Popular Post

Total Pengunjung

Harga Minyak Global Naik Tipis

Posted by On 18.12.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Sejak awal pekan ini, harga minyak melanjutkan penguatan tipis. Sedangkan di perdagangan Selasa (24/12) pukul 7.30 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 60,59 per barel, naik tipis ketimbang harga penutupan perdagangan kemarin pada US$ 60,52 per barel.

Harga minyak telah menguat 24,62% sepanjang tahun ini. Sejumlah penopang harga minyak pada akhir tahun ini antara lain rencana pemangkasan produksi OPEC+ hingga akhir kuartal pertama 2020. Selain itu, Arab Saudi menekan Irak untuk mematuhi komitmen pemangkasan hingga tahun depan.

Kenaikan harga minyak dalam dua hari berturut-turut ini juga dipicu oleh rencana pemangkasan tarif impor China atas berbagai produk, termasuk makana dan suku cadangan produk telepon pintar.

Rusia mengatakan bahwa OPEC+ kemungkinan akan melonggarkan pemangkasan pada tahun depan. Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan bahwa keputusan ini mungkin akan terjadi pada pertemuan Maret 2020.

"Kami bisa mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk pelonggaran kuota secara bertahap atau melanjutkan pemangkasan," kata Novak seperti dikutip Reuters. Novak menambahkan bahwa produksi minyak Rusia berpeluang mencetak rekor tertinggi pada tahun ini.

Sementara pasokan minyak non-OPEC diprediksi naik pada tahun depan karena kenaikan produksi dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat (AS), Brasil, Norwegia, dan Guyana.

Pasokan juga berpotensi bertambah setelah Kuwait mengindikasikan bahwa perselisihan panjang pada Zona Netral yang terletak di perbatasan dengan Saudi akan rampung pada akhir 2019. Produksi di dua ladang minyak besar di Zona Netral dihentikan lebih dari tiga tahun lalu. Hal ini menyebabkan penurunan produksi global sebesar 500.000 barel per hari.

"Harga minyak masih moderat setelah penurunan akibat pernyataan Kuwait dan Saudi soal produksi di perbatasan. Tapi, harga minyak WTI dan Brent bisa bertahan di atas masing-masing US$ 60 dan US$ 65 hingga beberapa pekan Januari," kata Edward Moya, senior market analyst OANDA
Harga Minyak Terkoreksi Pagi Ini

Posted by On 18.41.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Setelah kemarin melaju kencang. Rabu (18/12) pukul 7.19 WIB harga minyak pagi ini turun. harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 60,58 per barel, turun 0,59% ketimbang harga penutupan perdagangan kemarin.

Selasa (17/12) kemarin, harga minyak WTI melesat 1,21% ke US$ 60,94 per barel. Ini adalah harga tertinggi minyak WTI sejak setelah serangan fasilitas minyak Saudi Aramco pertengahan September lalu.

Harga minyak brent bahkan mencapai level tertinggi yang lebih jauh. Kemarin, harga minyak brent untuk kontrak Februari 2020 di ICE Futures berada di US$ 66,10 per barel, naik 1,16% dari hari sebelumnya.

Harga minyak acuan internasional ini mencapai level tertinggi sejak 23 Mei 2019. Kenaikan harga minyak ini masih dipicu sambutan pasar atas kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China setelah perselisihan selama 17 bulan.

Baca Juga: Tertekan dalam dua tahun terakhir, IHSG berpotensi moncer pada 2020

Presiden The Fed Dallas Robert Kaplan mengatakan bahwa kesepakatan fase satu tidak berarti tensi akan hilang sama sekali dalam waktu dekat. "Fase satu lebih baik daripada tidak ada fase satu. Bukan berarti sudah tidak ada ketidakpastian perdagangan," kata Kaplan seperti dikutip Reuters.

Dia memperkirakan, proses penyelesaian masalah dagang dengan China akan berlangsung bertahun-tahun.

Di sisi lain, pasar minyak memandang positif tambahan pemangkasan produksi oleh OPEC+. Negara-negara pengekspor minyak ini akan menambah pemangkasan sebesar 500.000 barel per hari mulai Januari.

Sehingga total pemangkasan produksi di kuartal pertama tahun depan akan mencapai 1,7 juta barel per hari. "Kombinasi kenaikan minat risiko dan pemangkasan produksi OPEC+ yang lebih tinggi daripada prediksi akan menjaga permintaan sehingga membatasi penurunan harga," kata Jim Ritterbusch presiden Ritterbusch and Associates kepada Reuters.

Dari AS, American Petroleum Institute melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 4,7 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Desember. Analis dalam polling Reuters memperkirakan penurunan persediaan minyak 1,3 juta barel.

Data yang meleset inilah yang menyebabkan harga minyak koreksi pada pagi ini. Data resmi pemerintah AS akan dirilis pada hari ini.
Harga Minyak Menguat Tipis Setelah Kemarin Merosot

Posted by On 17.42.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Kamis (12/12/2019) pukul 7.17 WIB harga minyak menguat tipis setelah kemarin merosot. Di mana harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange naik 0,24% ke US$ 58,90 per barel.

