Popular Post

Total Pengunjung

Harga Minyak Terkoreksi Pagi Ini

Posted by On 18.41.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Setelah kemarin melaju kencang. Rabu (18/12) pukul 7.19 WIB harga minyak pagi ini turun. harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 60,58 per barel, turun 0,59% ketimbang harga penutupan perdagangan kemarin.

Selasa (17/12) kemarin, harga minyak WTI melesat 1,21% ke US$ 60,94 per barel. Ini adalah harga tertinggi minyak WTI sejak setelah serangan fasilitas minyak Saudi Aramco pertengahan September lalu.

Harga minyak brent bahkan mencapai level tertinggi yang lebih jauh. Kemarin, harga minyak brent untuk kontrak Februari 2020 di ICE Futures berada di US$ 66,10 per barel, naik 1,16% dari hari sebelumnya.

Harga minyak acuan internasional ini mencapai level tertinggi sejak 23 Mei 2019. Kenaikan harga minyak ini masih dipicu sambutan pasar atas kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China setelah perselisihan selama 17 bulan.

Baca Juga: Tertekan dalam dua tahun terakhir, IHSG berpotensi moncer pada 2020

Presiden The Fed Dallas Robert Kaplan mengatakan bahwa kesepakatan fase satu tidak berarti tensi akan hilang sama sekali dalam waktu dekat. "Fase satu lebih baik daripada tidak ada fase satu. Bukan berarti sudah tidak ada ketidakpastian perdagangan," kata Kaplan seperti dikutip Reuters.

Dia memperkirakan, proses penyelesaian masalah dagang dengan China akan berlangsung bertahun-tahun.

Di sisi lain, pasar minyak memandang positif tambahan pemangkasan produksi oleh OPEC+. Negara-negara pengekspor minyak ini akan menambah pemangkasan sebesar 500.000 barel per hari mulai Januari.

Sehingga total pemangkasan produksi di kuartal pertama tahun depan akan mencapai 1,7 juta barel per hari. "Kombinasi kenaikan minat risiko dan pemangkasan produksi OPEC+ yang lebih tinggi daripada prediksi akan menjaga permintaan sehingga membatasi penurunan harga," kata Jim Ritterbusch presiden Ritterbusch and Associates kepada Reuters.

Dari AS, American Petroleum Institute melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 4,7 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Desember. Analis dalam polling Reuters memperkirakan penurunan persediaan minyak 1,3 juta barel.

Data yang meleset inilah yang menyebabkan harga minyak koreksi pada pagi ini. Data resmi pemerintah AS akan dirilis pada hari ini.
Harga Minyak Dunia Naik Tipis

Posted by On 17.58.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Pada transaksi Senin (16/12) kemarin harga minyak dunia mencatatkan kenaikan tipis. Data yang dihimpun Reuters menunjukkan, harga minyak Brent ditutup naik 12 sen atau 0,2% menjadi US$ 65,34 per barel.

Bahkan pada transaksi sebelumnya, harga minyak Brent sempat menyentuh posisi US$ 65,79 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak 17 September lalu.

Adapun harga minyak West Texas Intermediate naik 14 sen atau 0,2% menjadi US$ 60,21 per barel.

Harga minyak terdongkrak adanya harapan akan kenaikan permintaan energi yang akan diuntungkan dari adanya kesepakatan dagang antara AS dengan China yang diumumkan pada pekan lalu.

Seperti yang diketahui, pada Jumat (13/12), Washington dan Beijing mengumumkan kesepakatan perdagangan fase satu. Pejabat AS bilang, sejumlah tarif akan dipangkas. Sebagai balasannya, China akan membeli produk pertanian AS dengan nilai yang cukup besar.

Kemajuan dari perjanjian dagang dapat mengerek permintaan minyak. Namun, Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago bilang, market masih menanti perjanjian di atas kertas.

"Market berhenti sejenak untuk menanti kelanjutan dari kesepakatan dagang AS-China. Kami berupaya untuk melakukan konsolidasi apakah harga minyak bisa bertahan di atas US$ 60 sebelum akhirnya naik lebih tinggi lagi," papar Flynn.

Kesepakatan untuk menarik tarif tambahan AS atas barang-barang China senilai US$ 160 miliar akan diberlakukan pada pekan ini.

