Popular Post

Total Pengunjung

23 Persen Balita di Nias Alami Stunting

Posted by On 15.01.00 with No comments

digtara.com | NIAS -  Sebanyak 1.579 orang anak berusia di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Nias mengalami cacat pertumbuhan (stunting). Jumlah itu mencapai 23 persen dari total balita yang ada di daerah tersebut.

"23 persen atau 1.579 dari 6000 balita yang telah didata mengalami stunting," kata Wakil Bupati Nias Arosokhi Waruwu seperti dilansir Antara, Sabtu (7/12/2019).

Arosokhi menuturkan, penanggulangan stunting dapat dilakukan melalui perbaikan pola asuh dan perbaikan pola makan. Lalu peningkatan akses air bersih dan sanitasi, serta fokus pada remaja dan ibu hamil sebagai upaya pencegahannya.

Menurutnya, yang sangat penting dalam penanggulangan stunting adalah edukasi kepada masyarakat. Utamanya edukasi terkait pemilihan nutrisi yang baik. Penyediaan sarana dan prasarana kebersihan yang merata di seluruh desa juga tak kalah pentingnya.

"Salah satu kunci pencegahan stunting adalah dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi baik," terangnya.

Tidak lupa dia mengungkapkan bahwa dalam mempercepat penurunan stunting di Kabupaten Nias ada dua intervensi yang dilakukan, yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif.

Intervensi spesifik adalah mengatasi penyebab langsung (kurang gizi dan penyakit) bersifat jangka pendek dan lebih banyak dikerjakan oleh bidang kesehatan.

Kemudian intervensi sensitif dengan mengatasi penyebab tidak langsung (kecukupan pangan dan mencegah infeksi), bersifat jangka panjang dan dikerjakan oleh semua pihak lintas sektor di luar kesehatan.

"Kita sangat mengharapkan dukungan dan peran semua pihak terkait untuk berkoordinasi dan bersinergi serta terpadu dalam melaksanakan berbagai upaya intervensi, sehingga percepatan penurunan stunting di Kabupaten Nias dapat tercapai," katanya.

[AS]
428 Anak di Malteng Alami Stunting

Posted by On 06.22.00 with No comments

digtara.com | AMBON - Sebanyak 428 anak di Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, tercatat mengalami gangguan pertumbuhan (stunting). Jumlah itu cukup signifikan dibandingkan daerah lainnya di Maluku.

Hal itu disampaikan oleh Duta Parenting Provinsi Maluku, Widya Murad Ismail, saat membuka pertemuan koordinasi terpadu dalam percepatan penurunan stunting dan gizi buruk di Kabupaten Malteng di Gedung PKK Malteng, Masohi, Rabu (20/11/2019).

"Untuk tahun 2019, sebanyak 428 balita mengalami stunting dari 11.688 balita di Malteng. Kemarin saya kunjungi Piliana dan Mosso di Kecamatan Tehoru karena menjadi locus (lokasi) kasus stunting. Di Piliana ada 16 anak stunting dari 90 balita. Sedangkan di Mosso ada 9 anak stunting dari jumlah 90 anak balita,"ujar Widya, Rabu (20/11/2019)

Widya mengatakan, dirinya langsung turun ke tiga kabupaten locus stunting di Maluku. Itu untuk memastikan, apakah posyandu serta puskesmas di setiap daerah locus sudah bergerak melakukan kegiatan pencegahan dan  percepatan penurunan angka stunting atau tidak.

Rencananya, tahun 2020 nanti, Widya juga akan turun ke lokasi-lokasi kasus stunting lainnya yakni di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku Tenggara, dan Maluku Barat Daya.

"Posyandu balita dan anak harus terus diaktifkan. Para ibu hamil juga perlu diberikan informasi penting terkait dengan stunting. Saya juga selalu menghimbau agar masyarakat senantiasa memperhatikan sanitasi lingkungan dan gizi anak," jelasnya.

Hanya saja, ia mengingatkan, tugas ini menjadi tanggungjawab semua pihak. Selain dinas teknis terkait, Tim Penggerak PKK di setiap kabupaten juga perlu menjadikan perang melawan stunting menjadi program kerjanya.

"Di Malteng ada sepuluh desa locus stunting, dan saya baru bisa turun di dua desa kemarin, yakni Piliana dan Mosso. Kalau bisa, Ina Parenting yang diketuai oleh Ibu Bupati, dapat turun ke desa-desa lainnya juga," imbuhnya.

 
SUMBER PROTEIN ALTERNATIF

Menurut Widya, seharusnya kasus stunting di wilayah Malteng bisa dicegah. Itu karena daerah tersebut subur dan memiliki kekayaan laut yang melimpah. Sehingga menjadi sumber protein bagi warganya. "Seharusnya di daerah ini angka stuntingnya rendah, bila perlu tidak ada karena banyak sumber protein yang bisa diperoleh. Misalnya dari ikan-ikan, atau dari umbi-umbian," sebutnya.

Dijelaskannya, stunting dapat terjadi sebagai akibat dari kekurangan gizi terutama pada saat seribu hari pertama kehidupan. Karena itu pemenuhan gizi dan pelayanan kesehatan pada ibu hamil, perlu mendapat perhatian.

"Stunting tidak hanya berpengaruh pada ukuran tinggi badan anak. Stunting juga berpengaruh pada tingkat kecerdasan, dan status kesehatan pada saatnya dewasa. Mereka akan cenderung menderita penyakit tidak menular seperti darah tinggi, kencing manis, jantung dan lainnya. Oleh karena itu, jangan kita terlambat mendeteksi dan memperbaiki kondisi ini," ajaknya.

 
PERANG MELAWAN STUNTING

Sementara itu, Bupati Malteng Tuasikal Abua mengatakan, perang melawan stunting sudah sejalan dengan komitmen pihaknya untuk terus mendukung program-program pemerintah di bidang kesehatan. Terkhususnya percepatan penurunan stunting dan gizi buruk, sebagaimana tertuang dalam RPJMD Kabupaten Malteng tahun 2017-2022.

Di samping itu, pelbagai kebijakan dan program-program inovasi OPD (organisasi perangkat daerah) seperti Messe, Manggurebe Sehat, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, dan Perdesaan Sehat, terus diarahkan untuk secepatnya dapat menurunkan prevalensi stunting dan gizi buruk di masyarakat yang tersebar di 18 kecamatan di Malteng.

"Saya berharap dengan pertemuan koordinasi ini, akan melahirkan rekomendasi dan komitmen bersama untuk mendukung tugas Duta Parenting Provinsi Maluku, untuk bersama-sama perangi stunting dan gizi buruk di seluruh Provinsi Maluku, terkhususnya di Kabupaten Malteng," tandasnya

[AS]