Popular Post

Total Pengunjung

Mata Uang Garuda Masih Menguat Terbatas

Posted by On 17.23.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Pergerakan rupiah terhadap dollar AS akhir pekan (6/12) berpeluang melanjutkan penguatan dipicu meningkatnya sentimen negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China, membuat

Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Kamis (5/12), rupiah sukses ditutup menguat 0,26% ke level Rp 14.068 per dollar AS dari penutupan sebelumnya. Sejalan dengan itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) atau JISDOR, juga menguat sebanyak 31 poin atau 0,21% menjadi Rp 14.094 per dollar AS.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri mengungkapkan, di akhir pekan (6/12) rupiah berpeluang untuk kembali menguat terhadap dollar AS.

Sentimen utamanya, tentu berasal dari perkembangan negosiasi perang dagang AS dan China yang diharapkan bisa mencapai kata sepakat.

"Hari Ini (Jumat) masih menguat terbatas, karena ada sentimen positif dari negosiasi perdagangan," ungkap Reny.

Menurut Reny, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunjukkan sinyal penundaan negosiasi perang dagang, justru langsung direspon positif oleh market. Sementara dari sentimen domestik belum ada sentimen yang mendominasi pergerakan rupiah.

Dengan begitu, pergerakan mata uang Garuda di akhir pekan ini (6/12) berpotensi ditutup pada zona hijau. Prediksinya, pergerakan rupiah akan berada di kisaran Rp 14.058 per dollar AS hingga Rp 14.106 per dollar AS.
Rupiah Siap-siap 'Tancap Gas' di Pasar Spot

Posted by On 18.33.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Selama tiga hari beruntun melemah, di perdagangan Kamis (5/12/2019) nilai tukar rupiah bersiap untuk melanjutkan penguatan. Mengutip Bloomberg pukul 08.16 WIB, rupiah pasar spot ke Rp 14.094 per dolar Amerika Serikat (AS) atau menguat 0,08%.

Kemarin, Rabu (4/12), kurs spot rupiah menguat tipis 0,07% ke Rp 14.105 per dolar AS. Serupa, kurs tengah rupiah Bank Indonesia naik tipis 0,03% menjadi Rp 14.125 per dolar AS.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri menjelaskan, pelemahan rupiah yang terjadi sejak awal pekan menjadi kesempatan pelaku pasar melakukan profit taking. Hal ini akhirnya membuat mata uang Garuda berbalik arah dan menguat di hadapan the greenback.

Hari ini, Reny masih memperkirakan rupiah bergerak sideways. "Dari dalam negeri belum ada sentimen positif yang cukup signifikan mendorong penguatan rupiah lebih lanjut. Sedangkan dari eksternal ada data ekonomi AS yang bakal dirilis," kata dia.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong bahkan menilai rupiah punya peluang kembali melemah seiring memanasnya hubungan dagang antara AS dan China.

"Belum lagi jika data manufaktur dan tenaga kerja Negeri Paman Sam bagus, rupiah cenderung melemah di kisaran Rp 14.100-14.175 per dolar AS," ujar dia.

Sedangkan Reny memprediksi, rentang pergerakan rupiah hari ini antara Rp 14.102-Rp 14.143 per dolar AS.
Perang Dagang Jadi Penentu Arah Rupiah

Posted by On 16.57.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Sejauh ini pengaruh global menjadi penentu arah rupiah. Perang dagang yang masih berkobar dan minimnya katalis dari pasar domestik menjadi sentimen yang menggerakkan rupiah pekan ini.

Menurut Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan mengatakan, rupiah masih dipengaruhi sentimen global seperti perang dagang.

Dia menjelaskan sepekan terakhir awalnya rupiah sempat menguat karena optimisme dengan kondisi China dan AS bahwa meraka akan melakukan pendatangan kesepakatan dagang yang sudah dua atau tiga minggu terbengkalai.

Tapi sinyal positif ini terganggu karena RUU HAM dan Demokrasi Hong Kong yang diteken Trump.

Kedua, dari kondisi The Fed yang kemarin menetapkan tingkat suku bunga dan mungkin The Fed menggunakan bahasa yang sering digunakan bahwa mereka akan bergerak sesuai kondisi dan situasi.

"Nah ini, juga diartikan oleh pelaku pasar The Fed tidak akan melakukan pemangkasan suku bunga selanjutnya ini juga memengaruhi rupiah," ujar Yudi.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan, Trump yang mendatangani RUU HAM dan Demokrasi Hongkong menambah pelik polemik dua negara pasalnya hal ini memperkeruh hubungan keduanya. Josua mengatakan, dengan adanya penandatanganan ini mengubah arah sentimen dan pergerakan pasar.
Rupiah Melemah Tipis Pagi Ini

Posted by On 19.02.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Pada perdagangan Rabu (6/11/2019) sekira pukul 08.10 WIB rupiah di perdagangan pasar spot dibuka melemah tipis meski masih bertahan di bawah level Rp 14.000 per dolar Amerika Serikat.

Rupiah di pasar spot ada di Rp 13.990 per dolar AS, melemah tipis 0,15% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 13.969 per dolar AS.

Rupiah melemah bersama mayoritas mata uang Asia lainnya yang juga melemah terhadap dolar AS. Bahkan, di antara mata uang Asia, rupiah menjadi mata uang terlemah kedua terhadap dolar AS pada pagi ini.

Pesso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS pagi ini dengan pelemahan 0,19%. Sementara ringgit Malaysia melemah 0,09%, dolar Taiwan melemah 0,07%, won Korea melemah 0,06% dan dolar Singapura melemah 0,02% terhadap dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 97,92, turun tipis dari sehari sebelumnya yang ada di 97,98.