Popular Post

Total Pengunjung

Net Foreing Buy Sokong IHSG Menguat

Posted by On 17.32.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Pada perdagangan kemarin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,23% ke level 6.211,59. Investor asing pun memborong saham-saham dalam negeri hingga mencatatkan net foreing buy (beli bersih asing) senilai Rp 191,2 miliar.

Pada perdagangan hari ini, beberapa analis memprediksi IHSG akan lanjut menguat. Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani menilai, penguatan IHSG hari ini ditopang oleh aksi window dressing yang diperkirakan akan berakhir pada akhir Desember.

Meski hari ini neraca dagang Indonesia dinyatakan defisit US$ 1,3 miliar per November 2019, sentimen negatif ini tertutupi oleh aksi window dressing. “Kemarin itu juga Amerika Serikat (AS) dan China juga sudah ada kesepakatan dagang tahap pertama. Kemungkinan sentimen defisit neraca dagang kalah kuat,” ujar Hendriko.

Hendriko memprediksi IHSG akan melanjutkan penguatan dengan sentimen utama adalah aksi window dressing. Selain itu, suku bunga acuan (interest rate) juga diprediksi tidak akan berubah dan dipertahankan di kisaran 5%.

Senada, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memprediksi, IHSG akan lanjut menguat pada perdagangan besok. Kesepakatan dagang fase pertama antara AS dengan China sedikit banyak dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG.

Sementara dari sisi teknikal, Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya menilai IHSG masih berusaha untuk keluar dari fase konsolidasi wajarnya.

Dalam jangka panjang, IHSG masih berada dalam pola uptrend dan capital inflow yang masih tercatat secara year-to-date (ytd). Hal ini menunjukkan investor asing masih berminat untuk merangsek ke pasar modal Indonesia.

Untuk itu, William menilai IHSG akan lanjut menguat dengan kisaran 6.089–6.261. Herditya memproyeksikan IHSG akan menguat terbatas di kisaran 6.130–6.260. Sementara Hendriko memprediksi IHSG akan menguat di kisaran 6.240–6.250.
Senin Pagi, IHSG Turun 0,04 Poin

Posted by On 18.32.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Pembukaan perdagangan hari ini, Senin (16/12/2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah. IHSG turun 0,04 poin ke 6.197,31.

Ada 21 saham menguat, 9 saham melemah, dan 14 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp27,66 miliar dari Rp7,02 lembar saham yang diperdagangkan.

Indeks LQ45 naik 1,35 poin atau 0,1% menjadi 999,00, indeks Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,42 poin atau 0,2% ke 694,02, indeks IDX30 turun 0,66 poin atau 0,1% ke 544,73, dan indeks MNC36 turun 0,28 poin atau 0,1% ke 345,00.

Sementara itu, saham-saham yang bergerak dalam jajaran top gainers, antara lain, saham PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY) naik Rp8 atau 3,85% ke Rp216, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik Rp2 atau 2,99% ke Rp69, dan saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) naik Rp3 atau 2,63% ke Rp117.

Adapun, saham-saham yang bergerak dalam jajaran top losers, yaitu saham PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) turun Rp6 atau 6,12% ke Rp92, saham PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) turun Rp75 atau 4,62% ke Rp1.550, dan saham PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) turun Rp12 atau 4,03% ke Rp286.
Pekan Depan, IHSG Diramalkan Bakal Bergerak di Zona Hijau

Posted by On 21.38.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Pada perdagangan Jumat (13/12/2019) kemarin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound 0,94% ke level 6.197,318. Selama sepekan, IHSG menguat 0,17%.

Menurut Analis Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu menilai, penguatan IHSG selama sepekan tidak terlepas dari penguatan bursa saham Amerika Serikat (AS). Hal ini berpengaruh kepada bursa regional Asia termasuk Indonesia.

“Hal ini sesuai dengan perkiraan kami. IHSG menguat 0,94% dan investor asing juga turut mencatatkan net buy pada pasar regular sebesar Rp 451,5 miliar,” ujar Dessy.

