Popular Post

Total Pengunjung

Maluku Ekspor Udang ke China Senilai USD1,15 Juta

Posted by On 05.03.00 with No comments

digtara.com | AMBON – Kegiatan ekspor udang dari Ambon kembali menggeliat. Sebanyak 12 kontainer atau sekitar 214 ton udang senilai USD.1,15 juta dolar di ekspor ke China.

Eksportasi dilakukan oleh PT wahana Lestari Investama (WLI) yang operasionalnya berpusat di Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah. Ekspor perdana tersebut dilaksanakan Senin (10/12/2019).

“Ini ekspor perdana udang setelah perusahaan ini vakum selama kurang lebih tiga tahun," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Maluku, Elvis Pattiselano kepada digtara.com

PT WLI didirikan tahun 1994 dan mulai dioperasikan tahun 1995. Unit pengelolaan dan budidaya ini masuk kategori penanaman modal asing (PMA) yang sudah beberapa kali mengalami perubahan manajemen dan kepemilikan.

Terakhir kali, peralihan manajemen dan kepemilikan saham terjadi pada bulan Mei 2019. Artinya, kurang lebih tujuh bulan perusahaan ini menggandeng investor baru yakni dari China untuk kembali beroperasi.
PROFIL PT WLI

Perusahaan yang berada di utara Pulau Seram ini memilili tiga lokasi industri masing-masing di kawasan budidaya udang terpadu (unit hatchery) di Wahai, kawasan tambak udang intensif di Pasahari, dan kawasan industri udang di Oping (Arara).

Luas kolam eksisting di Tambak Oping yakni 258,22 hektar dengan jumlah kolam sebanyak 360 unit. Untuk luas kolam eksisting di Tambak Pasahari yakni 125,22 hektar, dengan jumlah kolam sebanyak 150 unit. Sementara unit di Wahai dikhususkan buat pembenihan dan pemijahan bibit (benur) udang, termasuk untuk pengolahan.

WLI awalnya memproduksi udang jenis Black Tiger untuk memenuhi pasar ekspor. Sejak pengalihan pemilik baru dari investor asal Jepang ke China, jenis udang yang dikembangkan dan dibudidaya adalah jenis Vaname. Untuk jenis ini, pasar dunia meminta udang dari PT. WLI dengan ukuran 50-60 ekor per kilogram (tanpa kepala).

Dalam kondisi normal, dari jumlah kolam tambak produktif mampu menghasilkan udang sebanyak 2000 ton per bulan. Untuk pembenihan, kapasitas hatchery-nya mencapai 150 juta ekor per bulan. Sedangkan pabrik pengolahan yang dimiliki PT. WLI mampu memproduksi udang sebanyak 100 ton per hari. Fasilitas yang dimiliki perusahaan juga antara lain pabrik es berkapasitas 180 ton per hari, dan cold storage dengan kapasitas 3000 ton.

Pattiselano mengatakan, meskipun baru beroperasi lagi kurang dari tujuh bulan ini, PT. WLI sudah mampu melakukan ekspor ratusan ton udang.

"Ekspor udang yang dilakukan hari ini sebanyak 12 kontainer berisi 14.280 karton dengan total nilai USD 1,15 juta dengan negara tujuan China," ungkapnya.

Lebih lanjut dia katakan, pada akhir bulan Desember 2019 akan dilakukan kembali ekspor udang tahap dua sebanyak 15 kontainer.

[AS]
Realisasi Ekspor Sumut Turun 13,03 Persen

Posted by On 03.18.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Realisasi ekspor Sumatera Utara hingga Oktober 2019, tercatat sebesar 6,448 miliar Dolar Amerika Serikat (USD). Jumlah itu turun sekitar 13 persen jika dibandingkan periode yang Januari-Oktober 2018 yang telah mencapai USD 7,414 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, Syech Suhaimi menyebutkan, penurunan kinerja ekspor ini terjadi akibat melemahnya permintaan pasar dunia. Itu terjadi seiring masih terjadinya krisis ekonomi global serta dampak dari perang dagang antara China dan Amerika Serikat.

“Permintaan yang menurun berdampak negatif terhadap ekspor Sumut,"kata Syech Suhaimi, seperti dilansir Antara, Senin (2/12/2019).

Dia menjelaskan, penurunan ekspor Sumut terbesar disebabkan oleh menurunnya sektor industri sebesar 14,34 persen.

Di periode 2019, nilai ekspor sektor industri Sumut tinggal USD 5,856 miliar dari Januar-Oktober 2018 senilai USD 6,837 miliar .

