Popular Post

Total Pengunjung

Pemerintah Akan Isolasi Daerah Terjangkit Demam Babi

Posted by On 06.18.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA – Pemerintah akan mengisolasi daerah yang terjangkit Demam Babi Afrika. Langkah itu diambil untuk mencegah virus tersebut menyebar dan menjangkiti ternak babi di daerah lainnya.

Hal itu dikatakan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo usai menghadiri acara Natal di kediaman Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, di Jakarta, Rabu (25/12/2019).

"Salah satunya dengan mengisolasi daerah yang terjangkit sangat total. Kemudian daerah lain harus secara rutin, tiap hari harus cek apakah ada virus yang menyangkut," kata Menteri Syahrul.

Syahrul mengatakan isolasi memang langkah yang paling penting dilakukan untuk mencegah penyebaran virus.
"Isolasi untuk dia keluar wilayah, itu yang kita perketat, oleh pemerintah daerah," katanya.

Ia menyebut peternakan babi tidak dikembangkan secara menyeluruh di Indonesia tapi terpusat di satu titik. Kabupaten yang terjangkit juga tidak lebih dari dua atau tiga wilayah.

Oleh karena itu, Syahrul mengatakan pengendalian secara maksimal sesuai prosedur, yakni dengan pemusnahan, kini masih dalam proses.

"Kami sudah lakukan pengendalian secara maksimal dilakukan oleh para gubernur, para bupati dan jajaran pengamanan yang ada, tentu saja penanganan sesuai prosedur yang ada, memang kita harus musnahkan di sana dan itu dalam proses," katanya.
RESPON TERHADAP SIKAP MALAYSIA

Terkait sikap Malaysia yang melarang impor babi dari kawasan yang terjangkit, termasuk Indonesia, menurut Syahrul hal itu memang jadi risiko yang harus diterima.

"Itulah salah satu risiko kalau kita terjangkit, makanya saya juga tetapkan daerah khusus saja yang terjangkit itu yang harus jawab. Pengalaman kita tentang flu burung kemarin. Begitu bilang ada yang terjangkit, tidak masuk (impornya)," katanya.

Kementerian Pertanian telah mengumumkan adanya kasus Demam Babi Afrika atau lebih dikenal dengan African Swine Fever (ASF) di Sumatera Utara.

Hal itu ditegaskan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) Nomor 820/Kpts/PK.32/M/12/2019 tentang Pernyataan Wabah Penyakit demam babi Afrika (African Swine Fever/ ASF) pada beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara pada12 Desember 2019.

Penyakit ASF telah terjadi di 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (ISIKHNAS), sampai minggu ke-2 Desember 2019, total kematian ternak babi yang terjadi di Sumut dilaporkan mencapai 28.136 ekor.

[AS]
30 Ribu Ekor Babi di Sumut Mati Akibat Wabah Demam Babi Afrika

Posted by On 05.35.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Sebanyak 30 ribu ekor babi di Sumatera Utara, tercatat mati dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Jumlah kematian yang terbilang fantastis itu tersebar di 16 wilayah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

Yakni Dairi, Humbang Hasundutan, Deliserdang, Medan, Karo, Toba Samosir dan Serdang Bedagai.

Lalu Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samsosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Tebing Tinggi, Pematang Siantar dan Kabupaten Langkat.

"Yang tertinggi terjadi kematian babi ada di Dairi, Karo dan Deliserdang,"kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Azhar Harahap, seperti dilansir Antara, Jumat (20/12/2019).

Menurutnya, selama ini pihaknya terus melakukan upaya pengendalian penyebaran virus tersebut dengan bio security. Yakni mencegah lalu lintas ternak babi, melarang pemindahan ternak babi antar daerah, penyemprotan desinfektan dan pemberian vaksin.

"Langkah-langkah hingga saat ini pengendalian tetap kita lakukan," katanya.

Merebaknya virus itu dimulai sejak 25 September yang lalu. Belakangan, beredar salinan Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 820/KPTS/PK.320/M/12/2019 tentang pernyataan wabah penyakit demam babi afrika (African Swine Fever) di beberapa kabupaten/kota di Sumut.

Keputusan Menteri Pertanian RI sebanyak 6 lembar tersebut ditetapkan di Jakarta, pada 12 desember 2019 yang ditandatangani Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo.

[AS]
Gubsu: Pemprovsu Kucurkan Rp5 M untuk Tangani Virus Babi di Sumut

Posted by On 22.54.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Terkait penanganan virus babi (hog cholera), pihak Pemerintahan Provinsi Sumut mengucurkan anggaran sebesar Rp 5 Miliar. Saat ini tercatat sudah lebih dari 29.000 ekor babi mati di Sumatera Utara mendadak diduga terjangkit virus tersebut.

