Popular Post

Total Pengunjung

Indeks Wall Street Berguguran

Posted by On 17.01.00 with No comments

digtara.com | NEWYORK - mengakhiri sesi Jumat (29/11) Indeks utama Wall Street dengan penurunan. Perselisihan AS-China atas Hong Kong memicu kecemasan investor tentang pembicaraan perdagangan.

Harga saham perusahaan-perusahaan ritel juga merosot karena penjualan Black Friday tampaknya hanya mampu menarik pengunjung lebih kecil ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

China pada hari Kamis mengancam akan membalas undang-undang AS yang mendukung pemrotes pro-demokrasi di Hong Kong dengan langkah-langkah potensial.

Sebagian ancaman itu adalah melarang para penyusun undang-undang memasuki wilayah China daratan, Hong Kong, dan Makau, tulis tabloid Global Times seperti dikutip oleh Reuters.

Jumat kemarin sebuah laporan Reuters mengutip dua sumber yang mengatakan pemerintah AS bisa memperluas upaya menghentikan lebih banyak pengiriman produk asing dengan teknologi AS ke Huawei China. AS frustrasi bahwa daftar hitam gagal untuk mengakhiri pasokan ke pembuat peralatan telekomunikasi terbesar di dunia itu.

Ketiga indeks utama Wall Street telah mencatat rekor tertinggi di awal pekan ini ketika harapan lebih tinggi atas kesepakatan perdagangan AS-China "fase satu" yang akan segera terjadi.
Pasar Saham Global Tertahan Respon China

Posted by On 17.26.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Pasar saham global tertahan setelah China mengatakan akan membalas legislasi Amerika Serikat (AS) yang mendukung demonstran Hong Kong. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan bentuk respons China.

Kemarin, Wall Street tutup karena liburan Thanksgiving. Dalam tiga hari perdagangan berturut-turut sebelum libur, tiga indeks utama AS mencatat rekor tertinggi.

Sedangkan di Eropa, Euro Stoxx turun 0,23%. FTSE 100 pun turun 0,18%. Indeks DAX di Jerman turun 0,31%. Harapan kesepakatan dagang yang menurun antara AS dan China mengangkat yield obligasi Jerman bertenor 10 tahun ke level terendah sejak 1 November. Safe haven yen pun naik dari level terendah dalam enam bulan terakhir.

Di Asia Pasifik, hanya bursa saham India dan Australia yang menguat pada perdagangan kemarin. Sementara IHSG tergerus hingga 1,16% ke 5.953,06.

Legislasi AS yang mengancam adanya sanksi pelanggaran hak asasi manusia dan akan melindungi otonomi Hong Kong, memicu China untuk memperingatkan langkah pembalasan. "Pasar hanya sedikit bereaksi karena belum ada detail pembalasan," kata Ken Odeluga, market analyst City Index.

Dia menambahkan, pasar saham akan cenderung berhati-hati dalam beberapa waktu ke depan.