"Apa yang dibutuhkan market sekarang adalah...kejelasan mengenai detil kesepakatan. Semakin lama kita menanti detil kesepakatan ini, semakin besar keraguan pelaku pasar mengenai seberapa bagus kesepakatan yang dihasilkan," jelas analis ING Economics.

Di sisi lain, harga minyak mendapatkan sokongan dari data ekonomi China yang dirilis Senin (16/12). Data itu menunjukkan output industri dan pertumbuhan ritel penjualan China melonjak melebihi ekspektasi pada November.

Sementara, harga minyak Brent sudah mencatatkan reli di sepanjang tahun ini, karena disokong oleh pemangkasan produksi minyak oleh negara-negara Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan aliansinya, termasuk Rusia. Pada bulan ini, mereka sepakat untuk menurunkan suplai minyak sebanyak 500.000 barel per hari mulai 1 Januari 2020 mendatang.
Harga Minyak Naik ke Level Tertinggi Hampir 3 Bulan

Posted by On 18.01.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.29 WIB, minyak Brent pengirim Februari 2020 ke level US$ 65 per barel atau naik 1,25% dari sesi sebelumnya. Tertinggi sejak 23 September.

Harga minyak mentah dunia naik ke level tertinggi hampir tiga bulan pada perdagangan Jumat (13/12). Tersulut kemajuan penyelesaian sengketa perdagangan Amerika Serikat (AS)-China dan hasil pemilihan umum Inggris.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) ke level US$ 59,74 per barel atau naik 0,95% dari sesi sebelumnya.

Berbagai sumber di AS pada Kamis (12/12), mengatakan bahwa Washington telah menetapkan ketentuan-ketentuannya untuk kesepakatan perdagangan dengan Beijing, menawarkan untuk menangguhkan beberapa tarif atas barang-barang dan memotong yang lain sebagai imbalan atas pembelian barang-barang pertanian Amerika oleh China.

"Kejadian 24 jam yang lalu telah menghapus lapisan ketidakpastian bagi ekonomi global," kata Stephen Brennock dari broker minyak PVM.

Diketahui, perang dagang yang berlangsung 18 bulan telah meredam harga minyak, begitu pula ketidakpastian seputar Brexit turut membebani. Partai Konservatif Inggris yang berkuasa memenangkan mayoritas besar dalam pemilihan umum hari Kamis, memberikannya kekuatan untuk membawa negara itu keluar dari Uni Eropa (Brexit).
Harga Minyak Global Masih Tertahan Negosiasi Perang Dagang

Posted by On 18.36.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Rabu (11/12) pukul 7.17 WIB harga minyak turun lagi setelah menguat sehari. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 59,08 per barel, turun 0,27% dari harga penutupan perdagangan kemarin.

Meski turun, harga minyak jenis light sweet ini cenderung stagnan sejak akhir pekan lalu. Rencana tambahan pemangkasan OPEC yang disepakati pekan lalu tidak mampu mengangkat harga minyak lebih tinggi. Pasar komoditas energi masih dibayangi negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang belum menunjukkan kejelasan.

Pekan lalu, OPEC+ menyepakati tambahan pemangkasan produksi sebesar 500.000 barel per hari yang akan berlaku hingga Maret 2020. Dengan tambahan ini, total pemangkasan produksi OPEC+ mencapai 1,7 juta barel per hari.

Gene McGillian, director of market research Tradition Energy mengatakan, setelah para produsen mengumumkan pemangkasan, pasar minyak bergerak sedikit di bawah level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. "Tapi tanpa kesepakatan dagang AS-China, harga minyak sulit terangkat dalam reli baru," kata dia kepada Reuters.

Menteri Pertanian AS Sonny Perdue mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak ingin mengimplementasikan tarif impor baru. Tapi, dia ingin ada upaya China untuk menghindari tarif ini.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa kedua pihak tengah menyusun dasar kesepakatan untuk menunda pengenaan tarif baru yang akan berlaku 15 Desember. Sementara itu, tingkat impor China terhadap komoditas utama AS yang meninggi, menunjukkan bahwa pengucuran stimulus oleh pemerintah telah membuahkan hasil.

American Petroleum Institute (API) akan merilis data persediaan minyak mentah. Selain itu, bank sentral AS Federal Reserve akan mengakhiri rapat FOMC nanti malam.
Awal Pekan, Harga Minyak Terjatuh

Posted by On 18.07.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Awal pekan ini. Senin (9/12/2019) pukul 7.02 WIB harga minyak turun. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 58,99 per barel.

