Popular Post

Total Pengunjung

Harga Minyak Global Naik Tipis

Posted by On 18.12.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Sejak awal pekan ini, harga minyak melanjutkan penguatan tipis. Sedangkan di perdagangan Selasa (24/12) pukul 7.30 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 60,59 per barel, naik tipis ketimbang harga penutupan perdagangan kemarin pada US$ 60,52 per barel.

Harga minyak telah menguat 24,62% sepanjang tahun ini. Sejumlah penopang harga minyak pada akhir tahun ini antara lain rencana pemangkasan produksi OPEC+ hingga akhir kuartal pertama 2020. Selain itu, Arab Saudi menekan Irak untuk mematuhi komitmen pemangkasan hingga tahun depan.

Kenaikan harga minyak dalam dua hari berturut-turut ini juga dipicu oleh rencana pemangkasan tarif impor China atas berbagai produk, termasuk makana dan suku cadangan produk telepon pintar.

Rusia mengatakan bahwa OPEC+ kemungkinan akan melonggarkan pemangkasan pada tahun depan. Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan bahwa keputusan ini mungkin akan terjadi pada pertemuan Maret 2020.

"Kami bisa mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk pelonggaran kuota secara bertahap atau melanjutkan pemangkasan," kata Novak seperti dikutip Reuters. Novak menambahkan bahwa produksi minyak Rusia berpeluang mencetak rekor tertinggi pada tahun ini.

Sementara pasokan minyak non-OPEC diprediksi naik pada tahun depan karena kenaikan produksi dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat (AS), Brasil, Norwegia, dan Guyana.

Pasokan juga berpotensi bertambah setelah Kuwait mengindikasikan bahwa perselisihan panjang pada Zona Netral yang terletak di perbatasan dengan Saudi akan rampung pada akhir 2019. Produksi di dua ladang minyak besar di Zona Netral dihentikan lebih dari tiga tahun lalu. Hal ini menyebabkan penurunan produksi global sebesar 500.000 barel per hari.

"Harga minyak masih moderat setelah penurunan akibat pernyataan Kuwait dan Saudi soal produksi di perbatasan. Tapi, harga minyak WTI dan Brent bisa bertahan di atas masing-masing US$ 60 dan US$ 65 hingga beberapa pekan Januari," kata Edward Moya, senior market analyst OANDA
Harga Minyak Terkoreksi Pagi Ini

Posted by On 18.41.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Setelah kemarin melaju kencang. Rabu (18/12) pukul 7.19 WIB harga minyak pagi ini turun. harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 60,58 per barel, turun 0,59% ketimbang harga penutupan perdagangan kemarin.

Selasa (17/12) kemarin, harga minyak WTI melesat 1,21% ke US$ 60,94 per barel. Ini adalah harga tertinggi minyak WTI sejak setelah serangan fasilitas minyak Saudi Aramco pertengahan September lalu.

Harga minyak brent bahkan mencapai level tertinggi yang lebih jauh. Kemarin, harga minyak brent untuk kontrak Februari 2020 di ICE Futures berada di US$ 66,10 per barel, naik 1,16% dari hari sebelumnya.

Harga minyak acuan internasional ini mencapai level tertinggi sejak 23 Mei 2019. Kenaikan harga minyak ini masih dipicu sambutan pasar atas kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China setelah perselisihan selama 17 bulan.

Baca Juga: Tertekan dalam dua tahun terakhir, IHSG berpotensi moncer pada 2020

Presiden The Fed Dallas Robert Kaplan mengatakan bahwa kesepakatan fase satu tidak berarti tensi akan hilang sama sekali dalam waktu dekat. "Fase satu lebih baik daripada tidak ada fase satu. Bukan berarti sudah tidak ada ketidakpastian perdagangan," kata Kaplan seperti dikutip Reuters.

Dia memperkirakan, proses penyelesaian masalah dagang dengan China akan berlangsung bertahun-tahun.

