Popular Post

Total Pengunjung

Pemerintah Pastikan Ikan di Sumut Aman Dari Virus Kolera Babi

Posted by On 02.48.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memastikan jika ikan yang beredar di Sumut aman dari paparan virus kolera babi. Kepastian itu disampaikan untuk menjawab keresahan masyarakat pasca-penemuan bangkai babi di sungai-sungai yang ada di Sumut.

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumatera Utara, Mulyadi Simatupang, menyebut pihaknya telah mengambil sampel ikan dari Sungai Bederah dan Danau Siombak. Di Aliran Sungai dan Danau tersebut sebelumnya ditemukan ratusan ekor bangkai babi.

"Dari sampel itu, kita tidak temukan terpapar virus kolera babi," ujar Mulyadi di Medan, Rabu (20/11/2019).

Mulyadi Simaputang mengatakan itu di sela acara Lomba Masak Serba Ikan XIV Tingkat Provinsi Sumut Tahun 2019.

Oleh karena tidak tercemar, ujar Mulyadi, diharapkan masyarakat tidak khawatir mengkonsumsi ikan.

Mulyadi menjelaskan, ikan-ikan tersebut tidak tercemar karena tidak memakan bangkai babi.

"Seperti yang juga ditegaskan Menteri Kesehatan melalui Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, hog cholera hanya menular pada babi. Tidak menular kepada binatang lain dan manusia," katanya.

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi sebelumnya menyebutkan sudah meminta semua pihak terkait mengatasi masalah virus kolera babi itu. Termasuk memberi sanksi tegas kepada pelaku pembuang bangkai babi ke sungai.

"Kasus virus hog cholera dan dampaknya harus diselesaikan," katanya.

[ANT/AS]
Sore Ini, Bangkai Babi Terinfeksi Virus Hog Cholera akan Dikuburkan

Posted by On 21.14.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Menurut rencananya Pemko Medan untuk menguburkan secara massal terhadap ratusan ekor bangkai babi gagal akibat air pasang naik di kawasan Danau Siombak Jalan Pasar Nippon, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Senin (11/11/2019).

Akhirnya, penguburan akan dilaksanakan, Selasa (12/11/2019) sore ini. Penanganan bangkai Babi yang terinfeksi virus Hog Cholera mulai dilakukan tim gabungan dengan mengumpulkan secara massal bangkai Babi dari kawasan Danau Siombak dan Sungai Badera.

Sedangkan angka babi yang terjangkit dan mati akibat kolera babi ini terus bertambah. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, M Azhar Harahap menyebutkan kematian ternak Babi di Sumut mencapai 5800 ekor.

"Sesuai laporan terjadi di 11 kab/kota di Sumatera Utara dengan jumlah kematian sampai hari ini mencapai 5.800," ungkap Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumut, M Azhar Harahap kepada wartawan saat meninjau lokasi bangkai Babi di Danau Siombak.

Penguburan massal tersebut terkendala dengan peralatan yang minim serta lokasi yang berada di kawasan Danau Siombak yang dipenuhi hutan mangrove dan air pasang. Tim Unit Reaksi Cepat ini terdiri dari berbagai instansi terkait, fokus pencegahan dan penanganan peredaran virus Hog Cholera babi.

"Yang sudah berhasil dievakuasi 106 ekor bangkai babi dari Danau Siombak. Dilakukan penguburan massal terhadap bangkai Babi tersebut sehingga diharapkan tidak menganggu pencemaran lingkungan terhadap masyarakat di sekitar ini.

Dalam peninjauan tersebut, turut serta Balai Veteriner Medan, Dirjen Peternakan, Dinas Lingkungan Hidup Medan dan Sumut, BPBD Medan dan Sumut, dan lainnya.

Tim melakukan pemantauan dan pengumpulan bangkai Babi di Danau Siombak, Sungai Bedera dan sekitarnya. Tim sendiri menggunakan perahu karet untuk menyeberang ke lokasi. Tim juga membutuhkan eskavator amfibi untuk menuju ke lokasi dan mengali lubang.

"Bangkai sudah terkumpul tinggal menunggu eskavator amfibi untuk bisa menyeberang. Karena di sana akan digali lubang yang besar karena (jumlahnya) banyak, harus ada lubang besar," jelasnya.

Azhar menyebutkan, jika tim URC masih melakukan upaya penanganan kasus ini. Pengamatan, pencarian hingga penanganan bangkai Babi akan dilakukan dengan fokus di Sungai Bedera dan Danau Siombak.

"Langkah selanjutnya, BPBD dan Lingkungan Hidup, masih melakukan penanganan dan pengamatan serta pencarian terhadap bangkai babi yang masih ada dialiran sungai dan di Danau Siombak ini," jelasnya.