Harga minyak ini turun 0,35% ketimbang harga penutupan perdagangan pekan lalu pada US$ 59,20 per barel. Sejalan, harga minyak brent untuk pengiriman Februari 2020 di ICE Futures turun 0,34% ke US$ 64,17 per barel ketimbang harga akhir pekan lalu pada US$ 64,39 per barel.

Jumat lalu, harga minyak melejit setelah OPEC+ menyetujui penambahan pemangkasan produksi minyak hingga 500.000 barel per hari pada kuartal pertama 2020. Dengan tambahan ini, total pemangkasan produksi OPEC+ di kuartal pertama mencapai 1,7 juta barel per hari atau 1,7% dari total permintaan global.

Menteri Energy Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan, pemangkasan efektif Saudi akan mencapai 2,1 juta barel per hari karena Saudi akan memangkas lebih banyak daripada kuota.

Amrita Sen, co-founder Energy Aspects mengatakan, tujuan menteri energy Saudi bukan untuk mengangkat harga minyak, tapi menetapkan batas bawah paling kuat di kuartal pertama untuk menahan pelemahan musiman kuartal pertama.

"Saudi percaya bahwa OPEC perlu menaikkan produksi di semester kedua 2020, makanya jangka waktu pembatasan ini pendek," kata Sen seperti dikutip Reuters.

Phil Flynn, analis Price Futures Group mengatakan hal serupa. Pemangkasan ini dilakukan ketika permintaan akan lebih tinggi dan akan menambah tekanan pada harga produk minyak, terutama diesel dengan sulfur sangat rendah, menjelang peraturan bahan bakar kapal IMO 2020. "Meski respons pasar terbatas, jangan salah, keputusan OPEC ini akan menciptakan batas terendah harga minyak," kata dia.

Hans Van Cleef, senior energy economist ABN AMRO mengatakan, pasar minyak kecewa karena pemangkasan hanya 500.000 barel per hari. Dia melihat, pemangkasan ini hanya formalisasi tingkat kepatuhan anggota dalam beberapa bulan.

Sementara Goldman Sachs menaikkan prediksi harga minyak brent tahun 2020 menjadi US$ 63 per barel dari sebelumnya US$ 60 per barel dengan harga jangka panjang US$ 55 per barel. Goldman pun memprediksi harga minyak WTI berada di US$ 58,50 per barel dengan harga jangka panjang US$ 50 per barel.
Harga Minyak Dunia Naik Tipis

Posted by On 19.03.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Perdagangan Kamis (5/12) Harga minyak dunia naik tipis. Meski OPEC dan mitranya merencanakan penurunan produksi terdalam dekade ini untuk mencegah kelebihan pasokan.

Minyak mentah Brent berjangka ditutup pada US$ 63,39 per barel, naik 39 sen atau 0,6%. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berakhir di US$ 58,43 per barel, tidak berubah dari sesi sebelumnya. Setelah mencapai tertinggi sejak akhir September di awal sesi.

Panel menteri anggota kunci Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya yang dipimpin oleh Rusia, dikenal sebagai OPEC +, merekomendasikan penurunan produksi sebesar 500.000 barel per hari (bph) pada kuartal pertama 2020, menurut Menteri Energi Rusia Alexander Novak.

OPEC + telah setuju untuk secara sukarela mengurangi pasokan sejak 2017 untuk melawan peningkatan produksi dari Amerika Serikat (AS), yang sekarang merupakan produsen top dunia.

Pembatasan pasokan 1,2 juta barel per hari ditetapkan akan berakhir pada bulan Maret. Pemotongan 1,7 juta barel per hari akan berjumlah 1,7% dari pasokan global.

Asal tahu, para menteri OPEC berkumpul pada hari Kamis di Wina dan OPEC + akan bertemu lagi pada hari Jumat untuk menyampaikan suara pada kesepakatan.

"Kami berada di ujung tombak menunggu untuk melihat apa pengumuman yang sebenarnya akan terjadi, jadi itu sebabnya naik turun," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago.
Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 3%

Posted by On 18.19.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Perdagangan Rabu (4/12) kemarin Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3%. Di tengah ekspektasi bahwa organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan mitranya akan memperpanjang pembatasan produksi. Ditambah data produksi minyak Amerika Serikat (AS) menunjukkan penurunan besar.

