Popular Post

Total Pengunjung

Satu Unit Rumah Terbakar Akibat Ledakan Petasan

Posted by On 03.21.00 with No comments

digtara.com | AMBON- Satu unit rumah warga di Gunung Nona RT 02/ RW 08 Kelurahan Benteng, Kecamatan Nusaniwe Kota Ambon, pada Minggu (15/12/2019) sore hangus terbakar.

Rumah milik keluarga Fendi Paliama tersebut, terbakar akibat dari ledakan petasan dari sekelompok anak anak yang sedang bermain. Petasan tersebut dibakar di dalam rumah, sehingga menimbulkan percikan api dan membakar seluruh bangunan rumah.

“ sebelumnya saya mendengar suara anak anak bermain petasan/mercon di dalam rumah pada bagian dapur. Tak lama kemudian mendengar teriakan ibu ibu dari dalam rumah dan melihat api sudah membesar. “ ungkap Dedi Anwar, saksi di lokasi kejadian.

Akibat kebakaran tersebut, warga sekitar panik, karena api terus membesar. Sebagian warga berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya, sementara beberapa warga lain memilih meyelamatkan barang berharga, karena rumah yang terbakar berdekatan dengan rumah warga lainnya.

“Karena melihat kobaran api yang sudah membesar kemudian dengan spontan saya langsung berlari ke arah kamar untuk menyelamatkan berkas berkas dan uang Setoran Kantor seadanya setelah itu saya langsung berlari keluar dari rumah untuk menyelamatkan diri,“ katanya.

Kepolisian dari polsek Nusaniwe yang tiba di lokasi sekitar pukul 16:20 WIT bersama tiga unit mobil damkar kota Ambon langsung melakukan upaya pemadaman. “Pukul 16:20 WIT anggota kepolisian dari polsek nusaniwe tiba di lokasi langsung melakukan upaya pemadaman bersama petugas damkar kota Ambon dengan unit mobil pemadam,“ ungkap Kasubag Humas Polresta Ambon, Ipda Zulkisno Kaisupy kepada wartawan.

Menurut Zulkisno, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran tersebut. Namun akibat kebakaran itu, kerugian materi mencapai tujuh ratus juta rupiah
Layanan Publik di SBT Terburuk Ketiga se-Indonesia

Posted by On 00.55.00 with No comments

digtara.com | AMBON-Berdasarkan hasil penilaian Kepatuhan Pelayanan Publik yang dikeluarkan Ombudsman RI, Layanan Publik Tahun 2019 di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) menjadi yang terburuk ke-3 se-Indonesia untuk tingkat Kabupaten.

Menjadi yang terburuk ke-3, layanan publik di SBT masuk dalam kategori Zona Merah atau kepatuhan rendah.

Hal ini disampaikan Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi Maluku, Hasan Slamet melalui siaran pers yang diterima media ini Jumat (6/12).

Hasil penilaian Kepatuhan Pelayanan Publik kabupaten Seram bagian Bagian Timur Tahun 2019 sudah diserahkan ke Pemkab SBT.

"Dari hasil penilaian Ombudsman pada Tahun 2019 ini, Kabupaten Seram Bagian Timur termasuk dalam Kategori Zona Merah atau masuk dalam kategori kepatuhan rendah atau peringkat ke-3 terburuk Se –Indonesia untuk penilaian tingkat Kabupaten,"ungkapnya.

Hasan berharap agar hal ini menjadi perhartian bagi Pimpinan Daerah SBT untuk lebih serius memperhatiakn pelayanan publik kepada masyarakat serta peka terhadap persoalan layanan publik yang menjadi kepantingan masyarakat SBT.

"Kami Tim Ombudsman Maluku diterima oleh Asisten Satu Sekretariat Daerah SBT Bp. A.I.T. Wokanubun, kemudian kami sudah serahkan hasilnya tentu hasil ini merupakan cermin dari pelayanan publik yang ada di Kabupati Seram bagian Timur,"sambungnya.

Selain itu, dalam kunjungan ke Pamkab SBT tersebut, Tim Ombudsman juga membahas laporan masyarakat terkait belum beroperasi kapal penyeberangan Feri Bobot Masiwang yang dikelolah oleh Perusahan Daerah Mitra Karya, dan laporan terkait Pemerintah Negeri Kilwaru.