Dessy menilai, pendorong pergerakan IHSG datang dari saham sektor perbankan.

Untuk perdagangan sepekan ke depan, Dessy memproyeksikan, IHSG masih akan bergerak di zona hijau. Sebab, rilis indikator perekonomian seperti neraca perdagangan (trade balance) dapat menjadi katalis positif bagi IHSG.

“Perkiraan kisaran untuk satu pekan berada pada level 6.150 – 6.255,” kata Dessy.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, penguatan IHSG dalam sepekan ini tidak terlepas dari angin segar negosiasi perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan China.

“Mulai ada titik terang akan kesepakatan yang terjadi antara AS dengan China yang akan bertemu pada 15 Desember mendatang,” ujar Herditya.

Selain itu, bangkitnya harga komoditas batubara dan Crude Palm Oil (CPO) juga turut mengerek pergerakan IHSG selama pekan ini.
Net Foreign Buy Iringi IHSG

Posted by On 16.35.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Pada penutupan perdagangan Senin (9/12) kemarin Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 6.193,79 atau meng

uat 0,11% dari sehari sebelumnya. Investor asing kembali mencatatkan aksi beli bersih (net foreign buy) di pasar modal dalam negeri. Hal tersebut pun berpengaruh pada penguatan IHSG pekan lalu.

Dibandingkan dengan periode 25 November-29 November, net foreign buy pada periode 2 Desember-6 Desember 2019 lalu mengalami kenaikan. Dari yang pekan sebelumnya berada di level Rp 479,68 miliar menjadi Rp 516,80 miliar.

Menurut Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus mengatakan aksi beli bersih yang dilakukan oleh asing merupakan hal yang positif. Apalagi sebelumnya pasar modal telah tergerus berturut-turut oleh aksi jual beli.

Sejalan dengan hal tersebut, Nico melihat bahwa IHSG pada pekan ini masih berpotensi bullish. Namun, pekan ini juga menjadi pekan yang krusial bagi pasar modal, lantaran kesepakatan antara Amerika (AS) dan China akan diuji.

“Apabila ternyata kesepakatan ditandatangani, tentu minggu ketiga pasar kita masih akan menggeliat positif. Namun, apabila ternyata tidak ada kesepakatan, tentu pasar akan bereaksi negatif di mana akan terjadi aksi ambil untung,” ujarnya.

Nico menambahkan ada beberapa sentimen yang menjadi perhatian selama sepekan ke depan yang dapat mempengaruhi perkembangan IHSG.

Sentimen pertama yang akan menjadi perhatian pasar adalah pertemuan The Fed yang dijadwalkan pada 12 Desember.

Nico memperkirakan The Fed tidak akan mengubah tingkat suku bunganya di Federal Open Market Committee (FOMC) meeting pada tanggal 12 Desember nanti.

Hal yang menjadi perhatian adalah bagaimana The Fed akan memandang perekonomian serta potensi pemangkasan tingkat suku bunga AS pada tahun depan. Pasalnya, sejauh ini Nico melihat tahun depan masih ada potensi bagi AS untuk memangkas tingkat suku bunganya sekali lagi. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi AS ke depannya.
IHSG Mengekor Jejak Bursa Regional Menghijau

Posted by On 19.15.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Awal perdagangan Jumat (6/12/2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengikuti jejak bursa regional menghijau. Mengutip RTI, pukul 09.13 WIB, IHSG naik 0,21% ke level 6.165,47

Tercatat 166 saham naik, 76 saham turun, dan 115 saham stagnan. Total volume 1,5 miliar saham dengan nilai transaksi capai Rp 430 miliar.

Sembilan dari 10 indeks sektoral menopang laju IHSG. Sektor barang konsumsi paling tinggi penguatannya 0,70%. Sementara, hanya sektor infrastruktur turun 0,09%.

Meski demikian, investor asing mengambil posisi jual. Di pasar reguler, net sell asing Rp 23,558 miliar dan Rp 43,434 miliar keseluruhan market.