Di sisi lain, pasar minyak memandang positif tambahan pemangkasan produksi oleh OPEC+. Negara-negara pengekspor minyak ini akan menambah pemangkasan sebesar 500.000 barel per hari mulai Januari.

Sehingga total pemangkasan produksi di kuartal pertama tahun depan akan mencapai 1,7 juta barel per hari. "Kombinasi kenaikan minat risiko dan pemangkasan produksi OPEC+ yang lebih tinggi daripada prediksi akan menjaga permintaan sehingga membatasi penurunan harga," kata Jim Ritterbusch presiden Ritterbusch and Associates kepada Reuters.

Dari AS, American Petroleum Institute melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 4,7 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Desember. Analis dalam polling Reuters memperkirakan penurunan persediaan minyak 1,3 juta barel.

Data yang meleset inilah yang menyebabkan harga minyak koreksi pada pagi ini. Data resmi pemerintah AS akan dirilis pada hari ini.
Harga Minyak Menguat Tipis Setelah Kemarin Merosot

Posted by On 17.42.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Kamis (12/12/2019) pukul 7.17 WIB harga minyak menguat tipis setelah kemarin merosot. Di mana harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange naik 0,24% ke US$ 58,90 per barel.

Pergerakan harga minyak masih menunggu kabar negosiasi dagang Amerika Serikat (AS)-China. Menurut sumber Reuters, Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan bertemu dengan penasihat ekonomi dan perdagangan tertinggi hari ini untuk mendiskusikan kelanjutan penerapan tarif impor US$ 156 miliar dari China yang akan berlaku 15 Desember.

Sumber Reuters menyebut, pertemuan ini akan melibatkan US Trade Representative Robert Lighthizer, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, dan penasihat Gedung Putih Larry Kudlow dan Peter Navaro. Seorang sumber mengatakan bahwa kelanjutan penerapan tarif impor pada 15 Desember akan menggoyahkan negosiasi dagang AS-China untuk mengakhiri perang dagang yang telah berlangsung 17 bulan.

Kenaikan harga minyak hari ini pun merupakan pembalian dari transaksi kemarin. Rabu (11/12), harga minyak acuan AS ini melorot 0,81% dari hari Selasa yang masih ada di US$ 59,24 per barel. Penurunan harga minyak ini terjadi setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa terjadi kenaikan persediaan minyak mentah.

Menurut data EIA, stok minyak mentah naik 822.000 barel pada pekan lalu. Angka ini jauh berbeda dari prediksi polling Reuters yang meramalkan penurunan persediaan hingga 2,8 juta barel.

Dengan total persediaan 447,9 juta barel, stok minyak sekitar 4% lebih tinggi dari rata-rata pekan pertama Desember lima tahun terakhir. Meski stok minyak naik, persediaan minyak di Cushing, Oklahoma yang merupakan pusat pengiriman WTI, turun 3,4 juta barel pekan lalu. Ini adalah penurunan terbesar sejak Februari 2018.

Sementara persediaan bensin dan distilat melonjak. Stok bensin melesat 5,4 juta barel. Sementara distilat yang termasuk solar dan heating oil naik 4,1 juta barel, lebih dari dua kali lipat prediksi analis.

"Data inventaris agak bearish jika kita mempertimbangkan penurunan operasional penyulingan dan penurunan permintaan bensin," kata John Kilduff, partner Again Capital kepada Reuters.

Phil Flynn, senior energy analyst Price Futures Group mengatakan bahwa badai musim dingin yang menyebabkan salju tebal di sejumlah negara bagian AS berdampak pada penurunan permintaan bensin sehingga stok meningkat.

"Mobil-mobil diparkir dan ada penurunan permintaan. Tapi ini hanya gejolak yang terjadi sekali," kata Flynn.
Harga Minyak Global Masih Tertahan Negosiasi Perang Dagang

Posted by On 18.36.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Rabu (11/12) pukul 7.17 WIB harga minyak turun lagi setelah menguat sehari. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 59,08 per barel, turun 0,27% dari harga penutupan perdagangan kemarin.