Untuk diketahui kapal Feri ini merupakan sarana transportasi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat SBT.

Namun hingga saat ini kapal tersebut tidak beroperasi dikarenakan persoalan pembiayaan, karyawan dan subsidi dari Pemerintah Pusat serta persoalan-persoalan lain terkait manajemen pengelolaan kapal tersebut.
BKSDA Maluku Terima Satwa Edemik Yang Hendak Diselundupkan ke Luar
Negeri

Posted by On 00.26.00 with No comments

digtara.com | AMBON - Petuga Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku, Rabu (04/12/2018) pagi, menerima penyerahan puluhan ekor satwa liar dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara yang berlangsung di pelabuhan Slamet Riyadi Kota Ambon.

Sebagian satwa yang terima BKSDA Maluku ini merupakan satwa endemik, diantaranya 10 ekor burung Kakatua Seram (Cacatua moluccensis) dan 6 (enam) ekor burung Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana).

“Penyerahan burung tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan penyerahan satwa liar endemik Maluku dan Maluku Utara yang dilakukan oleh pihak BKSDA Sulawesi Utara pada tanggal 30 November 201bertempat di Pelabuhan Laut Bastiong Kota Ternate. “ kata Mukhtar Amin Ahmadi, Kepala BKSDA Maluku.

Menurut Ahmadi saat itu pihak BKSDA Sulawesi Utara telah menyerahkan satwa liar ke Balai Taman Nasional (BTN) Aketajawe Lolobata sebanyak 23 ekor burung endemik Maluku Utara terdiri dari 4 (empat) ekor Kakatua Putih (Cacatua alba), 6 (enam) ekor Nuri Kalung Ungu (Eos squamata) dan 13 (tiga belas) ekor Kasturi Ternate (Eclectus roratus). Selain satwa endemik Maluku, BKSDA Sulut juga serahkan satwa lainnya yang dilindungi.

“BKSDA Sulawesi Utara juga menyerahkan satwa liar kepada BKSDA Maluku berupa 4 (empat) ekor Kera Yaki (Macaca nigra), 10 (sepuluh) ekor burung Kakatua Seram (Cacatua moluccensis) dan 6 (enam) ekor burung Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana)," katanya.

Sementara untuk Kera Yaki (Macaca nigra) yang merupakan satwa endemik Maluku Utara langsung dibawa ke Resort Bacan untuk proses habituasi persiapan pelepesliaran yang akan dilakukan di kawasan konservasi Cagar Alam (CA) Gunung Sibela Pulau Bacan Kabupaten Halmahera Selatan.

Untuk Kakatua Seram (Cacatua moluccensis) dan 6 (enam) ekor burung Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana) saat ini kami terima dan untuk sementara akan diistirahatkan di kandang Transit Passo. Selanjutnya 10 (sepuluh) ekor Kakatua Seram (Cacatua moluccensis) akan direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PRS) Masihulan, sedangkan 6 (enam) ekor burung Kakatua Tanimbar (Cacatua goffiniana) akan segera dilepasliarkan di habitat aslinya di Kepulauan Tanimbar.

Adapun asal usul burung-burung tersebut merupakan satwa hasil sitaan, temuan dan penyerahan masyarakat yang terjadi di wilayah kerja BKSDA Sulawesi Utara dan dititipkan untuk dirawat dan direhabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS)Tasikoki.

Sedangkan untuk 4 (empat) ekor Kera Yaki (Macaca nigra) merupakan hasil penyerahan dari masyarakat yang berada di Kota Ternate kepada petugas Seksi Konservasi Wilayah I Ternate BKSDA Maluku dan dititipkan di PPS. Tasikoki.

“Proses penyerahan dan pelepasliran satwa dari BKSDA Sulawesi Utara ini dilakukan karena satwa tersebut sudah menjalani masa karantina dan rehabilitasi di PPS. Tasikoki kurang lebih selama 3-4 tahun, sehingga sudah dianggap mampu untuk bertahan hidup di alam liar,“ jelasnya.