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengatakan, anggaran yang dikucurkan itu untuk kegiatan pengawasan babi yang terkena Hog Kholera hingga proses penguburan.

"(Anggaranya) untuk patroli, lalu (menyiapkan) pos-pos, untuk menutup jalan keluar masuk babi dari dalam keluar dan sebaliknya. Lalu menyiapkan personel untuk menguburkan babi yang mati," ujar Edy usai mengikuti Apel Kesiapsiagaan Natal dan Tahun Baru, di Lapangan Benteng Medan, Kamis (19/12/2019).

Kata Edy untuk membantu masyarakat mengubur babi, Pemprovsu juga telah menyiapkan alat berat untuk proses penguburan babi.

"Kita siapkan alat berat untuk menguburkan sehingga tidak dibuang di sembarang tempat," ujar Edy

Edy menegaskan anggaran yang digunakan bukan untuk memusnahkan seluruh babi yang ada di Sumut, melainkan hanya penanganan Hog Cholera saja.

"Belum, kalau untuk pemusnahan, anda bayangkan, babi di Sumut hampir mencapai 2 juta ekor. Kalau itu kali 3 juta per ekor, sudah berapa itu jumlahnya,"pungkasnya.
Akibat Kolera Babi, Sumut Berpotensi Merugi Hingga Rp.4 Triliun

Posted by On 21.45.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Balai Veteriner Medan, mencatat angka kematian hewan ternak babi akibat penyakit Hog Cholera (Kolera Babi) telah mencapai 27 ribu ekor.

Selain mengancam populasi, kematian puluhan ribu ekor babi itu juga berpotensi mengganggu perekonomian Sumatera Utara. Itu karena potensi kerugian yang ditaksir mencapai Rp.4 triliun akibat kematian ribuan babi tersebut.

Ekonom, Gunawan Bendjamin, mengatakan, kematian babi ini menjadi ancaman tersendiri bagi perekonomian Sumatera Utara. Sehingga harus segera ditanggapi secara serius.

Karena masalah kematian babi ini sangat erat kaitannya dengan potensi kenaikan harga pangan. Selain itu, angka kematian yang terus mengalami peningkatan tersebut sangat merugikan para peternak babi.

Terlebih disaat menjelang perayaan Natal tahun ini. Semua peternak babi dirugikan karena penjualan hewan ternak mereka tidak laku di pasaran. Bahkan sekalipun dijual dengan harga yang sangat miring. Kondisi ini sangat mengganggu daya beli peternak babi. Terlebih menjelang perayaan keagamaan besar Natal yang sebentar lagi.

“Jika mengacu kepada data hewan yang mati dari Balai Veteriner Medan, Jumlah sebanyak 27 ribuan babi yang mati telah merugikan peternak babi SUMUT sebesar hampir 100 Milyar Rupiah sejauh ini. Dan jika melihat tren kematian yang terus meningkat, maka ancaman kematian populasi babi terbuka lebar. Nah ancaman 1,2 juta populasi babi yang bisa saja mati ini, akan merugikan peternak Sumut sekitar 4 Triliun nantinya,”sebut Gunawan, Jumat (13/12/2019).
PEMERINTAH HARUS GERAK CEPAT

Untuk itu, menurut Gunawan, pemerintah harus bertindak segera agar kerugian ini tidak meluas. Jadi langkah utama yang bisa dilakukan dengan segera adalah menyelamatkan daya beli peternak babi terlebih dahulu. Mengingat daya beli mereka terpuruk seiring dengan sulitnya mereka menjual hewan ternak tersebut belakangan ini.

“Selanjutnya, kita pikirkan nasib peternak babi selama kandang tidak bisa digunakan untuk berternak. Karena menurut Balai Veteriner, kandang babi harus disterilkan dari virus secepat-cepatnya itu adalah 3 bulan dengan pengawasan ketat, meskipun idealnya (sesuai dengan rekomendasi) itu sekitar 1 tahun,”sebutnya.

Waktu selama itu tentunya membuat peternak akan kehilangan daya belinya. Ini akan memperburuk masalah ekonomi masyarakat khususnya mereka yang beternak babi. Untuk itu, kita mendorong pemerintah agar segera memberikan bantuan kebutuhan pokok dasar peternak, serta mengeluarkan anggaran untuk membatasi ruang gerak penyebaran virus tersebut.