Kenaikan IHSG mengikuti jejak bursa regional. Saham-saham  di Asia naik tipis pada perdagangan Jumat pagi menjelang rilis data nonfarm payroll AS untuk November yang diharapkan akan dirilis pada hari berikutnya.

Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 0,19% pada awal perdagangan. Di Korea Selatan, indeks Kospi menambahkan 0,57% karena saham industri kelas berat Samsung Electronics dan pembuat chip SK Hynix keduanya masing-masing menambahkan setidaknya 1%.

Sementara itu, saham di Australia naik lebih tinggi di perdagangan pagi, karena S & P / ASX 200 naik sekitar 0,1%. Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia di luar Jepang diperdagangkan 0,19% lebih tinggi.

Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang menuturkan trend penguatan IHSG diperkirakan akan berlanjut seiring penguatan DJIA +0.10%, Oil +0.24%, Nikel +1.14%, Timah +0.12% serta CPO +1.56% kemarin.

"Mengetahui IHSG berpeluang kembali menguat, kami menjadi semakin antusias merekomendasikan investor melakukan trading harian atas saham dari sektor Retail, Infrastruktur, Bank, TI, Konsumer, Konstruksi dan Telko untuk perdagangan di hari Jumat ini," paparnya.
IHSG Terkoreksi 0,45% Siang Ini

Posted by On 00.08.00 with No comments

digtara.com | Pada sesi I perdagangan, Rabu (4/12/2019) JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum mampu keluar dari zona merah. Mengutip RTI, indeks terkoreksi 0,45% atau 27,527 poin ke level 6.106,369.

Tercatat 246 saham turun, 115 saham naik, dan 135 saham stagnan. Total volume 4,13 miliar saham dengan nilai transaksi capai Rp 2,64 triliun.

Sembilan dari 10 indeks sektoral memerah. Sektor industri dasar paling dalam penurunannya 0,87%. Sementara, hanya sektor pertambangan yang menghijau 0,41%.

Saham-saham top losers LQ45 antara lain:

- PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) turun 3,29% ke Rp 10.300
- PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) turun 2,56% ke Rp 570
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 2,50% ke Rp 1.365

Saham-saham top gainers LQ45 antara lain:

- PT Adaro Energy Tbk (ADRO) naik 3,42% ke Rp 1.360
- PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) naik 3,01% ke Rp 1.370
- PT Perusahaan Gas Negara (persero) Tbk (PGAS) naik 1,94% ke Rp 2.100

Pergerakan IHSG turut terbebani aksi jual asing. Di pasar reguler, net sell asing Rp 117,842 miliar dan Rp 125,814 miliar keseluruhan market.

Adapun saham-saham dengan penjualan bersih terbesar asing adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 22,2 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 8,9 miliar, dan PT Astra International Tbk (ASII) Rp 8,7 miliar.
Rupiah Masih Melemah Bertengger di Rp14.120/U$D

Posted by On 23.51.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Awal perdagangan, Rabu (4/12/2019) nilai tukar rupiah masih melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) . Berdasarkan data Bloomberg, pukul 11.34 WIB, rupiah pasar spot ke Rp 14.120 per dolar AS atau melemah 0,04%.

Sementara, kurs di JISDOR nilai tukar rupiah melemah 0,04% di level Rp 14.125 per dolar AS .Pada perdagangan kemarin (3/12), kurs rupiah di pasar spot menguat 0,07% ke level Rp 14.115 per dolar AS. Namun, rupiah di kurs tengah Bank Indonesia (BI) justru melemah 0,05% menjadi Rp 14.130 per dolar AS.

Analis PT Monex Investindo Future Faisyal bilang, indeks manufaktur AS bulan November yang hanya berada di level 48,1 membuat the greenback tertekan. Mengingat proyeksi analis, indeks manufaktur AS bisa di kisaran 49,2

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana menambahkan, untuk hari ini rupiah berpeluang melemah tipis. Sentimen datang dari data inflasi Indonesia bulan November yang masih rendah.

"Hal ini bisa dilihat sebagai daya beli masyarakat yang turun," lanjut dia. Selain itu, rupiah menanti data indeks servis PMI China.