Popular Post

Total Pengunjung

13 Ekor Sapi di Kupang Mati Tersambar Petir

Posted by On 03.56.00 with No comments

digtara.com | KUPANG - Sebanyak 13 ekor sapi milik warga di Dusun V Kampung Kolona Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tewas tersambar petir, Kamis (5/12/2019).

Ke 13 ekor sampi itu merupakan milik enam orang warga. Yakni Junus Mimfini, Daud Tosi, Yakob Apaut, Bincar Susang , Lukas Saketu dan Ance Apaut.
“Total kerugian senilai Rp.98 juta,”sebut Sadikin.

Daud Tosi, salah seorang warga yang sapi nya ikut mati tersambar petir mengakui kalau pada saat kejadian ia berada di dekat lokasi kejadian. Saat itu dia sedang mencari sapi yang lepas di daerah sekitar lokasi kejadian.
Ia hendak mencari sapi untuk digembalakan ke kandang karena sudah sore. Ia melihat belasan ekor sapi yang bersama-sama di lokasi kejadian berhamburan karena terkena petir.

“Saya melihat belasan ekor sapi di padang itu terjatuh satu demi satu,”tukasnya.

Daud lalu mendekati lokasi kejadian melihat sapi yang berjumlah 13 ekor mati di sekitar lokasi kejadian. Ia kemudian pulang ke rumah dan langsung menyampaikan peristiwa tersebut kepada masyarakat dan pemilik sapi untuk datang ke lokasi kejadian guna melihat langsung.

Korban lain Yakob Apaut mengakui bahwa sapi yang mati tersebut diakibatkan terkena petir saat hujan. Yakob dan lima orang warga lain selaku pemilik sapi menerima atas peristiwa yang dialami.

Yakon kemudian langsung menyampaikan kepada para korban lain guna menghubungi para pedagang dan pembeli hewan untuk dibeli karena cuaca sudah gelap dan hari menjelang malam sehingga perut sapi sudah mulai membengkak.

Pihak kepolisian dari Polsek Kupang Barat Polres Kupang kemudian membantu masyarakat mengevakuasi belasan sapi yang mati terkena petir.

"Kita sudah data para korban dan para korban pun iklas menerima peristiwa alam ini," tandas Kapolsek Kupang Barat, Ipda Sadikin.

[AS]
Menelepon Saat Hujan Deras, Seorang Warga di Kupang Tewas Disambar Petir

Posted by On 02.57.00 with No comments

digtara.com | KUPANG – Dona Riki Nenoliu (22) warga Dusun IV, Desa Mio, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, tewas tersambar petir. Insiden itu terjadi di pinggir jalan raya menuju Dusun IV Oenoni, Desa Mio, saat hujan deras melanda kawasan itu, Senin (2/12/2019) siang.

Awalnya Dona membonceng ibu kandungnya, Sarci Belandina Tanu (63) dan adik kandungnya Antonius Nenoliu (10) serta Lianse Lassa (13) dengan sepeda motor. Mereka baru saja pulang menjenguk saudara mereka yang sakit di Puskesmas Panite.

Diperjalanan pulang itu, turun hujan lebat. Mereka pun memutuskan berhenti dan berteduh di salah satu rumah warga.

Sementara Dona, karena ingin menerima telepon sehingga memilih pindah ke bawah sebatang pohon asam yang ada di dekat rumah tersebut.

Tak lama kemudian terdengar suara petir. Dona pun tersambar dan jatuh ke tanah. Ia tersambar petir di bagian kaki kiri, hingga menyebabkan pangkal paha hingga ke bokongnya mengalami luka bakar.

Kasat Reskrim Polres Timur Tengah Selatan, Iptu Jamari saat dikonfirmasi, membenarkan adanya insiden tersebut. Ia mengaku sudah mengevakuasi korban ke puskesmas Panite untuk dilakukan visum.

"Hasil pemeriksaan terkait kondisi korban,  pada bagian dada kiri dan kanan korban terdapat lebam bergaris garis. Lalu pada paha kiri dan kanan terdapat luka bakar. Terbakar pada rambut kemaluan. Terdapat lebam di punggung korban. Pada kemaluan korban keluar cairan bening dan pada dubur korban keluar veses," tandasnya.
TAK DIAUTOPSI

Setelah melakukan tindakan medis, korban dibawa pihak keluarga ke rumah duka untuk disemayamkan dan prosesi lebih lanjut.

"Sesuai hasil pemeriksaan medis, tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik pada korban dan korban murni meninggal dunia karena disambar petir," tambah Jamari.

Lebih lanjut untuk mengetahui penyebab kematian korban perlu dilakukan autopsi. Namun pihak keluarga korban diwakili ayah kandung korban, Mikael Nenoliu  dengan segenap hati menerima kematian korban sebagai ajalnya.

Keluarga juga menolak untuk dilakukan tindakan autopsi terhadap korban dan keluarga korban menguatkan pernyataannya dengan membuat surat pernyataan penolakan autopsi.

[AS]
Satu Keluarga Disambar Petir di Barus, Seorang Tewas

Posted by On 02.03.00 with No comments

digtara.com | TAPTENG - Satu keluarga yang terdiri dari suami, istri dan 2 anak mereka, disambar petir saat berada di pondok sawah di Desa Siharbangan, Kecamatan Barus, Tapanuli Tengah.

Beruntung tiga orang dari mereka yaitu ayah dan dua orang anaknya berhasil selamat, sedangkan istrinya Nurlela Marbun (30) meninggal dunia di lokasi kejadian.

Paur Humas Polres Tapteng, Iptu Rensa Sipahutar, mengatakan, insiden itu terjadi pada Senin 18 November 2019 sore kemarin. Saat itu hujan turun dengan deras dan disertai petir.  Sementara korban bersama dengan suaminya dan dua orang anaknya berada di dalam pondok yang ada di persawahan mereka.

Tiba-tiba petir datang menyambar yang mengakibatkan sang suami, Perlianto Nadeak (33), terpental dari pondok dan tergeletak di batang sawah.

Demikian juga Nurelala ikut terpental dan berada di bawah pondok. Sementara anaknya Luki Nadeak (7) dan Butet Nadeak (3) terpental ke sawah juga yang jaraknya tidak jauh dari pondok.

Kepala Desa Aek Dakka bersama dengan warga langsung turun ke lokasi memberikan pertolongan. Warga pertama kali menemukan Perlianto Nadeak berada di tengah sawah dalam keadaan tergeletak.

“Warga pun langsung memberikan pertolongan dengan membenamkan tubuh korban ke lumpur hingga korban sadar,”sebut Rensa, Selasa (19/11/2019).

Sesudah sadar korban langsung dilarikan ke Puskesmas untuk mendapat pertolongan. Sedangkan istrinya, Nurlela Marbun ditemukan berada di bawah pondok sawah sudah tidak bernyawa lagi.

Beruntung kedua anaknya Luki Nadeak dan Butet Nadeak yang juga ikut terpental ditemukan dalam keadaan selamat.

“Warga pun langsung membawa tiga korban yang selamat ke rumahnya dan sebahagian mengurus jenazah Nurlela,”tandasnya.

Kejadian sambaran petir  yang menyebabkan korban jiwa sudah terjadi setidaknya dua kali di Barus, Tapanuli Tengah dalam kurun waktu 4 bulan terakhir. Sebelumnya pada Agustus 2019 lalu warga bernama Sintor Habeahan juga tewas setelah kandang sapi tempatnya bekerja disambar petir. Dia tewas bersama dengan 19 ekor kerbau yang digembalakannya.

[AS]