Rencananya pada akhir tahun ini PPS. Tasikoki akan menerima pengembalian satwa liar hasil sitaan (repatriasi) yang berhasil diamankan di wilayah Dafau Filipina, sehingga pihak PPS. Tasikoki harus mempersiapkan sarana dan prasarana untuk menampung satwa-satwa tersebut.
11 Rusak Parah Akibat Terjangan Badai Siklon Tropis Kamuri

Posted by On 00.51.00 with No comments

digtara.com| AMBON - Terjangan badai siklon tropis Kamuri yang disertai gelombang pasang dilaporkan telah merendam pemukiman warga di Desa Bara, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, yang terjadi Senin (02/12/2019) malam, sekitar pukul 20.00 WIT, itu telah menyebabkan korban materi.


Akibat peristiwa alam itu, mengakibatkan 11 rumah warga rusak. Terdiri dari 4 rumah rusak berat dan 7 rumah lainnya rusak ringan. Akibat peristiwa alam itu, warga pun kini masih mengungsi ke lokasi yang lebih aman.


Kepala Pelaksana BPBD, Buru, Zulkarnain dan rombongannya Selasa (03/12/2019) sudah berada di lokasi di Desa Bara, Kecamatan Air Buaya untuk melihat langsung kondisi pemukiman warga.


Seperti laporan BPBD Buru sebelumnya, peristiwa gelombang pasang menerjang Desa Bara itu, masih perlu dipelajari. Pasalnya, cuaca malam saat itu terang berawan, tidak ada tanda-tanda alam mencurigakan malam itu.


“Kami saat ini lagi menuju Desa Bara pak. Kami mau mengecek langssung kondisi yang terjadi disana,” ujar Kalak BPBD Buru, Zulkarnain saat dihubungi via ponselnya.


Selain mengecek kondisi warga, petugas BPBD juga telah menyalurkan sejumlah bantuan berupa logistik bagi warga terdampak badai tropis tersebut.

Lagi Boncengan Tiga Naik Motor Ditabrak Mobil, Satu Orang Tewas Terkapar

Posted by On 23.17.00 with No comments

digtara.com | AMBON- Sebuah kecelakaan menyebabkan La Nadi alias Landi, salah satu penumpang sepeda motor tewas di lokasi kejadian di jalan raya Kaitetu dusun Kebun Kelapa, Kecamatan Leihitu Maluku Tengah.

Informasi yang diperoleh digtara.com Senin (02/12/2019) siang menyebutkan kecelakaan maut tersebut terjadi pada Minggu sore kemarin.

Kecelakaan itu terjadi akibat tabrakan antara sepeda motor berpenumpang tiga orang dengan salah satu mobil angkutan trayek Desa Seith-Kota Ambon.

Menurut pengemudi mobil angkutan Musa Hatuina (21), saat sedang mengemudi di lokasi kejadian, tiba tiba melintas motor yang dikemudikan Adin Wali (28) dari arah belakang dan langsung menabrak mobil.

“Di tikungan itu, tiba- tiba muncul sepeda motor roda dua dari arah belakang mobil saya, mereka melaju dengan kecepatan tinggi langsung bertabrakan dengan mobil saya,“ ungkapnya

Saat kejadian tersebut, terdengan bunyi keras dan membuat warta sekitar kaget. Tabrakan tersebut mengakibatkan satu orang tewas penupang sepeda motor tewas di lokasi. Sementara dua penumpang motor dan pengemudi juga lami luka luka.

“Satu orang meninggal di lokasi, dua penumpang motor dan saya juga alami luka robek pada bagian pipi kanan,“ kata Musa Hatuina

Aparat dari Mapolsek Leihitu yang turun ke TKP dan langsung mengamankan dua kendaraan yang bertabrakan itu.

Sementara korban meninggal langsung dibawa ke rumah duka di Dusun Tibang, Negeri Hitumessing, Kecamatan Leihitu. Dua korban luka kini masih dirawat di Puskesmas Hila.
Jembatan Penghubung di Maluku Tenggara Ambruk, Aktivitas Warga Terganggu

Posted by On 20.49.00 with No comments

digtara.com | AMBON- Sebuah jembatan yang menghubungkan dua pulau di Maluku Tenggara ambruk sehingga tidak bisa dintasi kenderaan dan warga.