“Untuk menyelamatkan potensi kerugian yang 4 Triliun tadi. Sebaiknya pemerintah menyiapkan anggaran optimal agar penyebaran virus dan kematian babi bisa dihentikan,”tukasnya.
HARGA PRODUK SUBSTITUSI NAIK

Kematian babi belakangan ini juga sangat potensial membuat sejumlah bahan pangan subtitusi dari babi seperti daging ayam, telur ayam maupun sapi berpeluang mengalami kenaikan harga. Menjelang perayaan Natal an Tahun Baru umumnya konsumsi akan protein akan mengalami peningkatan. Dan jika masyarakat yang biasa mengkonsumsi babi mengalihkan ke jenis protein lain, maka ada peluang kenaikan harga daging ayam, telur ayam maupun daging.

“Meskipun Balai Veteriner telah menegaskan bahwa babi yang terserang virus aman dagingnya untuk dikonsumsi manusia. Jadi seharusnya tidak ada kekuatiran yang berlebihan maupun tidak masuk akal. Untuk itu saya mengajurkan masyarakat agar terus memerangi berita yang tidak benar atau hoaks, karena sangat meresahkan,”tukasnya.

Masalah serangan virus ke babi ini bukan hanya dialamai oleh Sumatera Utara saja. Namun ini merupakan bencana global dimana negara lain pun mengalami hal yang sama. Tetangga kita yang terdekat Thailand juga mengalami masalah serupa.

“Untuk itu segera semua pihak atau stake holder khususnya pemerintah segera turun tangan untuk membatasi penyebaran virus tersebut, Agar tidak memicu multiplier efek lainnya yang bisa saja memicu kenaikan harga kebutuhan masyarakat pada umumnya,”tandasnya.

 

Penulis : Dhe Regar
Warga Kembali Temukan Bangkai Babi di Sungai Padang

Posted by On 16.32.00 with No comments

digtara.com | TEBINGTINGGI – Warga yang bermukim di sekitar bantaran Sungai Padang, Kota Tebingtinggi, dihebohkan dengan penemuan kembali bangkai  babi di aliran sungai yang membelah kota tersebut.

Sultan Galip (22) warga setempat yang pertama kali melihat bangkai babi itu mengatakan, saat itu ia sedang mencari cacing di pinggiran Sungai Padang, tepatnya di Kelurahan Tanjung Marulak Hilir Kecamatan Rambutan, Kota Tebingtinggi.

Saat berada di bendungan yang banyak sampah tersangkut, dia melihat bangkai babi ukuran sangat besar dan hampir membusuk tersangkut di tumpukan sampah.

“Kami pikir awalnya batang kayu,”sebut Sultan.

Penemuan bangkai babi itu kemudian dilaporkan kepada kepala lingkungan setempat. Sultan dan warga lainnya berharap agar segera menyampaikan kepada tim yang dibentuk pemkot melalui kelurahan, untuk segera mengevakuasi bangkai babi tersebut.

“Dikhawatirkan bangkai babi yang diperkirakan sudah 3-4 hari terendam itu akan pecah perutnya dan menimbulkan pencemaran,”tandasnya.

[AS]
Akhyar: Jangan Takut Makan Ikan

Posted by On 02.25.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution, mengajak warga Kota Medan untuk mengkonsumsi ikan dan hasil laut lainnya. Itu disampaikan Akhyar saat menghadiri kegiatan makan ikan bersama di halaman parkir dalam Pasar Cemara Medan, Senin (25/11/2019).

Acara itu dibuat untuk mensosialisasikan bahwa ikan yang dijual di Medan, aman dari pencemaran virus Hog Cholera (Kolera Babi). Penyebaran Kolera Babi ini menjadi pembahasan penting beberapa pekan terakhir. Itu karena masyarakat khawatir ikan-ikan mengkonsumsi bangkai babi terjangkit Kolera Babi yang dibuang di sejumlah sungai di Medan.

"Ikan yang dijual di pasaran merupakan ikan yang aman dan layak kita konsumsi. Ikan yang dijual merupakan ikan yang berasal dari tengah laut artinya ikan tersebut aman untuk dikonsumsi," kata Akhyar.

Menurut Akhyar, ikan yang berada di pasaran aman tidak terkena virus Kolera Babi seperti yang saat ini dirisaukan warga. Sebab ikan yang ada di pasaran berasal dari laut tengah sehingga aman dari sesuatu yang menjijikan.

"Marilah kita makan ikan, karena dengan makan ikan anak-anak dapat tumbuh berkembang dengan penuh gizi, sehat serta cerdas,"ajak Akhyar.

