Popular Post

Total Pengunjung

Harga Minyak Terkoreksi Pagi Ini

Posted by On 18.41.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Setelah kemarin melaju kencang. Rabu (18/12) pukul 7.19 WIB harga minyak pagi ini turun. harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 60,58 per barel, turun 0,59% ketimbang harga penutupan perdagangan kemarin.

Selasa (17/12) kemarin, harga minyak WTI melesat 1,21% ke US$ 60,94 per barel. Ini adalah harga tertinggi minyak WTI sejak setelah serangan fasilitas minyak Saudi Aramco pertengahan September lalu.

Harga minyak brent bahkan mencapai level tertinggi yang lebih jauh. Kemarin, harga minyak brent untuk kontrak Februari 2020 di ICE Futures berada di US$ 66,10 per barel, naik 1,16% dari hari sebelumnya.

Harga minyak acuan internasional ini mencapai level tertinggi sejak 23 Mei 2019. Kenaikan harga minyak ini masih dipicu sambutan pasar atas kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China setelah perselisihan selama 17 bulan.

Baca Juga: Tertekan dalam dua tahun terakhir, IHSG berpotensi moncer pada 2020

Presiden The Fed Dallas Robert Kaplan mengatakan bahwa kesepakatan fase satu tidak berarti tensi akan hilang sama sekali dalam waktu dekat. "Fase satu lebih baik daripada tidak ada fase satu. Bukan berarti sudah tidak ada ketidakpastian perdagangan," kata Kaplan seperti dikutip Reuters.

Dia memperkirakan, proses penyelesaian masalah dagang dengan China akan berlangsung bertahun-tahun.

Di sisi lain, pasar minyak memandang positif tambahan pemangkasan produksi oleh OPEC+. Negara-negara pengekspor minyak ini akan menambah pemangkasan sebesar 500.000 barel per hari mulai Januari.

Sehingga total pemangkasan produksi di kuartal pertama tahun depan akan mencapai 1,7 juta barel per hari. "Kombinasi kenaikan minat risiko dan pemangkasan produksi OPEC+ yang lebih tinggi daripada prediksi akan menjaga permintaan sehingga membatasi penurunan harga," kata Jim Ritterbusch presiden Ritterbusch and Associates kepada Reuters.

Dari AS, American Petroleum Institute melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 4,7 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Desember. Analis dalam polling Reuters memperkirakan penurunan persediaan minyak 1,3 juta barel.

Data yang meleset inilah yang menyebabkan harga minyak koreksi pada pagi ini. Data resmi pemerintah AS akan dirilis pada hari ini.
Harga Minyak Dunia Naik Tipis

Posted by On 17.58.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Pada transaksi Senin (16/12) kemarin harga minyak dunia mencatatkan kenaikan tipis. Data yang dihimpun Reuters menunjukkan, harga minyak Brent ditutup naik 12 sen atau 0,2% menjadi US$ 65,34 per barel.

Bahkan pada transaksi sebelumnya, harga minyak Brent sempat menyentuh posisi US$ 65,79 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak 17 September lalu.

Adapun harga minyak West Texas Intermediate naik 14 sen atau 0,2% menjadi US$ 60,21 per barel.

Harga minyak terdongkrak adanya harapan akan kenaikan permintaan energi yang akan diuntungkan dari adanya kesepakatan dagang antara AS dengan China yang diumumkan pada pekan lalu.

Seperti yang diketahui, pada Jumat (13/12), Washington dan Beijing mengumumkan kesepakatan perdagangan fase satu. Pejabat AS bilang, sejumlah tarif akan dipangkas. Sebagai balasannya, China akan membeli produk pertanian AS dengan nilai yang cukup besar.

Kemajuan dari perjanjian dagang dapat mengerek permintaan minyak. Namun, Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago bilang, market masih menanti perjanjian di atas kertas.

"Market berhenti sejenak untuk menanti kelanjutan dari kesepakatan dagang AS-China. Kami berupaya untuk melakukan konsolidasi apakah harga minyak bisa bertahan di atas US$ 60 sebelum akhirnya naik lebih tinggi lagi," papar Flynn.

Kesepakatan untuk menarik tarif tambahan AS atas barang-barang China senilai US$ 160 miliar akan diberlakukan pada pekan ini.

"Apa yang dibutuhkan market sekarang adalah...kejelasan mengenai detil kesepakatan. Semakin lama kita menanti detil kesepakatan ini, semakin besar keraguan pelaku pasar mengenai seberapa bagus kesepakatan yang dihasilkan," jelas analis ING Economics.

Di sisi lain, harga minyak mendapatkan sokongan dari data ekonomi China yang dirilis Senin (16/12). Data itu menunjukkan output industri dan pertumbuhan ritel penjualan China melonjak melebihi ekspektasi pada November.