Mengutip Reuters, minyak mentah berjangka Brent mengakhiri sesi naik US$ 2,31, atau 3,8%, mencapai US$ 63,14 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) berakhir naik US$ 2,33, atau 4,2%, pada US$ 58,43 setelah menyentuh sesi tinggi US$ 58,66 per barel.

OPEC dan sekutu-sekutu termasuk Rusia atau OPEC +, dapat menyetujui pengurangan produksi minyak mentah lebih dalam ketika mereka bertemu di Wina pekan ini.

Menteri perminyakan Irak Thamer Ghadhban mengatakan kepada wartawan di Wina pada hari Selasa (3/12) bahwa "pemotongan lebih dalam lebih disukai oleh sejumlah anggota kunci".

Pada hari Rabu, Ghadhban mengatakan ia akan mendukung setidaknya memperpanjang pemotongan yang ada hingga akhir 2020.

"Kita harus memberikan sinyal positif kepada pasar dan bagi saya setidaknya kita harus menggulirkan perjanjian saat ini," katanya.

Sementara itu, Administrasi Informasi Energi AS melaporkan persediaan minyak turun 4,9 juta barel dalam sepekan ke 29 November. Jauh dari prediksi analis yakni penurunan 1,7 juta barel.
Harga Minyak Global Kembali Terkoreksi

Posted by On 18.02.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Awal perdagangan pagi ini. Kamis (28/11/2019) harga minyak kembali terkoreksi pukul 07.40 WIB, harga minyak untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 57,88 per barel, turun 0,39% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 58,11 per barel.

Koreksi harga minyak dipicu oleh data produksi minyak Amerika Serikat yang mencapai rekor tertinggi dan Presiden AS Donald Trump yang menandatangani RUU mengenai dukungan bagi para demonstran Hong Kong yang berpotensi mempersulit perundingan dagang dengan China.

Energy Information Administration (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS naik 1,57 juta barel pekan lalu dan output mencapai 12,9 juta barel per hari.

"Perkiraan WIA tentang peningkatan produksi minyak mentah lebih lanjut ke rekor 12,9 juta barel per hari tampaknya memberikan katalis yang signifikan di balik penjualan hari ini," kata Jim Ritterbusch, presiden dan penasihat perdagangan Ritterbusch and Assosiates dalam riset yang dikutip Reuters.
Jelang Pertemuan OPEC, Harga Minyak Global Cenderung Menguat

Posted by On 17.15.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan kemarin harga minyak terkoreksi tipis setelah kemarin menguat. Selasa (26/11) pukul 7.06 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 57,94 per barel, turun tipis dari harga penutupan perdagangan kemarin pada US$ 58,01 per barel.

Kemarin, harga minyak menguat 0,41% karena optimisme negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Optimisme ini mencuat sejak Kamis pekan lalu dan sedikit mengerek harga minyak dari kisaran sempit sekitar US$ 57 per barel sejak awal November. Harga minyak kemarin turut disokong oleh rekor tertinggi pasar saham AS.

Craig Erlam, senior market analyst Oanda mengatakan, harga minyak cenderung stabil meski sensitivitas terhadap berita dagang masih tinggi. "Momentum jelas kurang dalam kenaikan harga minyak belakangan, meski kenaikan pekan lalu menyokong optimisme," kata Erlam kepada Reuters.

Sabtu lalu, penasihat keamanan nasional AS Robert O'Brien mengatakan bahwa kesepakatan dagang awal dengan China masih mungkin tercapai di akhir tahun. Kemarin, koran Global Times di China yang mengutip ahli yang dekat dengan pemerintah China melaporkan bahwa China dan AS telah mencapai konsensus luas pada kesepakatan fase satu meski masih ada perbedaan soal penghapusan tarif.

Dari Timur Tengah, kericuhan di Iran dan Irak masih menjadi salah satu penopang harga minyak. Hari Minggu lalu, terjadi bentrok demonstran dan pihak keamanan di Baghdad dan beberapa kota di selatan Irak. Sembilan orang tewas dan puluhan orang terluka.