Sedangkan Kepala Balai Veteriner Medan, Drh H Agustia, MP mengatakan, langkah penanganan yang dilakukan sudah tepat. Upaya menguburkan bangkai Babi sebagai upaya pencegahan agar virus Hog Cholera tak menjangkiti babi lainnya.

"Apa yang kita lakukan hari ini, adalah langkah yang tepat. Sehingga tidak mencemari lingkungan bagi warga sekitar dan tidak menularkan penyakit pada ternak lain," ucapnya.

Soal virus African Swine Fever (ASF), Agustia menegaskan, kasus tersebut tak ditemukan di Indonesia. Namun, penanganan Babi yang terinfeksi babi kolera ini semestinya dikubur.

"Ini salah satu hal yang kita lakukan. Bahwasanya, untuk pengamanan lingkungan ternak tidak boleh dibuang ke sungai, tidak boleh dibuang ke hutan. Meskipun kita belum ada ASF. Kita tidak berlaku untuk mengatakan skalanya, kita dengan siaga satu," pungkasnya.

Terkait pembuangan bangkai babi yang telah mencemari lingkungan, Kapolsek Medan Labuhan, AKP Edy Safari saat ditemui wartawan mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dit Krimsus Polda Sumut untuk menindak lanjuti tersangka yang membuang bangkai Babi ke alur sungai dan bisa menimbulkan penyakit. Ucapnya.

"Polisi masih melakukan penyelidikan terhadap orang-orang yang membuang bangkai Babi ke sungai. Kita juga lidik ke peternakan di Tanjung Gusta dan Percut Seituan. Ini masuk pencemaran lingkungan hidup, ancaman di atas 10 tahun penjara," ujar Kapolsek.
Pemerintah Mulai Bersihkan Bangkai Babi dari Danau Siombak

Posted by On 01.17.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama Pemerintah Kota Medan dibantu masyarakat, mulai mengevakuasi ratusan bangkai babi yang mengapung di Danau Siombak, Kecamatan Medan Marelan, Senin (11/11/2019).

Petugas mengevakuasi bangkai dengan menggunakan kait besi yang ditarik dengan speedboat. Bangkai babi yang ditarik kemudian dikumpulkan di satu titik di tepi Danau Siombak.

“Hingga siang ini sudah dilakukan evakuasi terhadap 106 bangkai babi dari Danau Siombak ini," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap, seperti dilansir Antara.

Bangkai babi yang sudah dievakuasi ini, lanjut Azhar, akan dikuburkan. Penguburan ini dilakukan guna mengantisipasi pencemaran lingkungan.

“Penguburan akan dilakukan di Pulau Kecil yang berada di Danau Siombak,”jelasnya.

Sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara mencatat ada 11 Kabupaten/Kota yang terkena wabah virus hog cholera. Yaitu Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Samosir.

[AS]
Pencemaran Bangkai Babi, Pemkot Medan Bentuk Tim Terpadu

Posted by On 03.13.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Pemerintah Kota Medan membentuk tim terpadu  untuk menangani pencemaran bangkai babi di Sungai Bederah, Medan Marelan.

Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution, mengatakan, hari ini mereka telah menggelar rapat pembentukan tim terpadu tersebut.

"Saya sudah menginstruksikan seluruh jajaran terkait. Khususnya tim terpadu, untuk menangani persoalan bangkai babi ini dengan serius," tegasnya seusai memipin rapat, Minggu (10/11/2019),

Perhatian serius diberikan karena Pemkot tidak ingin masalah ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Apalagi pemkot sudah memastikan temuan bangkai-bangkai babi yang hanyut di Sungai Bederah dan pencemaran yang ditimbulkannya.

Hal pertama yang harus dilakukan segera oleh tim terpadu adalah membersihkan kembali sungai tersebut dari bangkai babi, sampah dan kotoran lainnya. Selain itu, tim terpadu juga akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat, kepolisian dan pihak-pihak terkait lain. Khususnya dalam upaya mencari tahu siapa pelaku pembuang bangkai-bangkai tersebut ke sungai dan apa motifnya.

"Kami yakin bahwa pelaku dengan sengaja membuang bangkai-bangkai itu ke sungai," imbuh Akhyar.

Selain pencemaran kandungan air, sampai sekarang aroma busuk dari bangkai juga masih merebak. Khususnya di kawasan pinggiran sungai yang banyak didiami warga.

Tim terpadu itu juga ditugaskan untuk melakukan langkah-langkah antisipatif agar pencemaran tidak meluas. Termasuk untuk mengantisipasi kembali dilakukannya pembuangan bangkai hewan ke sungai.

Salah satu bagian dari tim tersebut adalah dari unsur Dinas Kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Edwin Effendi mengaku pihaknya akan menerjunkan tim untuk menyosialisasikan dampak serta upaya pencegahan akibat bangkai babi yang diduga terjangkit virus kolera tersebut.

