusnya ditanam. Penyebaran virus ini melalui udara. Jika bangkai tidak ditanam, maka virus akan semakin menyebar. Saat ini sudah sebelas daerah yang terkena,"kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, M Azhar Harahap, Selasa (5/11/2019)

Kasus pembuangan bangkai babi ke sungai itu semula diketahui terjadi di beberapa kabupaten di kawasan Tapanuli. Namun belakangan bangkai-bangkai babi juga sudah ditemukan di aliran sungai di Medan, seperti di Sungai Bedera, Medan Marelan.

Pembuangan bangkai secara sembarangan ini, menurut Harahap, akan membuat upaya menghadang penyebaran virus makin sulit. Berbagai upaya dilakukan, termasuk disinfektan dan pemberian vaksin kepada ternak di berbagai daerah.

Petugas, menurut Harahap, akan makin memperluas cakupan pemberian vaksin. Terutama daerah yang kini terjangkit di antaranya Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Karo, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai.

Selain itu, kata Harahap, pihaknya sudah meminta pemkab/pemkot membuat posko penanganan. Dengan begitu, penanganan kasus bisa dilakukan lebih cepat.

[AS]