Popular Post

Total Pengunjung

Harga Minyak Global Naik Tipis

Posted by On 18.12.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Sejak awal pekan ini, harga minyak melanjutkan penguatan tipis. Sedangkan di perdagangan Selasa (24/12) pukul 7.30 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 60,59 per barel, naik tipis ketimbang harga penutupan perdagangan kemarin pada US$ 60,52 per barel.

Harga minyak telah menguat 24,62% sepanjang tahun ini. Sejumlah penopang harga minyak pada akhir tahun ini antara lain rencana pemangkasan produksi OPEC+ hingga akhir kuartal pertama 2020. Selain itu, Arab Saudi menekan Irak untuk mematuhi komitmen pemangkasan hingga tahun depan.

Kenaikan harga minyak dalam dua hari berturut-turut ini juga dipicu oleh rencana pemangkasan tarif impor China atas berbagai produk, termasuk makana dan suku cadangan produk telepon pintar.

Rusia mengatakan bahwa OPEC+ kemungkinan akan melonggarkan pemangkasan pada tahun depan. Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan bahwa keputusan ini mungkin akan terjadi pada pertemuan Maret 2020.

"Kami bisa mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk pelonggaran kuota secara bertahap atau melanjutkan pemangkasan," kata Novak seperti dikutip Reuters. Novak menambahkan bahwa produksi minyak Rusia berpeluang mencetak rekor tertinggi pada tahun ini.

Sementara pasokan minyak non-OPEC diprediksi naik pada tahun depan karena kenaikan produksi dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat (AS), Brasil, Norwegia, dan Guyana.

Pasokan juga berpotensi bertambah setelah Kuwait mengindikasikan bahwa perselisihan panjang pada Zona Netral yang terletak di perbatasan dengan Saudi akan rampung pada akhir 2019. Produksi di dua ladang minyak besar di Zona Netral dihentikan lebih dari tiga tahun lalu. Hal ini menyebabkan penurunan produksi global sebesar 500.000 barel per hari.

"Harga minyak masih moderat setelah penurunan akibat pernyataan Kuwait dan Saudi soal produksi di perbatasan. Tapi, harga minyak WTI dan Brent bisa bertahan di atas masing-masing US$ 60 dan US$ 65 hingga beberapa pekan Januari," kata Edward Moya, senior market analyst OANDA
Harga Minyak Turun Lagi di Awal Pekan Ini

Posted by On 18.47.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Kamis (19/12) lalu menyentuh level tertinggi sejak akhir Mei 2019 Harga minyak turun lagi di awal pekan ini setelah.

Senin (23/12) pukul 7.22 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk kontrak Februari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 60,42 per barel, turun 0,03% ketimbang posisi akhir pekan pada US$ 60,44 per barel.

Harga minyak ini sudah turun 1,24% ketimbang harga Kamis lalu. Penurunan lebih kecil tampak pada harga minyak brent, yakni 0,67% dalam dua hari perdagangan terakhir.

Harga minyak brent untuk pengiriman Februari 2020 di ICE Futures pagi ini berada di US$ 66,09 per barel, turun tipis dari US$ 66,14 per barel pada akhir pekan lalu.

Kenaikan harga minyak ditenagai oleh meredanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Gencatan senjata dua konsumen terbesar minyak dunia ini berpotensi mengalirkan permintaan minyak pada tahun depan. "Fokus pasar masih berada pada perkembangan situasi dagang AS-China sepanjang pekan lalu," kata John Kilduff, partner Again Capital kepada Reuters.

Kamis pekan lalu, China mengumumkan daftar pengecualian tarif impor untuk enam produk minyak dan kimia dari AS. Kesepakatan dagang Amerika Utara lewat US-Mexico-Canada Agreement (USMCA) juga turut mengangkat harga minyak sepekan lalu. Kesepakatan ini pun telah rampung di parlemen pada hari Kamis.

Tapi, kenaikan harga minyak ini tertahan menjelang musim libur Natal dan tahun baru. "Harga sudah menguat cukup besar beberapa hari dan pelaku pasar mungkin tidak akan menahan posisi hingga libur," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group kepada Reuters.

Di akhir pekan, Baker Hughes Co melaporkan bahwa ada kenaikan jumlah rig beroperasi di AS. Ada tambahan 18 rig pada sepekan yang berakhir 20 Desember lalu. Sehingga ada total 685 rig beroperasi di AS yang merupakan level tertinggi sejak November.