Jembatan yang menghungkan antara desa (ohoi) Rumadian dan Dian Darat kecamatan Manyew Kabupaten Maluku Tenggara itu tiba tiba abruk pada Sabtu (30/11/2019) lalu.

Akibat ambruknya jembatan papan ini, membuat aktivitas warga di lokasi ini pada Senin (02/12/2019) siang menjadi terganggu. Untuk tetap beraktivitas, warga di dua desa tersebut harus memutar arah yang cukup jauh, atau menggunakan alternatif jalur laut.

“Kami terpaksa harus melalui jalur laut atau memutar dengan jarak cukup jau melewati jalan utama menuju Bandara Karel Sadsuitubun Langgur. “ ungkap Rudy salah satu warga di lokasi.

Menurur warga setempat, ambruknya jembatan kayu diduga akibat kontri besi penahan sudah puluhan tahun sehingga termakan karatan.

Tidak ada korban jiwa saat ambruknya jembatan ini. Namun warga berharap jembatan penghubung utama dua pulau dan desa ini segera diperbaiki pemerintah setempat.
Oknum Polisi Ambon Aniaya Warga Sampai Terkapar di RS

Posted by On 19.10.00 with No comments

digtara.com | AMBON- Oknum Polisi diduga melakukan penganiayaan terhadap warga bernama Rijal Tukuboya (21). Kejadian itu terjadi di Caffe New jalan baru, Namlea Kabupaten Buru pada Sabtu malam (30/11/2019) lalu. Akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami luka luka dan harus dirawat di rumah sakit setempat.

Kabag Humas Polres Buru Ipda Zulkifli Asri saat di konfirmasi terkait kasus penganiayaan oleh oknom polisi tersebut, mengatakan belum mengetahui pasti kejadian dan kronologisnya. “ saya belum mengetahui pasti dan mendapatkan informasinya, terkait penganiayaan tersebut. “ ucapnya.

Namun korban yang ditemui di rumah sakit Lala pada Minggu (01/12/2019) siang menjelaskan, kejadian penganiayaan terhadap dirinya sekitar pukul 23.30 WIT. Kala itu pelaku bripka Roky Lapi bersama kawannya Rustam Barges dan ibu korban Adita Angriani sedang berada dalam caffe new.

"Saya memanggil ibu saya tetapi salah satu oknum polisi bernama Roky Lapi tiba tiba langsung membentak saya, kami berdua langsung terkibat adu mulut di lokasi,“ katanya.

Tak hanya adu mulut di lokasi tersebut, korban pun langsung mendapatkan bogem mentah dari oknum polisi tersebut. Korban dan pelaku bahkan sempat terlibat perkelahian namun berhasil dilerai warga sekitar.

Menurut korban, tak hanya mendapatkan tidakan kekerasan dari oknum polisi, tetapi juga mendapakan ancaman akan dibunuh. “Se kacil ini beta (saya) bunuh se nanti," ungkap korban menirukan ucapan pelaku.

Atas tindak penganiayaan utu keluarga korban dan LSM parlemen Jalanan Kabupaten Buru langsung mendatangi Mapolres Pulau Buru untuk melapor kasus tersebut. Kapolisian pun diminta untuk mengusut tuntas tindak penganiayaan tersebut yang melibatkan anggota polri.

“Intinya kami meminta Kapolda Maluku agar dapat bertindak tegas terhadap oknum anggota polisi tersebut dan saya secara lembaga memberikan apresiasi kepada kapolres pulau buru dalam penanganan kasus ini. Pinta Ruslan Arif Soamole, Ketua Parlemen Jalanan Buru.

Mereka juga meminta pengusutan kasus tersebut benar benar dilakukan, agar menjadi pelajaran bagi aparat penegak hukum lainnya. Sebab polisi dikenal sebagai pengayom masyarakat namun dicederai oleh oknum yang arogan.

“Harapan kami, agar yang bersangkutan mendapatkan efek jera dari perbuatannya karna ini mencoreng nama baik institusi kepolisian tidak ada kata selain Pecat sehingga dalam fungsi pelayanan pengayoman masyarakat bisa dipandang sebagai harkat dan martabat marwah lembaga ini bisa terjaga dengan baik," pungkas soamole.