Pasar minyak pekan ini cenderung stabil menunggu keputusan OPEC yang akan bertemu pada pekan depan. OPEC dan Rusia diramal akan memperpanjang periode kesepakatan pemangkasan produksi hingga tengah tahun depan.
Awal Pekan, Harga Minyak Merangkak Naik

Posted by On 16.53.00 with No comments

digtara.com | AKARTA -  Awal pekan ini. Senin (25/11/2019) pukul 7.15 WIB harga minyak menanjak. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 57,96 per barel, naik 0,33% ketimbang harga penutupan perdagangan pekan lalu.

Sejalan, harga minyak brent untuk pengiriman Januari 2020 di ICE Futures menguat 0,24% ke US$ 63,54 per barel.

Harga minyak ini berada di kisaran tertinggi sejak setelah serangan fasilitas minyak Saudi Aramco pada pertengahan September lalu. "Faktor kunci prospek permintaan minyak adalah negosiasi dagang," kata Michael McCarthy, chief market strategist CMC Markets and Stockbroking kepada Reuters.

Dengan harga minyak yang mendekati level tertinggi kisaran perdagangan belakangan, tekanan jual masih berpeluang terjadi.

Baker Hughes Co melaporkan bahwa ada penurunan jumlah rig beroperasi hingga akhir pekan lalu menjadi 671. Jumlah rig beroperasi ini turun tiga ketimbang pekan sebelumnya. Jumlah rig ini pun merosot dari 885 rig aktif pada pekan yang sama tahun lalu.

Jumlah rig aktif yang merupakan indikator awal produksi minyak, turun dalam 11 bulan berturut-turut. Perusahaan eksplorasi independen dan produksi memangkas belanja pengeboran baru karena para pemegang saham mencari return yang lebih baik di tengah harga minyak yang rendah.

"Hampir dua pertiga penurunan rig dalam 12 bulan terakhir terjadi karena perusahaan swasta menghentikan pengeboran," ungkap Enverus dalam laporan yang dikutip Reuters.

Meski jumlah rig aktif turun, tingkat produksi minyak Amerika Serikat (AS) terus meningkat karena produktivitas shale oil naik.

Di sisi lain, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan Rusia kemungkinan akan memperpanjang pemangkasan produksi tiga bulan. Keputusan ini akan dibicarakan pada pertemuan 5-6 Desember mendatang.

Saat ini, OPEC+ menyepakati pemangkasan produksi hingga Maret 2020. Dengan tambahan tiga bulan, pemangkasan produksi akan berlangsung hingga pertengahan 2020. OPEC pun akan meningkatkan kepatuhan kesepakatan terutama bagi Irak dan Nigeria yang masih memproduksi lebih tinggi.

"Kepatuhan kesepakatan Irak dan Nigeria bisa memangkas 300.000-400.000 barel per hari dari level produksi OPEC sehingga menyeimbangkan pasar pada semester pertama 2020 dan kemungkinan defisit pasokan pada semester kedua," ungkap broker minyak PVM seperti dikutip Reuters.
Ekonomi Global Tekan Harga Minyak

Posted by On 17.44.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Berdasarkan data Reuters menunjukkan Harga minyak dunia mencatatkan penurunan dari level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Harga minyak Brent melemah 58 sen menjadi US$ 63,39 per barel, setelah sebelumnya menyentuh lebel US$ 64,27 per barel.

Sementara, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 81 sen menjadi US$ 57,77 per barel, melorot dari level tertinggi US$ 58,74 awal sesi.

Sepanjang minggu ini, harga minyak tak banyak mengalami perubahan.

Penurunan harga minyak terjadi akibat kecemasan mengenai perundingan dagang yang dibayang-bayangi oleh ekspektasi pemangkasan produksi OPEC.

"Situasi AS-China tidak terlihat terlalu positif, sehingga hal itu menghapus reli harga minyak yang terjadi di sepanjang pekan ini," jelas John Kilduff, seorang partner Again Capital Management di New York kepada Reuters.

Ketidakpastian terkait AS dan China akan mencapai kata sepakat akan meningkatkan sejumlah tekanan pada ekonomi global serta menekan harga minyak.

Pada Jumat, Presiden China Xi Jinping mengatakan China ingin mencapai kata sepakat dengan AS dan berupaya untuk menghindari perang dagang. Namun, dia menegaskan akan membalas jika dirasa perlu.