Meski turun, harga minyak jenis light sweet ini cenderung stagnan sejak akhir pekan lalu. Rencana tambahan pemangkasan OPEC yang disepakati pekan lalu tidak mampu mengangkat harga minyak lebih tinggi. Pasar komoditas energi masih dibayangi negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang belum menunjukkan kejelasan.

Pekan lalu, OPEC+ menyepakati tambahan pemangkasan produksi sebesar 500.000 barel per hari yang akan berlaku hingga Maret 2020. Dengan tambahan ini, total pemangkasan produksi OPEC+ mencapai 1,7 juta barel per hari.

Gene McGillian, director of market research Tradition Energy mengatakan, setelah para produsen mengumumkan pemangkasan, pasar minyak bergerak sedikit di bawah level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. "Tapi tanpa kesepakatan dagang AS-China, harga minyak sulit terangkat dalam reli baru," kata dia kepada Reuters.

Menteri Pertanian AS Sonny Perdue mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak ingin mengimplementasikan tarif impor baru. Tapi, dia ingin ada upaya China untuk menghindari tarif ini.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa kedua pihak tengah menyusun dasar kesepakatan untuk menunda pengenaan tarif baru yang akan berlaku 15 Desember. Sementara itu, tingkat impor China terhadap komoditas utama AS yang meninggi, menunjukkan bahwa pengucuran stimulus oleh pemerintah telah membuahkan hasil.

American Petroleum Institute (API) akan merilis data persediaan minyak mentah. Selain itu, bank sentral AS Federal Reserve akan mengakhiri rapat FOMC nanti malam.
Minyak Brent Berjangka Turun 14 Sen

Posted by On 17.09.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Senin (9/10) kemarin harga minyak dunia turun, setelah data menunjukkan ekspor China turun selama empat bulan berturut-turut.

Mengirim kegelisahan ke pasar yang sudah khawatir tentang terganggunya permintaan global akibat perang perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Berdasarkan data CNBC, minyak Brent berjangka turun 14 sen, atau 0,22%, menjadi US$ 64,25 per barel setelah naik sekitar 3% pekan lalu di tengah berita bahwa OPEC dan sekutunya akan memperdalam penurunan produksi.

Sedangkan, minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 18 sen atau 0,3% menjadi US$ 59,02 per barel. Pekan lalu, WTI naik sekitar 7% pada prospek untuk produksi yang lebih rendah dari OPEC +, yang terdiri dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen terkait termasuk Rusia.

Turunnya harga minyak setelah data pabean China merilis data ekspor pada November turun 1,1% dari tahun sebelumnya.

"Bahwa data perdagangan China merupakan faktor, tentu saja," kata John Kilduff, partner di Again Capital.
Harga Minyak Dunia Merangkak Naik

Posted by On 20.03.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Menjelang pertemuan negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan sekutunya membahas perpanjangan pembatasan produksi minyak. Harga minyak dunia merangkak naik pada perdagangan Rabu (4/12).

Mengutip Bloomberg, pukul 9.43 WIB, minyak Brent pengiriman Februari 2020 ke level US$ 61,18 per barel atau naik 0,59%. Setelah sesi sebelumnya turun 0,16%.

Senasib, minyak West Texas Intermediate (WTI) ke level US$ 56,41 per barel atau naik 0,55%. Setelah pada sesi sebelumnya naik 0,25%.

OPEC dan sekutu yang mencakup Rusia atau OPEC + sedang bersiap menyetujui pemangkasan produksi minyak mentah pekan ini.

Thamer Ghadhban, menteri perminyakan Irak, mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa di Wina bahwa "pengurangan yang lebih dalam produksi minyak disetujui oleh sejumlah anggota kunci".

Tetapi masih ada beberapa keraguan di pasar mengenai apakah OPEC akan memangkas produksi lebih lanjut. Banyak analis hanya mengharapkan perpanjangan dari pemotongan yang ada saat ini.