Pergerakan harga minyak masih menunggu kabar negosiasi dagang Amerika Serikat (AS)-China. Menurut sumber Reuters, Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan bertemu dengan penasihat ekonomi dan perdagangan tertinggi hari ini untuk mendiskusikan kelanjutan penerapan tarif impor US$ 156 miliar dari China yang akan berlaku 15 Desember.

Sumber Reuters menyebut, pertemuan ini akan melibatkan US Trade Representative Robert Lighthizer, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, dan penasihat Gedung Putih Larry Kudlow dan Peter Navaro. Seorang sumber mengatakan bahwa kelanjutan penerapan tarif impor pada 15 Desember akan menggoyahkan negosiasi dagang AS-China untuk mengakhiri perang dagang yang telah berlangsung 17 bulan.

Kenaikan harga minyak hari ini pun merupakan pembalian dari transaksi kemarin. Rabu (11/12), harga minyak acuan AS ini melorot 0,81% dari hari Selasa yang masih ada di US$ 59,24 per barel. Penurunan harga minyak ini terjadi setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa terjadi kenaikan persediaan minyak mentah.

Menurut data EIA, stok minyak mentah naik 822.000 barel pada pekan lalu. Angka ini jauh berbeda dari prediksi polling Reuters yang meramalkan penurunan persediaan hingga 2,8 juta barel.

Dengan total persediaan 447,9 juta barel, stok minyak sekitar 4% lebih tinggi dari rata-rata pekan pertama Desember lima tahun terakhir. Meski stok minyak naik, persediaan minyak di Cushing, Oklahoma yang merupakan pusat pengiriman WTI, turun 3,4 juta barel pekan lalu. Ini adalah penurunan terbesar sejak Februari 2018.

Sementara persediaan bensin dan distilat melonjak. Stok bensin melesat 5,4 juta barel. Sementara distilat yang termasuk solar dan heating oil naik 4,1 juta barel, lebih dari dua kali lipat prediksi analis.

"Data inventaris agak bearish jika kita mempertimbangkan penurunan operasional penyulingan dan penurunan permintaan bensin," kata John Kilduff, partner Again Capital kepada Reuters.

Phil Flynn, senior energy analyst Price Futures Group mengatakan bahwa badai musim dingin yang menyebabkan salju tebal di sejumlah negara bagian AS berdampak pada penurunan permintaan bensin sehingga stok meningkat.

"Mobil-mobil diparkir dan ada penurunan permintaan. Tapi ini hanya gejolak yang terjadi sekali," kata Flynn.
Harga Minyak Global Masih Tertahan Negosiasi Perang Dagang

Posted by On 18.36.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Rabu (11/12) pukul 7.17 WIB harga minyak turun lagi setelah menguat sehari. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 59,08 per barel, turun 0,27% dari harga penutupan perdagangan kemarin.

Meski turun, harga minyak jenis light sweet ini cenderung stagnan sejak akhir pekan lalu. Rencana tambahan pemangkasan OPEC yang disepakati pekan lalu tidak mampu mengangkat harga minyak lebih tinggi. Pasar komoditas energi masih dibayangi negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang belum menunjukkan kejelasan.

Pekan lalu, OPEC+ menyepakati tambahan pemangkasan produksi sebesar 500.000 barel per hari yang akan berlaku hingga Maret 2020. Dengan tambahan ini, total pemangkasan produksi OPEC+ mencapai 1,7 juta barel per hari.

Gene McGillian, director of market research Tradition Energy mengatakan, setelah para produsen mengumumkan pemangkasan, pasar minyak bergerak sedikit di bawah level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. "Tapi tanpa kesepakatan dagang AS-China, harga minyak sulit terangkat dalam reli baru," kata dia kepada Reuters.

Menteri Pertanian AS Sonny Perdue mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak ingin mengimplementasikan tarif impor baru. Tapi, dia ingin ada upaya China untuk menghindari tarif ini.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa kedua pihak tengah menyusun dasar kesepakatan untuk menunda pengenaan tarif baru yang akan berlaku 15 Desember. Sementara itu, tingkat impor China terhadap komoditas utama AS yang meninggi, menunjukkan bahwa pengucuran stimulus oleh pemerintah telah membuahkan hasil.

American Petroleum Institute (API) akan merilis data persediaan minyak mentah. Selain itu, bank sentral AS Federal Reserve akan mengakhiri rapat FOMC nanti malam.
Minyak Brent Berjangka Turun 14 Sen

Posted by On 17.09.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Senin (9/10) kemarin harga minyak dunia turun, setelah data menunjukkan ekspor China turun selama empat bulan berturut-turut.