[caption id="attachment_39055" align="aligncenter" width="700"]Akhyar: Jangan Takut Makan Ikan Plt. Wali Kota Medan, Akhyar Nasution, melihat langsung proses pemasakan ikan di gelaran makan ikan bersama yang digelar di Pasar Cemara (ist)[/caption]

"Ikan yang ada di pasaran aman dari bakteri hog cholera aman dari sesuatu yang menjijikkan dan setelah diteliti oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan ikan tersebut tidak terkena virus dan aman di konsumsi. Air yang berada di tengah laut juga sudah diteliti dan sama sekali tidak ada sedikitpun mengandung virus tersebut. Ayo kembali makan ikan,"sebutnya lagi.

 
TIDAK MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN

Dalam kesempatan tersebut Akhyar tidak bosan-bosannya untuk mengingatkan masyarakat terutama para pedagang yang ada di Pasar Cemara untuk tidak membuang sampah sembarangan ke dalam parit. Selain itu, Akhyar juga menghimbau agar para pedagang mewadahi sampah sehingga sampah yang ada tidak berserakan.

"Pemko Medan saat ini tengah berupaya membuat Kota Medan bersih, namun tidak semua menyahuti dengan baik. Maka dari itu ayo. Kota Medan harus bersih salah satu caranya dengan mengurangi sampah plastik. Bersih itu bukan main-mainbersih itu serius," tegas Akhyar.

Sebelumnya, Ketua Komunitas Pedagang Ikan Juwari mengatakan bahwa para pedagang selama ini merasa risau karena terkena dampak sosial dari bangkai babi yang dibuang sembarangan ke sungai oleh oknum tidak bertanggung jawab.

[caption id="attachment_39053" align="aligncenter" width="700"]Akhyar: Jangan Takut Makan Ikan Akhyar makan bersama dengan sejumlah tokoh masyarakat (ist)[/caption]

"Hari ini melalui acara ini kami ingin menunjukkan dan meyakinkan kepada masyarakat luas bahwa ikan yang berada di pasaran sangat layak dan aman untuk di komsumsi. Jadi tidak alasan lagi bagi masyarakat untuk tidak mengkonsumsi ikan," jelas Juwari.

[AS]
14 Ekor Bangkai Babi Ditemukan di Aliran Sungai Padang

Posted by On 07.05.00 with No comments

digtara.com | TEBINTINGGI – Sebanyak 14 ekor bangkai babi ditemukan di alirang Sungai Padang, Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara, Sabtu (23/11/2019).

Bangkai babi itu diduga mati akibat terpapar virus Hoc Cholera atau Kolera Babi.

Camat Padang Hilir, Ramadhan Pulungan, menyatakan bahwa penemuan bangkai babi pertama kali diketahui oleh seorang warga yang mencium bau busuk di sekitar sungai.  Penemuan itu kemudian dilaporkan ke pihak Kecamatan dan Polsek setempat.

“Awalnya ditemukan sepuluh ekor bangkai babi tersangkut di akar pohon. Setelah dilakukan penyususuran di sepanjang sungai, ditemukan kembali empat ekor bangkai babi. Seluruh bangkai babi tersebut kemudian dievakuasi dan dikubur di sekitar lokasi penemuan,”sebut Ramadhan.

Ramadhan mengaku hingga saat ini pihaknya belum mengetahui siapa yang sengaja membuang babi tersebut. Polisi pun kini sedang menyelidiki pembuang bangkai babi tersebut. “Kita harap pelakunya segera tertangkap,”tukasnya.

Sebelumnya Dinas Ketahanan Pangan Pertanian Dan Peternakan Kota Tebing Tinggi menyebutkan ada 24 kasus kematian babi yang disebabkan Virus Kolera Babi. Namun jumlah itu kemungkinan akan bertambah, karena banyak peternak babi yang tidak melaporkan kematian ternaknya.

Untuk mengantisipasi bangkai babi yang dibuang sembarangan, Pemerintah Kota Tebingtinggi telah menyiapkan lahan untuk mengubur babi yang mati.

Saat ini, Kota Tebingtinggi menjadi salah satu daerah endemik Virus Kolera Babi. Selain Tebingtinggi, ada 15 kabupaten-kota lainnya di Sumatera Utara yang mengalami kondisi serupa.

Pemerintah daerah yang di 15 kabupaten/kota tersebut, bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, sudah melakukan beragam upaya agar tak lagi ada bangkai babi yang dibuang. Termasuk memberikan vaksin kepada ternak babi warga, dan membantu penguburan ternak babi warga yang mati akibat Kolera Babi.

[ERWAN/AS]