Sementara, harga minyak Brent sudah mencatatkan reli di sepanjang tahun ini, karena disokong oleh pemangkasan produksi minyak oleh negara-negara Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan aliansinya, termasuk Rusia. Pada bulan ini, mereka sepakat untuk menurunkan suplai minyak sebanyak 500.000 barel per hari mulai 1 Januari 2020 mendatang.
Harga Minyak Naik ke Level Tertinggi Hampir 3 Bulan

Posted by On 18.01.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.29 WIB, minyak Brent pengirim Februari 2020 ke level US$ 65 per barel atau naik 1,25% dari sesi sebelumnya. Tertinggi sejak 23 September.

Harga minyak mentah dunia naik ke level tertinggi hampir tiga bulan pada perdagangan Jumat (13/12). Tersulut kemajuan penyelesaian sengketa perdagangan Amerika Serikat (AS)-China dan hasil pemilihan umum Inggris.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) ke level US$ 59,74 per barel atau naik 0,95% dari sesi sebelumnya.

Berbagai sumber di AS pada Kamis (12/12), mengatakan bahwa Washington telah menetapkan ketentuan-ketentuannya untuk kesepakatan perdagangan dengan Beijing, menawarkan untuk menangguhkan beberapa tarif atas barang-barang dan memotong yang lain sebagai imbalan atas pembelian barang-barang pertanian Amerika oleh China.

"Kejadian 24 jam yang lalu telah menghapus lapisan ketidakpastian bagi ekonomi global," kata Stephen Brennock dari broker minyak PVM.

Diketahui, perang dagang yang berlangsung 18 bulan telah meredam harga minyak, begitu pula ketidakpastian seputar Brexit turut membebani. Partai Konservatif Inggris yang berkuasa memenangkan mayoritas besar dalam pemilihan umum hari Kamis, memberikannya kekuatan untuk membawa negara itu keluar dari Uni Eropa (Brexit).
Harga Minyak Global Masih Tertahan Negosiasi Perang Dagang

Posted by On 18.36.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Rabu (11/12) pukul 7.17 WIB harga minyak turun lagi setelah menguat sehari. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 59,08 per barel, turun 0,27% dari harga penutupan perdagangan kemarin.

Meski turun, harga minyak jenis light sweet ini cenderung stagnan sejak akhir pekan lalu. Rencana tambahan pemangkasan OPEC yang disepakati pekan lalu tidak mampu mengangkat harga minyak lebih tinggi. Pasar komoditas energi masih dibayangi negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang belum menunjukkan kejelasan.

Pekan lalu, OPEC+ menyepakati tambahan pemangkasan produksi sebesar 500.000 barel per hari yang akan berlaku hingga Maret 2020. Dengan tambahan ini, total pemangkasan produksi OPEC+ mencapai 1,7 juta barel per hari.

Gene McGillian, director of market research Tradition Energy mengatakan, setelah para produsen mengumumkan pemangkasan, pasar minyak bergerak sedikit di bawah level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. "Tapi tanpa kesepakatan dagang AS-China, harga minyak sulit terangkat dalam reli baru," kata dia kepada Reuters.

Menteri Pertanian AS Sonny Perdue mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak ingin mengimplementasikan tarif impor baru. Tapi, dia ingin ada upaya China untuk menghindari tarif ini.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa kedua pihak tengah menyusun dasar kesepakatan untuk menunda pengenaan tarif baru yang akan berlaku 15 Desember. Sementara itu, tingkat impor China terhadap komoditas utama AS yang meninggi, menunjukkan bahwa pengucuran stimulus oleh pemerintah telah membuahkan hasil.

American Petroleum Institute (API) akan merilis data persediaan minyak mentah. Selain itu, bank sentral AS Federal Reserve akan mengakhiri rapat FOMC nanti malam.
Awal Pekan, Harga Minyak Terjatuh

Posted by On 18.07.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Awal pekan ini. Senin (9/12/2019) pukul 7.02 WIB harga minyak turun. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 58,99 per barel.

Harga minyak ini turun 0,35% ketimbang harga penutupan perdagangan pekan lalu pada US$ 59,20 per barel. Sejalan, harga minyak brent untuk pengiriman Februari 2020 di ICE Futures turun 0,34% ke US$ 64,17 per barel ketimbang harga akhir pekan lalu pada US$ 64,39 per barel.

Jumat lalu, harga minyak melejit setelah OPEC+ menyetujui penambahan pemangkasan produksi minyak hingga 500.000 barel per hari pada kuartal pertama 2020. Dengan tambahan ini, total pemangkasan produksi OPEC+ di kuartal pertama mencapai 1,7 juta barel per hari atau 1,7% dari total permintaan global.