Mengirim kegelisahan ke pasar yang sudah khawatir tentang terganggunya permintaan global akibat perang perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Berdasarkan data CNBC, minyak Brent berjangka turun 14 sen, atau 0,22%, menjadi US$ 64,25 per barel setelah naik sekitar 3% pekan lalu di tengah berita bahwa OPEC dan sekutunya akan memperdalam penurunan produksi.

Sedangkan, minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 18 sen atau 0,3% menjadi US$ 59,02 per barel. Pekan lalu, WTI naik sekitar 7% pada prospek untuk produksi yang lebih rendah dari OPEC +, yang terdiri dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen terkait termasuk Rusia.

Turunnya harga minyak setelah data pabean China merilis data ekspor pada November turun 1,1% dari tahun sebelumnya.

"Bahwa data perdagangan China merupakan faktor, tentu saja," kata John Kilduff, partner di Again Capital.
Harga Minyak Dunia Merangkak Naik

Posted by On 20.03.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Menjelang pertemuan negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan sekutunya membahas perpanjangan pembatasan produksi minyak. Harga minyak dunia merangkak naik pada perdagangan Rabu (4/12).

Mengutip Bloomberg, pukul 9.43 WIB, minyak Brent pengiriman Februari 2020 ke level US$ 61,18 per barel atau naik 0,59%. Setelah sesi sebelumnya turun 0,16%.

Senasib, minyak West Texas Intermediate (WTI) ke level US$ 56,41 per barel atau naik 0,55%. Setelah pada sesi sebelumnya naik 0,25%.

OPEC dan sekutu yang mencakup Rusia atau OPEC + sedang bersiap menyetujui pemangkasan produksi minyak mentah pekan ini.

Thamer Ghadhban, menteri perminyakan Irak, mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa di Wina bahwa "pengurangan yang lebih dalam produksi minyak disetujui oleh sejumlah anggota kunci".

Tetapi masih ada beberapa keraguan di pasar mengenai apakah OPEC akan memangkas produksi lebih lanjut. Banyak analis hanya mengharapkan perpanjangan dari pemotongan yang ada saat ini.

"Kami ... berpikir OPEC dapat mengumumkan perpanjangan untuk memasok pengurangan untuk mencakup seluruh tahun 2020 daripada tiga hingga enam bulan yang menjadi faktor dalam pasar saat ini," tulis BNP Paribas Markets dalam sebuah catatan.

Asal tahu, anggota OPEC bertemu pada hari Kamis (5/12) dan kemudian pada hari Jumat (6/12) kelompok OPEC + bertemu. OPEC + telah membatasi pasokan minyak sejak 2017.
Jelang Akhir Pekan, Harga Minyak Menguat Tipis

Posted by On 18.26.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Menjelang akhir pekan ini. Jumat (29/11/2019) pukul 7.15 WIB harga minyak menguat tipis. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 58,13 per barel.

Pada Rabu (27/11/2019) lalu harga minyak ini naik tipis ketimbang posisi US$ 58,11 per barel. Kemarin, bursa Amerika Serikat (AS) tutup untuk libur Thanksgiving. Sementara di perdagangan Asia dan Eropa kemarin, harga minyak cenderung dan ditutup turun tipis.

Harga minyak brent untuk pengiriman Januari 2020 di ICE Futures kemarin tercatat turun 0,39% ke US$ 63,87 per barel.

"Persetujuan legislasi Hong Kong yang mendukung demonstran tampaknya akan menempatkan kesepakatan dagang dalam pertanyaan, karena China menekankan akan membalas," kata Hussein Sayed, chief market strategist FXTM kepada Reuters.

Sayed mengatakan, jika investor menduga bahwa kesepakatan dagang akan benar-benar terancam, bisa terjadi aksi jual besar-besaran pada bulan Desember. "Saat ini, investor lebih suka menunggu," kata dia.

China kemarin mengatakan akan mengambil tindakan balasan setelah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan legislasi yang mendukung demonstran anti-pemerintah di Hong Kong.

Sementara itu, data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 1,6 juta barel pada pekan lalu. Produksi minyak pun mencapai rekor tertinggi pada 12,9 juta barel per hari.

Phil Flynn, analis Price Futures Group mengatakan bahwa aksi jual yang terjadi kemarin merupakan tindakan reaktif yang berlebihan. "Ekonomi AS secara umum cukup bagus dan ini seharusnya bisa memperbaiki permintaan selanjutnya," kata Flynn.

Apalagi, musim dingin sudah dimulai dan badai musim dingin mulai melanda dan menaikkan permintaan solar. Pekan depan, investor akan mencermati arah kebijakan OPEC+. "Kami memperkirakan OPEC+ melanjutkan kesepakatan pemangkasan produksi antara tiga hingga enam bulan dari tenggat waktu awal Maret 2020," kata Giovanni Staunovo, analis minyak UBS kepada Reuters.

Perusahaan-perusahaan minyak Rusia mengajukan untuk tidak mengubah kuota produksi hingga akhir Maret. Hal ini bisa menekan OPEC+ untuk menghindari perubahan kebijakan yang besar.