"Kami ... berpikir OPEC dapat mengumumkan perpanjangan untuk memasok pengurangan untuk mencakup seluruh tahun 2020 daripada tiga hingga enam bulan yang menjadi faktor dalam pasar saat ini," tulis BNP Paribas Markets dalam sebuah catatan.

Asal tahu, anggota OPEC bertemu pada hari Kamis (5/12) dan kemudian pada hari Jumat (6/12) kelompok OPEC + bertemu. OPEC + telah membatasi pasokan minyak sejak 2017.
Jelang Akhir Pekan, Harga Minyak Menguat Tipis

Posted by On 18.26.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Menjelang akhir pekan ini. Jumat (29/11/2019) pukul 7.15 WIB harga minyak menguat tipis. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 58,13 per barel.

Pada Rabu (27/11/2019) lalu harga minyak ini naik tipis ketimbang posisi US$ 58,11 per barel. Kemarin, bursa Amerika Serikat (AS) tutup untuk libur Thanksgiving. Sementara di perdagangan Asia dan Eropa kemarin, harga minyak cenderung dan ditutup turun tipis.

Harga minyak brent untuk pengiriman Januari 2020 di ICE Futures kemarin tercatat turun 0,39% ke US$ 63,87 per barel.

"Persetujuan legislasi Hong Kong yang mendukung demonstran tampaknya akan menempatkan kesepakatan dagang dalam pertanyaan, karena China menekankan akan membalas," kata Hussein Sayed, chief market strategist FXTM kepada Reuters.

Sayed mengatakan, jika investor menduga bahwa kesepakatan dagang akan benar-benar terancam, bisa terjadi aksi jual besar-besaran pada bulan Desember. "Saat ini, investor lebih suka menunggu," kata dia.

China kemarin mengatakan akan mengambil tindakan balasan setelah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan legislasi yang mendukung demonstran anti-pemerintah di Hong Kong.

Sementara itu, data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 1,6 juta barel pada pekan lalu. Produksi minyak pun mencapai rekor tertinggi pada 12,9 juta barel per hari.

Phil Flynn, analis Price Futures Group mengatakan bahwa aksi jual yang terjadi kemarin merupakan tindakan reaktif yang berlebihan. "Ekonomi AS secara umum cukup bagus dan ini seharusnya bisa memperbaiki permintaan selanjutnya," kata Flynn.

Apalagi, musim dingin sudah dimulai dan badai musim dingin mulai melanda dan menaikkan permintaan solar. Pekan depan, investor akan mencermati arah kebijakan OPEC+. "Kami memperkirakan OPEC+ melanjutkan kesepakatan pemangkasan produksi antara tiga hingga enam bulan dari tenggat waktu awal Maret 2020," kata Giovanni Staunovo, analis minyak UBS kepada Reuters.

Perusahaan-perusahaan minyak Rusia mengajukan untuk tidak mengubah kuota produksi hingga akhir Maret. Hal ini bisa menekan OPEC+ untuk menghindari perubahan kebijakan yang besar.
Jelang Pertemuan OPEC, Harga Minyak Global Cenderung Menguat

Posted by On 17.15.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan kemarin harga minyak terkoreksi tipis setelah kemarin menguat. Selasa (26/11) pukul 7.06 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 57,94 per barel, turun tipis dari harga penutupan perdagangan kemarin pada US$ 58,01 per barel.

Kemarin, harga minyak menguat 0,41% karena optimisme negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Optimisme ini mencuat sejak Kamis pekan lalu dan sedikit mengerek harga minyak dari kisaran sempit sekitar US$ 57 per barel sejak awal November. Harga minyak kemarin turut disokong oleh rekor tertinggi pasar saham AS.

Craig Erlam, senior market analyst Oanda mengatakan, harga minyak cenderung stabil meski sensitivitas terhadap berita dagang masih tinggi. "Momentum jelas kurang dalam kenaikan harga minyak belakangan, meski kenaikan pekan lalu menyokong optimisme," kata Erlam kepada Reuters.