Menteri Energy Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan, pemangkasan efektif Saudi akan mencapai 2,1 juta barel per hari karena Saudi akan memangkas lebih banyak daripada kuota.

Amrita Sen, co-founder Energy Aspects mengatakan, tujuan menteri energy Saudi bukan untuk mengangkat harga minyak, tapi menetapkan batas bawah paling kuat di kuartal pertama untuk menahan pelemahan musiman kuartal pertama.

"Saudi percaya bahwa OPEC perlu menaikkan produksi di semester kedua 2020, makanya jangka waktu pembatasan ini pendek," kata Sen seperti dikutip Reuters.

Phil Flynn, analis Price Futures Group mengatakan hal serupa. Pemangkasan ini dilakukan ketika permintaan akan lebih tinggi dan akan menambah tekanan pada harga produk minyak, terutama diesel dengan sulfur sangat rendah, menjelang peraturan bahan bakar kapal IMO 2020. "Meski respons pasar terbatas, jangan salah, keputusan OPEC ini akan menciptakan batas terendah harga minyak," kata dia.

Hans Van Cleef, senior energy economist ABN AMRO mengatakan, pasar minyak kecewa karena pemangkasan hanya 500.000 barel per hari. Dia melihat, pemangkasan ini hanya formalisasi tingkat kepatuhan anggota dalam beberapa bulan.

Sementara Goldman Sachs menaikkan prediksi harga minyak brent tahun 2020 menjadi US$ 63 per barel dari sebelumnya US$ 60 per barel dengan harga jangka panjang US$ 55 per barel. Goldman pun memprediksi harga minyak WTI berada di US$ 58,50 per barel dengan harga jangka panjang US$ 50 per barel.
Harga Minyak Dunia Naik Tipis

Posted by On 19.03.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Perdagangan Kamis (5/12) Harga minyak dunia naik tipis. Meski OPEC dan mitranya merencanakan penurunan produksi terdalam dekade ini untuk mencegah kelebihan pasokan.

Minyak mentah Brent berjangka ditutup pada US$ 63,39 per barel, naik 39 sen atau 0,6%. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berakhir di US$ 58,43 per barel, tidak berubah dari sesi sebelumnya. Setelah mencapai tertinggi sejak akhir September di awal sesi.

Panel menteri anggota kunci Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya yang dipimpin oleh Rusia, dikenal sebagai OPEC +, merekomendasikan penurunan produksi sebesar 500.000 barel per hari (bph) pada kuartal pertama 2020, menurut Menteri Energi Rusia Alexander Novak.

OPEC + telah setuju untuk secara sukarela mengurangi pasokan sejak 2017 untuk melawan peningkatan produksi dari Amerika Serikat (AS), yang sekarang merupakan produsen top dunia.

Pembatasan pasokan 1,2 juta barel per hari ditetapkan akan berakhir pada bulan Maret. Pemotongan 1,7 juta barel per hari akan berjumlah 1,7% dari pasokan global.

Asal tahu, para menteri OPEC berkumpul pada hari Kamis di Wina dan OPEC + akan bertemu lagi pada hari Jumat untuk menyampaikan suara pada kesepakatan.

"Kami berada di ujung tombak menunggu untuk melihat apa pengumuman yang sebenarnya akan terjadi, jadi itu sebabnya naik turun," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago.
Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 3%

Posted by On 18.19.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Perdagangan Rabu (4/12) kemarin Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3%. Di tengah ekspektasi bahwa organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan mitranya akan memperpanjang pembatasan produksi. Ditambah data produksi minyak Amerika Serikat (AS) menunjukkan penurunan besar.

Mengutip Reuters, minyak mentah berjangka Brent mengakhiri sesi naik US$ 2,31, atau 3,8%, mencapai US$ 63,14 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) berakhir naik US$ 2,33, atau 4,2%, pada US$ 58,43 setelah menyentuh sesi tinggi US$ 58,66 per barel.

OPEC dan sekutu-sekutu termasuk Rusia atau OPEC +, dapat menyetujui pengurangan produksi minyak mentah lebih dalam ketika mereka bertemu di Wina pekan ini.

Menteri perminyakan Irak Thamer Ghadhban mengatakan kepada wartawan di Wina pada hari Selasa (3/12) bahwa "pemotongan lebih dalam lebih disukai oleh sejumlah anggota kunci".

Pada hari Rabu, Ghadhban mengatakan ia akan mendukung setidaknya memperpanjang pemotongan yang ada hingga akhir 2020.

"Kita harus memberikan sinyal positif kepada pasar dan bagi saya setidaknya kita harus menggulirkan perjanjian saat ini," katanya.

Sementara itu, Administrasi Informasi Energi AS melaporkan persediaan minyak turun 4,9 juta barel dalam sepekan ke 29 November. Jauh dari prediksi analis yakni penurunan 1,7 juta barel.