Popular Post

Total Pengunjung

2020, Diramalkan Masih akan Ada Perang Dagang Lanjutan

Posted by On 01.10.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Tahun 2019 menjadi tahun yang kurang begitu baik bagi Sumut. Pasalnya laju pertumbuhan ekonomi Sumut belakangan terus mengalami perlambatan. Terjebak dalam besaran angka 5%. Demikian dikatakan, Pengamat Ekonomi Sumut kepada wartawan hari ini.

"Saat ini laju pertumbuhan ekonomi Sumut di kuartal ke 3 tahun 2019 sebesar 5.11% YoY. Laju pertumbuhan ekonomi Sumut yang walaupun lebih tinggi dibandingkan dengan rata rata nasional. Akan tetapi perlambatan di tahun ini memberikan dampak pukulan yang cukup terasa bagi warga Sumut," katanya.

Dia menjelaskan pada dasarnya pertumbuhan ekonomi Sumut di tahun 2019 yang melambat tidak terlepas dari masalah perlambatan yang sudah mulai terjadi sejak pertengahan tahun 2018 silam. Tekanan ekonomi global akibat dampak dari perang dagang menjadi salah satu pemicu melambatnya pertumbuhan ekonomi Sumut.

"Di tahun 2018 akhir, bahkan sudah mulai terasa sekali penurunan harga komoditas Sumut yang menjadi unggulan industri yang ada di Sumatera Utara. Sejumlah Industri pengolahan di Sumut masih didominasi oleh bahan baku sawit maupun karet sebagai bahan utama penggerak roda industri pengolahan," ungkapnya.

Sayang sekali, industri di Sumut menghadapi tantangan yang tak kalah serius yakni mengalami perlambatan pertumbuhan di tahun 2019 ini. Padahal industri pengolahan yang termasuk dalam industri manufaktur memberikan andil yang besar dalam pengentasan angka kemiskinan di wilayah sumatera utara.

Dia menjelaskan untuk realisasi laju tekanan inflasi, Sumut pada dasarnya masih mampu merealisasikan inflasi sesuai dengan target sasaran bahkan dalam rentang angka sasaran yang paling kecil. Jika sebelumnya sejak awal tahun 2019 hingga Agustus laju tekanan inflasi Sumut terbilang sangat besar. Akan tetapi, di November inflasi Sumut berdasarkan tahun berjalan menjadi 2.5%-an saja.

Padahal inflasi Sumut sempat di atas 5% di tahun ini. Menjelang akhir tahun realisasi inflasi Sumut mulai menunjukan angka yang menggembirakan dan sesuai dengan target Bank Indonesia. Ini menjadi kabar sekalipun hadiah setelah sebelumnya kita sempat pesimis dengan perkembangan inflasi yang jauh diatas target sasaran BI.

"Akan tetapi di tahun depan kita tetap memiliki sejumlah tantangan yang tak kalah berat dibandingkan dengan tahun ini. Beberapa diantaranya adalah ketergantungan Sumut terhadap ekonomi eksternal yang membuat Sumut sangat rawan dihantam gejolak harga komoditas. Tren perkembangan ekonomi global saat ini menghadapi tekanan dari masih berkecamuknya perang dagang, dan gejolak harga minyak mentah dunia sehingga mempengaruhi harga komoditas dunia lainnya," tegasnya.

Tahun 2020 diperkirakan masih akan ada perang dagang lanjutan, ditambah ketidakpastian kondisi politik di AS yang akan menyelenggarakan Pemilu. Selanjutnya masih ada ancaman inflasi yang potensial menggerus daya beli masyarakat. Kita tahu bahwa Sumut masih kerap kedodoran dalam mengendalikan harga cabai. Walaupun inflasi dari cabai ini juga banyak faktor yang mempengaruhi.
Perang Dagang Dongkrak Wall Street

Posted by On 17.56.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Indeks S&P 500 juga mencatat kenaikan persentase mingguan terbesar sejak awal September 2019 setelah data menunjukkan peningkatan belanja konsumen dan investor optimistis tentang perkembangan perdagangan Amerika Serikat (AS)-China.

Bursa saham Wall Street kembali mencapai rekor penutupan tertinggi pada Jumat (20/12). di mana Presiden AS Donald Trump mengklaim kemajuan dalam isu-isu perdagangan setelah berbicara dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Ini menghilangkan kekhawatiran akan eskalasi lain dalam perang dagang antara kedua negara.

Jumat (20/12), indeks Dow Jones Industrial Average naik 78,13 poin atau 0,28% menjadi 28.455,09, indeks S&P 500 naik 15,85 poin atau 0,49% ke 3.221,22. Sedangkan indeks Nasdaq Composite menguat 37,74 poin atau 0,42% menjadi 8.924,96.