Sabtu lalu, penasihat keamanan nasional AS Robert O'Brien mengatakan bahwa kesepakatan dagang awal dengan China masih mungkin tercapai di akhir tahun. Kemarin, koran Global Times di China yang mengutip ahli yang dekat dengan pemerintah China melaporkan bahwa China dan AS telah mencapai konsensus luas pada kesepakatan fase satu meski masih ada perbedaan soal penghapusan tarif.

Dari Timur Tengah, kericuhan di Iran dan Irak masih menjadi salah satu penopang harga minyak. Hari Minggu lalu, terjadi bentrok demonstran dan pihak keamanan di Baghdad dan beberapa kota di selatan Irak. Sembilan orang tewas dan puluhan orang terluka.

Pasar minyak pekan ini cenderung stabil menunggu keputusan OPEC yang akan bertemu pada pekan depan. OPEC dan Rusia diramal akan memperpanjang periode kesepakatan pemangkasan produksi hingga tengah tahun depan.
Awal Pekan, Harga Minyak Merangkak Naik

Posted by On 16.53.00 with No comments

digtara.com | AKARTA -  Awal pekan ini. Senin (25/11/2019) pukul 7.15 WIB harga minyak menanjak. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 57,96 per barel, naik 0,33% ketimbang harga penutupan perdagangan pekan lalu.

Sejalan, harga minyak brent untuk pengiriman Januari 2020 di ICE Futures menguat 0,24% ke US$ 63,54 per barel.

Harga minyak ini berada di kisaran tertinggi sejak setelah serangan fasilitas minyak Saudi Aramco pada pertengahan September lalu. "Faktor kunci prospek permintaan minyak adalah negosiasi dagang," kata Michael McCarthy, chief market strategist CMC Markets and Stockbroking kepada Reuters.

Dengan harga minyak yang mendekati level tertinggi kisaran perdagangan belakangan, tekanan jual masih berpeluang terjadi.

Baker Hughes Co melaporkan bahwa ada penurunan jumlah rig beroperasi hingga akhir pekan lalu menjadi 671. Jumlah rig beroperasi ini turun tiga ketimbang pekan sebelumnya. Jumlah rig ini pun merosot dari 885 rig aktif pada pekan yang sama tahun lalu.

Jumlah rig aktif yang merupakan indikator awal produksi minyak, turun dalam 11 bulan berturut-turut. Perusahaan eksplorasi independen dan produksi memangkas belanja pengeboran baru karena para pemegang saham mencari return yang lebih baik di tengah harga minyak yang rendah.

"Hampir dua pertiga penurunan rig dalam 12 bulan terakhir terjadi karena perusahaan swasta menghentikan pengeboran," ungkap Enverus dalam laporan yang dikutip Reuters.

Meski jumlah rig aktif turun, tingkat produksi minyak Amerika Serikat (AS) terus meningkat karena produktivitas shale oil naik.

Di sisi lain, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan Rusia kemungkinan akan memperpanjang pemangkasan produksi tiga bulan. Keputusan ini akan dibicarakan pada pertemuan 5-6 Desember mendatang.

Saat ini, OPEC+ menyepakati pemangkasan produksi hingga Maret 2020. Dengan tambahan tiga bulan, pemangkasan produksi akan berlangsung hingga pertengahan 2020. OPEC pun akan meningkatkan kepatuhan kesepakatan terutama bagi Irak dan Nigeria yang masih memproduksi lebih tinggi.

"Kepatuhan kesepakatan Irak dan Nigeria bisa memangkas 300.000-400.000 barel per hari dari level produksi OPEC sehingga menyeimbangkan pasar pada semester pertama 2020 dan kemungkinan defisit pasokan pada semester kedua," ungkap broker minyak PVM seperti dikutip Reuters.
Harga Minyak Global Merosot Lebih dari USD1 Per Barel

Posted by On 18.44.00 with No comments

digtara,com | JAKARTA – Akhir perdagangan 19 November 2019 kemarin harga minyak turun lebih dari USD1 per barel. Harga minyak merosot di tengah kekhawatiran tentang kelebihan pasokan minyak mentah global dan terbatasnya kemajuan penyelesaian sengketa perdagangan AS-China yang telah mengaburkan prospek permintaan minyak.