"Faktor utama untuk outlook permintaan harga minyak adalah negosiasi dagang," jelas Michael McCarthy, chief market strategist CMC Markets and Stockbroking di Sydney.

"Dengan harga minyak mendekati level perdagangan saat ini, tidak mengejutkan saat melihat ada tekanan jual."

Harga minyak mengalami reli ke level tertinggi sejak akhir September pada Kamis setelah Reuters melaporkan bahwa Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan Rusia akan memperpanjang masa pelaksanaan pemangkasan produksi minyak selama tiga bulan hingga pertengahan 2020, saat mereka menggelar pertemuan pada 5-6 Desember mendatang.
Harga Minyak Global Merosot Lebih dari USD1 Per Barel

Posted by On 18.44.00 with No comments

digtara,com | JAKARTA – Akhir perdagangan 19 November 2019 kemarin harga minyak turun lebih dari USD1 per barel. Harga minyak merosot di tengah kekhawatiran tentang kelebihan pasokan minyak mentah global dan terbatasnya kemajuan penyelesaian sengketa perdagangan AS-China yang telah mengaburkan prospek permintaan minyak.

Mengutip Reuters, Rabu (20/11/2019), minyak mentah Brent LCOc1 berjangka turun USD1,53 atau 2,5% menjadi USD60,91 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS CLc1 berjangka kehilangan USD1,84 atau 3,2% menjadi menetap di USD55,21 per barel.

Brent telah rally sekitar 15% tahun ini, didukung oleh pakta oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutu-sekutunya, termasuk Rusia - kelompok yang dikenal sebagai OPEC + - untuk memangkas produksi minyak gabungan sebesar 1,2 juta barel per hari dari 1 Januari.

Rusia tampaknya tidak akan setuju untuk memperdalam penurunan produksi minyak pada pertemuan dengan sesama eksportir bulan depan tetapi dapat berkomitmen untuk memperpanjang pembatasan yang ada untuk mendukung Arab Saudi, tiga sumber mengatakan.

OPEC dan sekutunya akan mempertimbangkan apakah akan memperdalam pemotongan pasokan minyak mentah ketika mereka bertemu berikutnya pada bulan Desember karena kekhawatiran tentang pertumbuhan permintaan yang lemah pada tahun 2020, sumber dari klub produsen minyak mengatakan.

“Kami mengharapkan pembicaraan tidak nyaman di bulan Desember. Rusia tidak akan secara kategoris setuju untuk (memperdalam) pemotongan di musim dingin, ” kata sumber.

Berita tentang sikap Rusia mengirim harga minyak lebih rendah karena investor khawatir tentang potensi kelebihan pasokan.
Harga Minyak Mentah Dunia Semakin Panas

Posted by On 17.23.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Kamis (14/11) kemarin harga minyak mentah dunia semakin panas. Setelah data industri terbaru menunjukkan penurunan pasokan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Ditambah komentar dari kelompok negara pengekspor minyak (OPEC) yang menyatakan produksi minyak serpih (shale) AS pada 2020 lebih rendah dari prediksi.

Berdasarkan data Bloomberg, pukul 22.22 WIB, minyak Brent pengiriman Januari 2020 ke level US$ 63,05 per barel atau naik 1,09% dari sesi sebelumnya. Melanjutkan kenaikan dua hari.

Sedangkan, minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Desember 2019 ke level US$ 57,70 per barel atau naik 1,02% dari sesi sebelumnya.

American Petroleum Institute melaporkan penurunan tak terduga dalam stok minyak mentah AS sebesar 541.000 barel dalam sepekan hingga 8 November, terhadap ekspektasi analis akan kenaikan 1,6 juta barel.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) OPEC Mohammad Barkindo mengatakan kemungkinan akan ada revisi pasokan ke tahun 2020, terutama dari minyak serpih AS.

Barkindo mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan apakah pengurangan produksi lebih lanjut diperlukan.

Hari ini, OPEC memprediksi surplus minyak mentah tahun depan akan menipis. Meskipun masih mengharapkan permintaan minyak mentahnya turun lantaran negara pengekspor minyak lainnya tengah memompa minyak lebih banyak.

Dengan penurunan permintaan minyak dapat menekan kelompok eksportir dan mitranya seperti Rusia untuk mempertahankan pembatasan pasokan pada pertemuan 5-6 Desember.