"Ekspor sektor pertanian yang masih bisa tumbuh 2,50 persen atau menjadi USD 591,902 juta dari periode sama 2018 yang UDS 577,470 juta," ujarnya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Wahyu Ario Pratomo, mengatakan ekspor Sumut yang masih didominasi produk industri hasil perkebunan seperti minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan karet memang rentan mengalami fluktuasi.

Untuk itu, katanya, ekspor pertanian perlu didorong terus dan termasuk meningkatkan pemasaran di dalam negeri.

"Tidak boleh tergantung sekali dengan ekspor. Kondisi saat ini sudah membuktikan bahwa ketergantungan ekspor membahayakan," ujarnya.

[AS]
Ekspor Karet Sumut Turun 9,7 Persen

Posted by On 08.13.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Realisasi ekspor karet Sumatera Utara hingga Oktober 2019, telah mencapai 345.808 ton. Jumlah itu turun sekira 9,7 persen dibandingkan periode Januari-Oktober 2018 yang telah mencapai 382.964  ton.

Sekretaris Eksekutif pada Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara, Edy Irwansyah, penurunan realisasi ekspor karet h, terjadi di tengah membaiknya kinerja ekspor karet di Oktober 2019.

“Secara bulanan, sebenarnya terjadi peningkatan. Bulan Oktober 2019 ini sudah mencapai 37.322 ton. Sementara di  Oktober 2018 hanya 36.354 ton,”sebu Edy, Rabu (20/11/2019).

Kenaikan ekspor di bulan Oktober 2019, lanjut Edy, karena terjadi peningkatan permintaan dari negara pengimpor seperti Amerika Serikat, Jepang, Republik Rakyat Tiongkok dan Eropa.

"Harapannya, ekspor bisa terus naik hingga akhir tahun sehingga ekspor 2019 tidak terlalu anjlok dibandingkan 2018," katanya.

Pada 2018, total volume ekspor karet Sumut mencapai 456.536 ton.

Edy menyebutkan, secara tahunan, tren ekspor karet Sumut mengalami penuruanan. Itu bagian dari dampak krisis global yang menyebabkan permintaan dan harga jual melemah.

Meski negara produsen sudah melakukan pengurangan ekspor, namun harga jual belum naik seperti yang diharapkan.

“Harga ekspor karet masih di kisaran 1,2 dolar AS per kg sehingga harga jual di dalam.negeri dengan kadar kekeringan 100 persen atau siap ekspor sebesar Rp16ribuan per kg,”tukas Edy.

[ANT/AS]
Pengamat: Hati-Hati Beli Emas

Posted by On 03.22.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin, mengimbau masyarakat untuk lebih hati-hati dalam membeli atau meletakkan instrument investasi mereka pada komoditi emas. Imbauan itu disampaikan untuk menghindari potensi kerugian, di tengah ketidakpastian pasar saat ini.

Menurut Gunawan, harga emas dalam sebulan terakhir ini begitu berfluktuasi, khususnya setelah mendapatkan angin segar dari kebijakan penurunan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika (The Fed). Namun harga emas akan kembali tertekan setelah China dan Amerika diperkirakan akan kembali melakukan dialog.

“Pelaku pasar sangat yakin tercipta kesepakatan diantara keduanya,”kata Gunawan.

Selain itu, sejumlah pejabat dari kedua belah pihak turut melakukan hal yang sama. Yakni melontarkan pernyataan yang bernada positif sehingga memunculkan rasa optimis. Namun sikap ini tentunya tidak berarti baik bagi semua pihak.

“Terlebih bagi investor emas yang tentunya akan memperhitungkan kembali portfolio emasnya,”tukas Gunawan.

Harga emas sendiri selama satu bulan terakhir bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Harga emas sempat menembus level USD 1500 per ounce troy. Saat Bank Sentral Amerika memangkas besaran suku bunga acuannya, tren pelemahan mata uang US Dolar terjadi saat itu. Disisi lain, emas harganya mengalami kenaikan.

Kondisi justru berbeda saat beberapa hari terakhir dimana AS dan China akan melakukan kesepakatan. Harga emas kembali tertekan dan saat ini dijual dikisaran USD 1.486,2 per ounce troy.

Masyarakat harus mengetahui beberapa hal, kata Gunawan. Jika kesepakatan dagang antara Amerika dan China tercapai, maka emas berpeluang untuk mengalami penurunan dalam jangka pendek. Namun, jika sebaliknya, maka langsung saja membeli emas.

“Jadi saran saya, jangan beli emas di posisi saat ini. Potensi turunnya masih ada.  Lakukan pemantauan secara terus menerus agar kita memiliki momentum waktu yang tepat untuk membeli emas. Dan saya melihat secara teknikal emas juga akan sulit menembus level 1500 sampai terkonfirmasi sentiment fundamental yang mampu menggerakkannya,”tandasnya.

[AS]