Mengutip Reuters, Rabu (20/11/2019), minyak mentah Brent LCOc1 berjangka turun USD1,53 atau 2,5% menjadi USD60,91 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS CLc1 berjangka kehilangan USD1,84 atau 3,2% menjadi menetap di USD55,21 per barel.

Brent telah rally sekitar 15% tahun ini, didukung oleh pakta oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutu-sekutunya, termasuk Rusia - kelompok yang dikenal sebagai OPEC + - untuk memangkas produksi minyak gabungan sebesar 1,2 juta barel per hari dari 1 Januari.

Rusia tampaknya tidak akan setuju untuk memperdalam penurunan produksi minyak pada pertemuan dengan sesama eksportir bulan depan tetapi dapat berkomitmen untuk memperpanjang pembatasan yang ada untuk mendukung Arab Saudi, tiga sumber mengatakan.

OPEC dan sekutunya akan mempertimbangkan apakah akan memperdalam pemotongan pasokan minyak mentah ketika mereka bertemu berikutnya pada bulan Desember karena kekhawatiran tentang pertumbuhan permintaan yang lemah pada tahun 2020, sumber dari klub produsen minyak mengatakan.

“Kami mengharapkan pembicaraan tidak nyaman di bulan Desember. Rusia tidak akan secara kategoris setuju untuk (memperdalam) pemotongan di musim dingin, ” kata sumber.

Berita tentang sikap Rusia mengirim harga minyak lebih rendah karena investor khawatir tentang potensi kelebihan pasokan.
Harga Minyak Naik Tipis

Posted by On 17.44.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Awal perdagangan Senin (18/11) sekira pukul 07.20 WIB harga minyak naik tipis. Harga minyak jenis west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2019 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 57,75 per barel, naik tipis 0,05% dari akhir pekan lalu yang ada di US$ 57,72 per barel.

Kenaikan harga minyak ini didorong oleh sentimen positif dari tanda-tanda resolusi perdagangan Amerika Serikat (AS)-China yang kian dekat.

Selain itu, pergerakan harga minyak juga ditopang oleh pengumuman kisaran valuasi jelang IPO Saudi Aramco.

Perundingan dagang AS-China lewat panggilan telepon yang konstruktif Sabtu lalu membantu menopang prospek permintaan minyak global.

Sebab, meredanya perang dagang AS-China menyulut optimisme pasar tentang membaiknya perekonomian global yang berujung pada kenaikan permintaan minyak dunia.
Harga Minyak Mentah Dunia Semakin Panas

Posted by On 17.23.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Kamis (14/11) kemarin harga minyak mentah dunia semakin panas. Setelah data industri terbaru menunjukkan penurunan pasokan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Ditambah komentar dari kelompok negara pengekspor minyak (OPEC) yang menyatakan produksi minyak serpih (shale) AS pada 2020 lebih rendah dari prediksi.

Berdasarkan data Bloomberg, pukul 22.22 WIB, minyak Brent pengiriman Januari 2020 ke level US$ 63,05 per barel atau naik 1,09% dari sesi sebelumnya. Melanjutkan kenaikan dua hari.

Sedangkan, minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Desember 2019 ke level US$ 57,70 per barel atau naik 1,02% dari sesi sebelumnya.

American Petroleum Institute melaporkan penurunan tak terduga dalam stok minyak mentah AS sebesar 541.000 barel dalam sepekan hingga 8 November, terhadap ekspektasi analis akan kenaikan 1,6 juta barel.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) OPEC Mohammad Barkindo mengatakan kemungkinan akan ada revisi pasokan ke tahun 2020, terutama dari minyak serpih AS.