"Hitungan mundur ke pertemuan Negara-negara OPEC telah dimulai, dan pertanyaan apakah kelompok itu dan sekutunya akan memangkas pasokan lebih lanjut," kata Norbert Rucker, kepala ekonom bank Swiss Julius Baer dilansir dari Reuters.

"Kondisi pasar saat ini sedang menguji kesabaran dan kohesi negara-negara minyak. Setiap perubahan besar dalam kebijakan akan mengejutkan".

American Petroleum Institute melaporkan penurunan tak terduga dalam stok minyak mentah AS sebesar 541.000 barel dalam sepekan hingga 8 November, terhadap ekspektasi analis akan kenaikan 1,6 juta barel.
Donald Trump Bikin Geger Bikin Harga Minyak Melorot

Posted by On 17.19.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Soal Donald Trump kembali membuat geger pasar global, dengan mengeluarkan pernyataan bahwa dirinya siap membatalkan kesepakatan perang dagang dengan China, jika tidak memberikan keuntungan bagi Negeri Paman Sam tersebut.

Kekecewaan pasar pun direspon dengan melorotnya harga minyak global pada perdagangan Rabu (13/11).

Mengutip Bloomberg, pergerakan minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2019 di New York Mercantile Exchange turun 0,79% ke US$ 56,35 per barel.

Menurut Analis Monex Investindo Faisyal mengatakan, sikap Trump yang masih tarik ulur membuat pasar kecewa. Ditambah lagi, Presiden AS tersebut belum memberikan informasi detail dimana dan kapan kesepakatan dagang dengan China akan berlangsung.

"Sikap Trump tersebut, juga memicu pandangan akan risiko pelambatan ekonomi global ke depan," ungkap Faisyal.

Sentimen lainnya yang juga berhasil menyeret harga minyak turun yakni data Badan Energi Internasional (IEA) yang memperkirakan bahwa permintaan minyak di 2025 bakal mengalami penurunan. Di mana, pertumbuhan permintaan minyak global diperkirakan bakal melambat sebanyak 100.000 barel per hari.

Untuk itu, Faisyal memperkirakan pergerakan minyak hingga akhir tahun bakal berada di rentang US$ 50 per barel hingga US$ 60 per barel. Secara teknikal, harga pun masih bergerak sideways akibat sentimen yang cenderung tarik ulur.

Di sisi lain, pasar juga tengah menanti keputusan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) terkait produksi minyak ke depan. Mengingat, Desember nanti akan ada pertemuan OPEC yang akan membahas perpanjang produksi atau mungkin memperdalam pemangkasan produksi minyak ke depan.

"Sentimen perang dagang AS dengan China, serta produksi OPEC masih tarik ulur untuk prospek harga minyak ke depan," jelasny
Harga Minyak Global Turun Sentuh S$56,63 Per Barel

Posted by On 17.40.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Hari kedua perdagangan pekan ini. Selasa (12/11) pukul 7.20 WIB harga minyak turun lagi. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2019 di New York Mercantile Exchange turun 0,40% ke US$ 56,63 per barel.

Untuk harga minyak brent untuk pengiriman Januari 2020 di ICE Futures turun 0,53% ke US$ 62,18 per barel pada pagi ini.

Harga minyak tertekan di tengah potensi negosiasi dagang Amerika Serikat (AS) yang diramal mandek. Ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pembicaraan dagang AS-China berjalan lebih lambat daripada prediksi dia. Trump pun membantah pembatalan tarif impor yang sudah berlaku bagi China sebagai salah satu kesepakatan dagang kedua negara.

Pernyataan Trump akhir pekan lalu ini menjadi bayang-bayang gelap pasar keuangan global sejak kemarin. Penundaan kesepakatan dagang berpeluang kembali menekan permintaan minyak yang sudah diramal melambat.

"Perdagangan minyak akan cenderung mendatar pada saat ini dengan konflik perdagangan yang akan menentukan arah harga," ungkap Commerzbank dalam catatan yang dikutip Reuters.

Sementara itu, trader yang mengutip laporan Genscape mengungkapkan bahwa stok minyak mentah di Cushing, Oklahoma turun 1,2 juta barel pada pekan lalu. Jika benar, ini akan menjadi kenaikan stok untuk pertama kalinya setelah penurunan lima pekan berturut-turut.

