Popular Post

Total Pengunjung

Akibat Kolera Babi, Sumut Berpotensi Merugi Hingga Rp.4 Triliun

Posted by On 21.45.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Balai Veteriner Medan, mencatat angka kematian hewan ternak babi akibat penyakit Hog Cholera (Kolera Babi) telah mencapai 27 ribu ekor.

Selain mengancam populasi, kematian puluhan ribu ekor babi itu juga berpotensi mengganggu perekonomian Sumatera Utara. Itu karena potensi kerugian yang ditaksir mencapai Rp.4 triliun akibat kematian ribuan babi tersebut.

Ekonom, Gunawan Bendjamin, mengatakan, kematian babi ini menjadi ancaman tersendiri bagi perekonomian Sumatera Utara. Sehingga harus segera ditanggapi secara serius.

Karena masalah kematian babi ini sangat erat kaitannya dengan potensi kenaikan harga pangan. Selain itu, angka kematian yang terus mengalami peningkatan tersebut sangat merugikan para peternak babi.

Terlebih disaat menjelang perayaan Natal tahun ini. Semua peternak babi dirugikan karena penjualan hewan ternak mereka tidak laku di pasaran. Bahkan sekalipun dijual dengan harga yang sangat miring. Kondisi ini sangat mengganggu daya beli peternak babi. Terlebih menjelang perayaan keagamaan besar Natal yang sebentar lagi.

“Jika mengacu kepada data hewan yang mati dari Balai Veteriner Medan, Jumlah sebanyak 27 ribuan babi yang mati telah merugikan peternak babi SUMUT sebesar hampir 100 Milyar Rupiah sejauh ini. Dan jika melihat tren kematian yang terus meningkat, maka ancaman kematian populasi babi terbuka lebar. Nah ancaman 1,2 juta populasi babi yang bisa saja mati ini, akan merugikan peternak Sumut sekitar 4 Triliun nantinya,”sebut Gunawan, Jumat (13/12/2019).
PEMERINTAH HARUS GERAK CEPAT

Untuk itu, menurut Gunawan, pemerintah harus bertindak segera agar kerugian ini tidak meluas. Jadi langkah utama yang bisa dilakukan dengan segera adalah menyelamatkan daya beli peternak babi terlebih dahulu. Mengingat daya beli mereka terpuruk seiring dengan sulitnya mereka menjual hewan ternak tersebut belakangan ini.

“Selanjutnya, kita pikirkan nasib peternak babi selama kandang tidak bisa digunakan untuk berternak. Karena menurut Balai Veteriner, kandang babi harus disterilkan dari virus secepat-cepatnya itu adalah 3 bulan dengan pengawasan ketat, meskipun idealnya (sesuai dengan rekomendasi) itu sekitar 1 tahun,”sebutnya.

Waktu selama itu tentunya membuat peternak akan kehilangan daya belinya. Ini akan memperburuk masalah ekonomi masyarakat khususnya mereka yang beternak babi. Untuk itu, kita mendorong pemerintah agar segera memberikan bantuan kebutuhan pokok dasar peternak, serta mengeluarkan anggaran untuk membatasi ruang gerak penyebaran virus tersebut.

“Untuk menyelamatkan potensi kerugian yang 4 Triliun tadi. Sebaiknya pemerintah menyiapkan anggaran optimal agar penyebaran virus dan kematian babi bisa dihentikan,”tukasnya.
HARGA PRODUK SUBSTITUSI NAIK

Kematian babi belakangan ini juga sangat potensial membuat sejumlah bahan pangan subtitusi dari babi seperti daging ayam, telur ayam maupun sapi berpeluang mengalami kenaikan harga. Menjelang perayaan Natal an Tahun Baru umumnya konsumsi akan protein akan mengalami peningkatan. Dan jika masyarakat yang biasa mengkonsumsi babi mengalihkan ke jenis protein lain, maka ada peluang kenaikan harga daging ayam, telur ayam maupun daging.

“Meskipun Balai Veteriner telah menegaskan bahwa babi yang terserang virus aman dagingnya untuk dikonsumsi manusia. Jadi seharusnya tidak ada kekuatiran yang berlebihan maupun tidak masuk akal. Untuk itu saya mengajurkan masyarakat agar terus memerangi berita yang tidak benar atau hoaks, karena sangat meresahkan,”tukasnya.

Masalah serangan virus ke babi ini bukan hanya dialamai oleh Sumatera Utara saja. Namun ini merupakan bencana global dimana negara lain pun mengalami hal yang sama. Tetangga kita yang terdekat Thailand juga mengalami masalah serupa.

“Untuk itu segera semua pihak atau stake holder khususnya pemerintah segera turun tangan untuk membatasi penyebaran virus tersebut, Agar tidak memicu multiplier efek lainnya yang bisa saja memicu kenaikan harga kebutuhan masyarakat pada umumnya,”tandasnya.

 

Penulis : Dhe Regar
Awal Pekan, IHSG Terpuruk ke Level 6.040

Posted by On 01.22.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk ke level 6.070,76 pada penutupan perdagangan awal pekan ini.

Sejak dibuka, IHSG memang telah menunjukkan pelemahan. Bahkan di sesi perdagangan kedua, kinerja IHSG terus memburuk dan paling banyak merugikan.

“Kinerja IHSG sepanjang sesi perdagangan ditransaksikan di zona merah, sekalipun sejumlah bursa di Eropa dan Amerika justru mampu menutup pekan kemarin dengan kinerja yang positif,”sebut Pengamat Pasar Modal, Gunawan Benjamin, Senin (25/11/2019).

Kinerja bursa di Asia pada umumnya, lanjut Gunawan, mengalami penguatan. Namun IHSG bergerak anomali dengan terus mengalami pelemahan selama sesi perdagangan hari ini. Sejumlah saham-saham besar bahkan diperdagangkan di teritori negative.

“Kinerja sejumalah saham besar tersebut memberikan pukulan besar bagi IHSG,”sambungnya.

Kondisi eksternal belakangan ini juga belum menunjukan adanya kemungkinan tanda-tanda adanya kesepakatan dagang antara AS dan China. Sejauh ini kondisi masih memburuk, karena sikap kedua negara terbilang abu-abu.

“Belum ada gambaran yang jelas mengenai keputusan terkait pertemuan antara AS dan Cina nantinya,”tukasnya.

Disisi lain, kata Gunawan, mata uang Rupiah diperdagangkan stabil dengan kecenderungan menguat. Rupiah terhadap US Dolar diperdagangkan di kisaran 14.085.

“Pasar keuangan kita masih akan terus bergerak tanpa ditopang oleh sisi fundamental yang mumpuni. Hal ini sangat memungkinkan bagi pasar keuangan kita untuk terus bergerak dengan voilatilitas yang lebar,”tandasnya.

[AS]