Barkindo mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan apakah pengurangan produksi lebih lanjut diperlukan.

Hari ini, OPEC memprediksi surplus minyak mentah tahun depan akan menipis. Meskipun masih mengharapkan permintaan minyak mentahnya turun lantaran negara pengekspor minyak lainnya tengah memompa minyak lebih banyak.

Dengan penurunan permintaan minyak dapat menekan kelompok eksportir dan mitranya seperti Rusia untuk mempertahankan pembatasan pasokan pada pertemuan 5-6 Desember.

"Hitungan mundur ke pertemuan Negara-negara OPEC telah dimulai, dan pertanyaan apakah kelompok itu dan sekutunya akan memangkas pasokan lebih lanjut," kata Norbert Rucker, kepala ekonom bank Swiss Julius Baer dilansir dari Reuters.

"Kondisi pasar saat ini sedang menguji kesabaran dan kohesi negara-negara minyak. Setiap perubahan besar dalam kebijakan akan mengejutkan".

American Petroleum Institute melaporkan penurunan tak terduga dalam stok minyak mentah AS sebesar 541.000 barel dalam sepekan hingga 8 November, terhadap ekspektasi analis akan kenaikan 1,6 juta barel.
Donald Trump Bikin Geger Bikin Harga Minyak Melorot

Posted by On 17.19.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Soal Donald Trump kembali membuat geger pasar global, dengan mengeluarkan pernyataan bahwa dirinya siap membatalkan kesepakatan perang dagang dengan China, jika tidak memberikan keuntungan bagi Negeri Paman Sam tersebut.

Kekecewaan pasar pun direspon dengan melorotnya harga minyak global pada perdagangan Rabu (13/11).

Mengutip Bloomberg, pergerakan minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2019 di New York Mercantile Exchange turun 0,79% ke US$ 56,35 per barel.

Menurut Analis Monex Investindo Faisyal mengatakan, sikap Trump yang masih tarik ulur membuat pasar kecewa. Ditambah lagi, Presiden AS tersebut belum memberikan informasi detail dimana dan kapan kesepakatan dagang dengan China akan berlangsung.

"Sikap Trump tersebut, juga memicu pandangan akan risiko pelambatan ekonomi global ke depan," ungkap Faisyal.

Sentimen lainnya yang juga berhasil menyeret harga minyak turun yakni data Badan Energi Internasional (IEA) yang memperkirakan bahwa permintaan minyak di 2025 bakal mengalami penurunan. Di mana, pertumbuhan permintaan minyak global diperkirakan bakal melambat sebanyak 100.000 barel per hari.

Untuk itu, Faisyal memperkirakan pergerakan minyak hingga akhir tahun bakal berada di rentang US$ 50 per barel hingga US$ 60 per barel. Secara teknikal, harga pun masih bergerak sideways akibat sentimen yang cenderung tarik ulur.

Di sisi lain, pasar juga tengah menanti keputusan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) terkait produksi minyak ke depan. Mengingat, Desember nanti akan ada pertemuan OPEC yang akan membahas perpanjang produksi atau mungkin memperdalam pemangkasan produksi minyak ke depan.

"Sentimen perang dagang AS dengan China, serta produksi OPEC masih tarik ulur untuk prospek harga minyak ke depan," jelasny
Harga Minyak Global Turun Sentuh S$56,63 Per Barel

Posted by On 17.40.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Hari kedua perdagangan pekan ini. Selasa (12/11) pukul 7.20 WIB harga minyak turun lagi. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2019 di New York Mercantile Exchange turun 0,40% ke US$ 56,63 per barel.

Untuk harga minyak brent untuk pengiriman Januari 2020 di ICE Futures turun 0,53% ke US$ 62,18 per barel pada pagi ini.

Harga minyak tertekan di tengah potensi negosiasi dagang Amerika Serikat (AS) yang diramal mandek. Ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pembicaraan dagang AS-China berjalan lebih lambat daripada prediksi dia. Trump pun membantah pembatalan tarif impor yang sudah berlaku bagi China sebagai salah satu kesepakatan dagang kedua negara.