Menurut data pemerintah, kenaikan stok minyak terakhir adalah pada 1 November lalu. Analis memperkirakan, kenaikan stok minyak ini akan berakhir setelah perbaikan jaringan pipa Keystone yang mengalirkan 590.000 minyak per hari.

TC Energy Corp mengatakan bahwa jaringan pipa ini telah beroperasi kembali secara bertahap.

Dari pasokan global, Arab Saudi menaikkan produksi minyak menjadi 10,3 juta barel per hari. Kenaikan ini terutama untuk menutup penggunaan cadangan akibat serangan drone ke fasilitas Saudi Aramco pertengahan September lalu. "Aramco menambah kembali persediaan yang sebelumnya ditarik pada bulan September untuk memenuhi pasokan kepada pelanggan," ungkap sumber Reuters.

Saudi melaporkan bahwa produksi minyak bulan September hanya mencapai 660.000 barel per hari dari produksi Agustus yang sebesar 9,13 juta barel per hari.
Harga Minyak Masih Terus Melanjutkan Tren Kenaikan

Posted by On 17.52.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2019 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 57,07 per barel, turun 0,28% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 57,23 per barel.

Harga minyak masih terus melanjutkan tren kenaikan meski terkoreksi tipis di awal perdagangan Rabu (6/11/2019) sekira Pukul 07.30 WIB.

Harga minyak masih dalam tren menanjak ditopang oleh optimisme kesepakatan perdagangan Amerika Serikat dan China yang rencananya akan diteken pada bulan ini.

Selain itu, tren kenaikan harga minyak juga didorong oleh pernyataan OPEC tentang permintaan minyak tahun depan yang diperkirakan naik pada tahun depan.

Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo optimistis tentang prospek pasar minyak pada tahun depan. Bahkan, "Berdasarkan angka-angka awal, pada tahun 2020 tampaknya ada potensi kenaikan (permintaan) minyak," katanya seperti dikutip Reuters.

Optimisme itu didukung oleh sentimen pasar belakangan yang optimis seperti kesepakatan dagang AS-China yang sebentar lagi akan diteken. Hal ini tentu akan mendongkrak permintaan minyak.
Harga Minyak Kembali Terkoreksi Tipis

Posted by On 17.21.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Harga minyak pagi ini kembali terkoreksi tipis meski masih bertahan di level tertinggi mingguannya yakni di US$56 per barel.

Perdagangan Selasa (5/11/2019) sekira pukul 07.30 WIB harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2019 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 56,47 per barel, turun 0,12% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 56,54 per barel.

Namun, bila dilihat trennya, harga minyak masih cenderung naik terdorong optimisme kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan China yang semakin dekat.

Pejabat pemerintah China kini tengah mempertimbangkan lokasi di AS tempat kedua pemimpin negara akan bertemu untuk menandatangani kesepakatan perdagangan.

"Kedua belah pihak baik Chna dan AS berbicara banyak tentang kesepakatan dagang. Dan Federal Reserve condong dalam situasi ekonomi yang terlibat lebih baik. Ini mengangkat semua (sentimen positif untuk harga minyak)," kata John Kilduff, mitra Again Capital LCC seperti dikutip Reuters.
Harga Minyak Global Tekoreksi Tipis

Posted by On 18.10.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Awal perdagangan pekan ini. Senin (4/11/2019) sekira pukul 07.30 WIB. Harga minyak terkoreksi tipis di pasar spot hari ini.

Harga minyak jenis west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2019 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 56,09 per barel, turun 0,19% dari akhir pekan lalu yang ada di U$ 56,20 per barel.

Koreksi harga minyak terdorong sentimen dari kabar rencana IPO Saudi Aramco. Selain itu, data pekerjaan AS terbaru yang dirilis Jumat pekan lalu membuat harga minyak masih bertahan di level US$ 56 per barel meski sedikit koreksi.

Meski begitu, bila melihat tren harga minyak selama pekan lalu, kini harga minyak masih cenderung menunjukkan tren kenaikan.

"Dengan data laporan ketenagakerjaan AS dan The Fed yang baru-baru ini menurunkan suku bunga, itu pasti akan meredakan beberapa kekhawatiran seputar pertumbuhan ekonomi AS," kata McGillian, Vice President of market research Tradition Energy seperti dikutip Reuters.