Indeks S&P 500 juga mencapai level tertinggi intraday ketujuh berturut-turut ke rekor tertinggi harian intraday sejak Oktober 2017. Sementara indeks Nasdaq naik untuk sesi kedelapan berturut-turut.

"Saat ini cenderung menjadi penarik bagi pasar," kata Walter Todd, kepala investasi di Greenwood Capital Associates di Greenwood, Carolina Selatan, yang membantu mengelola dana sekitar US$ 950 juta.

Belanja konsumen yang menjadi kunci pertumbuhan ekonomi AS dan fokus utama bagi investor, naik 0,4% pada November 2019. Ini menambah serangkaian data optimistis yang telah membantu meredam kekhawatiran resesi ekonomi AS, yang melanda pasar awal tahun ini.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai tertinggi dalam satu tahun. Sekitar 11,53 miliar saham berpindah tangan pada Jumat (20/12).

Harga saham Nike Inc turun 1,2% setelah pembuat pakaian olahraga terbesar di dunia melaporkan pertumbuhan pendapatan yang lebih rendah dari perkiraan dari Amerika Utara.

Sementara harga saham emiten operator pelayaran yang dipimpin Carnival Corp melonjak 7,6% setelah memperkirakan laba tahun 2020 yang sebagian besar di atas perkiraan.

Di sisi lain, harga saham AS Steel Corp anjlok 10,8% setelah perusahaan itu memperkirakan kerugian kuartal keempat 2019 yang lebih besar dari perkiraan.
Pergerakan Rupiah Masih Disetir Perang Dagang

Posted by On 17.03.00 with No comments

digtara.com |MEDAN – Pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah, linier dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga bergerak positif. Namun sentimen penggerak Rupiah, utamanya masih didominasi oleh sentimen perang dagang antara China dan Amerika Serikat.

Kurs rupiah di pasar spot menguat 0,21% ke Rp 14.038 per dollar Amerika Serikat (AS). Dalam sepekan, posisi rupiah sudah naik 0,49%.

Serupa, kemarin kurs tengah rupiah Bank Indonesia (BI) juga terapresiasi 0,40% ke Rp 14.037 per dollar AS. Alhasil, dalam seminggu terakhir, posisinya juga terkerek 0,46%.

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, nilai tukar rupiah sempat tertekan di awal pekan karena pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan negosiasi dagang akan berlanjut hingga tahun depan.

"Tetapi pernyataan delegasi dagang kedua negara yang positif kembali menjadi sentimen positif bagi mata uang emerging market seperti rupiah," kata dia, kemarin. Pelaku pasar pun lebih percaya diri untuk masuk kembali ke pasar keuangan dalam negeri.

Posisi rupiah bertambah aman setelah data cadangan devisa periode November masih mencapai US$ 126,6 miliar. Posisi ini turun tipis dibandingkan cadangan devisa Oktober yang sebesar US$ 126,7 miliar.

Tetapi ekonom dari Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih mengingatkan, peluang rupiah kembali melemah pekan depan tetap terbuka. Mengingat secara historis, kebutuhan mata uang AS tersebut di periode Desember cenderung meningkat.

"Di Desember biasanya ada kewajiban pembayaran utang serta ada kebutuhan akhir tahun," lanjut dia seperti dilansir Kontan, Sabtu (7/12/2019).

Karena itu, Lana memperkirakan, kurs rupiah di pekan depan akan bergerak dalam rentang Rp 14.100-Rp 14.200 per dollar AS. Sedangkan menurut perhitungan David, kurs rupiah akan bergerak dengan kisaran Rp 14.000-Rp 14.100 per dollar AS.

[AS]
Awal Pekan, IHSG Ditutup Melemah ke Level 6.122,62

Posted by On 02.25.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melemah tipis 0,09% ke level 6.122,62 pada penutupan awal pekan, Senin (18/11/2019).

Analis pasar modal, Gunawan Benjamin meyebutkan, kinerja indeks bursa saham masih diselimuti oleh buruknya sentimen yang berkembang belakangan ini. Dimana aksi protes di Hongkong yang masih berlanjut menjadi salah satu pemicu buruknya kinerja indeks saham.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah terpantau stabil dikisaran 14.078 per dolar amerika (USD).

Baik USD dan IHSG diperdagangkan stabil dengan kecenderungan mengalami pelemahan. Kinerja pasar keuangan dipekan ini masih akan dihantui oleh beberapa poin penting. Pernyataan sejumlah pejabat bank sentral akan menjadi isu penting yang dipergunakan dalam perhitungan investasi dalam jangka menengah.

“Tetapi, kondisi akan semakin buruk, seandainya sejumlah pejabat bank sentral seperti ECB dan The FED justru melontarkan pernyataan yang bernada buruk terkait perkembangan ekonomi terkini. Disisi lain, isu perang dagang masih akan menjadi isu utama yang menjadi tolak ukur bagi pelaku pasar dalam membuat keputusan investasinya,”tandasnya.

[AS]