Pernyataan Trump akhir pekan lalu ini menjadi bayang-bayang gelap pasar keuangan global sejak kemarin. Penundaan kesepakatan dagang berpeluang kembali menekan permintaan minyak yang sudah diramal melambat.

"Perdagangan minyak akan cenderung mendatar pada saat ini dengan konflik perdagangan yang akan menentukan arah harga," ungkap Commerzbank dalam catatan yang dikutip Reuters.

Sementara itu, trader yang mengutip laporan Genscape mengungkapkan bahwa stok minyak mentah di Cushing, Oklahoma turun 1,2 juta barel pada pekan lalu. Jika benar, ini akan menjadi kenaikan stok untuk pertama kalinya setelah penurunan lima pekan berturut-turut.

Menurut data pemerintah, kenaikan stok minyak terakhir adalah pada 1 November lalu. Analis memperkirakan, kenaikan stok minyak ini akan berakhir setelah perbaikan jaringan pipa Keystone yang mengalirkan 590.000 minyak per hari.

TC Energy Corp mengatakan bahwa jaringan pipa ini telah beroperasi kembali secara bertahap.

Dari pasokan global, Arab Saudi menaikkan produksi minyak menjadi 10,3 juta barel per hari. Kenaikan ini terutama untuk menutup penggunaan cadangan akibat serangan drone ke fasilitas Saudi Aramco pertengahan September lalu. "Aramco menambah kembali persediaan yang sebelumnya ditarik pada bulan September untuk memenuhi pasokan kepada pelanggan," ungkap sumber Reuters.

Saudi melaporkan bahwa produksi minyak bulan September hanya mencapai 660.000 barel per hari dari produksi Agustus yang sebesar 9,13 juta barel per hari.
Harga Minyak Kembali Terkoreksi Tipis

Posted by On 17.21.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Harga minyak pagi ini kembali terkoreksi tipis meski masih bertahan di level tertinggi mingguannya yakni di US$56 per barel.

Perdagangan Selasa (5/11/2019) sekira pukul 07.30 WIB harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2019 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 56,47 per barel, turun 0,12% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 56,54 per barel.

Namun, bila dilihat trennya, harga minyak masih cenderung naik terdorong optimisme kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan China yang semakin dekat.

Pejabat pemerintah China kini tengah mempertimbangkan lokasi di AS tempat kedua pemimpin negara akan bertemu untuk menandatangani kesepakatan perdagangan.

"Kedua belah pihak baik Chna dan AS berbicara banyak tentang kesepakatan dagang. Dan Federal Reserve condong dalam situasi ekonomi yang terlibat lebih baik. Ini mengangkat semua (sentimen positif untuk harga minyak)," kata John Kilduff, mitra Again Capital LCC seperti dikutip Reuters.
Harga Minyak Global Tekoreksi Tipis

Posted by On 18.10.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Awal perdagangan pekan ini. Senin (4/11/2019) sekira pukul 07.30 WIB. Harga minyak terkoreksi tipis di pasar spot hari ini.

Harga minyak jenis west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2019 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 56,09 per barel, turun 0,19% dari akhir pekan lalu yang ada di U$ 56,20 per barel.

Koreksi harga minyak terdorong sentimen dari kabar rencana IPO Saudi Aramco. Selain itu, data pekerjaan AS terbaru yang dirilis Jumat pekan lalu membuat harga minyak masih bertahan di level US$ 56 per barel meski sedikit koreksi.

Meski begitu, bila melihat tren harga minyak selama pekan lalu, kini harga minyak masih cenderung menunjukkan tren kenaikan.

"Dengan data laporan ketenagakerjaan AS dan The Fed yang baru-baru ini menurunkan suku bunga, itu pasti akan meredakan beberapa kekhawatiran seputar pertumbuhan ekonomi AS," kata McGillian, Vice President of market research Tradition Energy seperti dikutip Reuters.