Tim ini memberikan pendampingan kepada  pihak kecamatan dalam penanganan dampak dari pencemaran ini, terutama gangguan kesehatan.

[AS]
PDAM Tirtanadi Pastikan Sumber Air Mereka Bebas Dari Kontaminasi
Bangkai Babi

Posted by On 02.06.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - PDAM Tirtanadi memastikan sumber pasokan bahan baku airair air mereka tidak dilintasi ratusan bangkai babi. Kepastian itu disampaikan dalam merespon keresahan pasca-penmeuan ratusan bangkai babi di sungai yang melintasi Kota Medan dalam tiga hari terakhir.

M Adenin Ginting, Plt. Kabid Komunikasi dan Informasi PDAM Tirtanadi, mengatakan pihaknya telah dan masih melakukan pemantauan khusus terhadap sejumlah sumber bahan baku air bersih milik mereka yang ada di Kota Medan dan sekitarnya.

"Dari hasil pantauan tersebut saat ini kami pastikan tidak ada bangkai babi yang melintasi sumber bahan baku," ujarnya, Rabu (6/11/2019).

Dia jelaskan, Tirtanadi memiliki enam Instalasi Produksi Air Bersih (IPA) yang berada di Kota Medan dan sekitarnya. Yakni IPA Sibolangit, IPA Delitua, IPA Sunggal, IPA Limau Manis, IPA Hamparan Perak dan IPA Belumai.

Namun dari keenam IPA tersebut tidak ada satupun mengambil bahan baku dari sungai yang dilintasi bangkai babi, khususnya sungai Bederah. Dengan kata lain, sungai Bederah di Kecamatan Medan Marelan tidak menjadi salah satu sumber bahan baku air bersih yang digunakan Tirtanadi.

Seperti diketahui, dalam tiga hari terakhir terdapat ratusan bangkai babi hanyut di sungai Bederah. Selain itu, bangkai-bangkai babi juga ditemukan di sejumlah kawasan lain, yakni Sungai Babura, obyek wisata Danau Siombak dan TPA Terjun.

Selain tidak menjadi sumber bahan baku, sungai-sungai dan kawasan tersebut bahkan memiliki bagian aliran air yang berbeda. Dan secara teknis, bila sumber-sumber bahan baku air dimasuki bangkai hewan, termasuk babi, maka instalasi tidak dapat beroperasi.

Itu karena air yang berada di kawasan sumber bahan baku dialirkan ke dalam instalasi. Sehingga bila ada material besar, seperti bangkai, dalam jumlah banyak tersedot masuk maka proses pengolahan akan berhenti.

Namun demikian, Tirtanadi masih terus melakukan pemantauan secara khusus hingga persoalan ini benar-benar diselesaikan pihak berwenang. Dan sudah dapat dipastikan darimana bangkai-bangkai babi itu berasal.

[AS]
Ratusan Bangkai Babi Ditemukan di Sungai Bederah di Medan

Posted by On 05.05.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Ratusan bangkai babi ditemukan membusuk di aliran Sungai Bederah, di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (5/11/2019).

Keberadaan bangkai babi itu pun membuat aktifitas warga, lantaran aroma busuk yang menyengat dari ratusan bangkai tersebut.

“Sudah ada laporan penemuan bangkai babi ini sejak Sabtu kemarin. Sampai hari ini jumlah yang ditemukan semakin banyak. Ada ratusan,”sebut Camat Medan Marelan, M Yunus, Selasa (5/11/2019).

Yunus menyebutkan, ratusan bangkai itu bukan berasal dari warganya. Karena di wilayahnya tak ada warga yang beternak babi.

“Bangkai babi ini berasal dari wilayah kabupaten lain di Sumatera Utara. Sampai ke tempat kita lantaran terbawa aliran Sungai Bederah,”tukasnya.

Yunus mengatakan dirinya sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Peternakan Kota Medan dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan. Dia juga menyebut Kepolisian sudah bersiaga untuk menangkap pihak yang membuang bangkai babi ke sungai.

"Polisi sudah bersiaga terus di tempat-tempat rawan mungkin oknum-oknum buang bangkai (babi) ke sungai," jelas Yunus.

Bangkai babi yang ada di sungai itu diangkat dan dikuburkan di tanah. Namun, tak semua bangkai babi yang bisa diangkat karena ada yang sudah hancur akibat terlalu lama di air.

"Kita pinggirkan, kita cari yang sanggup mengangkat. Itu kondisinya sudah empat hari mati. Susah, mau ditarik aja sudah melebur, sudah lembek, ada juga yang tarik ke darat. Yang sangkut sangkut kita alirkan itu antisipasi kita," jelas Yunus.

Dia menegaskan akan membawa oknum pembuang bangkai babi ke Sungai Bederah ke ranah hukum. Tak hanya di Sungai Bederah, bangkai babi juga ditemukan di kawasan Danau Siombak, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan.

[AS]