Carsten Menke, analis Julius Baer mengatakan di akhir tahun pergerakan harga komoditas cenderung mendatar. "Mendekati 2020, komoditas akan diperdagangkan di kisaran terbatas," kata Menke.
Harga Minyak Berkonsolidasi di Level Tertinggi

Posted by On 18.11.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Kamis (19/12) pukul 7.23 WIB Harga minyak berkonsolidasi di sekitar level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 60,89 per barel, turun 0,07% ketimbang harga penutupan perdagangan kemarin.

Harga minyak WTI bergerak di kisaran sempit sejak awal pekan ini. Harga minyak mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir pada Selasa lalu di level US$ 60,94 per barel.

Harga minyak brent bahkan mencapai level tertinggi sejak Mei. Kemarin, harga minyak brent untuk pengiriman Februari 2020 di ICE Futures berada di US$ 66,17 per barel, tertinggi sejak 23 Mei 2019.

Data Energy Information Administration (EIA) yang dirilis kemarin menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) turun 1,1 juta barel ke 446,8 juta barel pada pekan lalu. Angka ini sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan prediksi polling Reuters yang meramalkan penurunan 1,3 juta barel.

Sementara persediaan bensin dan distilat naik masing-masing 2,5 juta barel dan 1,5 juta barel pada pekan lalu. Data keluaran pemerintah ini berkebalikan dengan data grup industri American Petroleum Institute (API) yang melaporkan kenaikan persediaan minyak sebesar 4,7 juta barel.

"Reaksi pasar lebih kuat karena ternyata data jauh dari estimasi industri," kata Tony Headrick, energy market analyst CHS Hedging kepada Reuters. Dia menambahkan bahwa tren naik masih akan kuat ditopang oleh ekspektasi permintaan setelah kesepakatan dagang AS-China.

RBC Capital Markets memperkirakan, harga minyak bisa stagnan jika perkembangan kesepakatan dagang tidak terealisasi pada pertumbuhan ekonomi.
Harga Minyak Terkoreksi Pagi Ini

Posted by On 18.41.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Setelah kemarin melaju kencang. Rabu (18/12) pukul 7.19 WIB harga minyak pagi ini turun. harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 60,58 per barel, turun 0,59% ketimbang harga penutupan perdagangan kemarin.

Selasa (17/12) kemarin, harga minyak WTI melesat 1,21% ke US$ 60,94 per barel. Ini adalah harga tertinggi minyak WTI sejak setelah serangan fasilitas minyak Saudi Aramco pertengahan September lalu.

Harga minyak brent bahkan mencapai level tertinggi yang lebih jauh. Kemarin, harga minyak brent untuk kontrak Februari 2020 di ICE Futures berada di US$ 66,10 per barel, naik 1,16% dari hari sebelumnya.

Harga minyak acuan internasional ini mencapai level tertinggi sejak 23 Mei 2019. Kenaikan harga minyak ini masih dipicu sambutan pasar atas kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China setelah perselisihan selama 17 bulan.

Baca Juga: Tertekan dalam dua tahun terakhir, IHSG berpotensi moncer pada 2020

Presiden The Fed Dallas Robert Kaplan mengatakan bahwa kesepakatan fase satu tidak berarti tensi akan hilang sama sekali dalam waktu dekat. "Fase satu lebih baik daripada tidak ada fase satu. Bukan berarti sudah tidak ada ketidakpastian perdagangan," kata Kaplan seperti dikutip Reuters.

Dia memperkirakan, proses penyelesaian masalah dagang dengan China akan berlangsung bertahun-tahun.

Di sisi lain, pasar minyak memandang positif tambahan pemangkasan produksi oleh OPEC+. Negara-negara pengekspor minyak ini akan menambah pemangkasan sebesar 500.000 barel per hari mulai Januari.

Sehingga total pemangkasan produksi di kuartal pertama tahun depan akan mencapai 1,7 juta barel per hari. "Kombinasi kenaikan minat risiko dan pemangkasan produksi OPEC+ yang lebih tinggi daripada prediksi akan menjaga permintaan sehingga membatasi penurunan harga," kata Jim Ritterbusch presiden Ritterbusch and Associates kepada Reuters.

Dari AS, American Petroleum Institute melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 4,7 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Desember. Analis dalam polling Reuters memperkirakan penurunan persediaan minyak 1,3 juta barel.

Data yang meleset inilah yang menyebabkan harga minyak koreksi pada pagi ini. Data resmi pemerintah AS akan dirilis pada hari ini.
Harga Minyak Dunia Naik Tipis

Posted by On 17.58.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Pada transaksi Senin (16/12) kemarin harga minyak dunia mencatatkan kenaikan tipis. Data yang dihimpun Reuters menunjukkan, harga minyak Brent ditutup naik 12 sen atau 0,2% menjadi US$ 65,34 per barel.

Bahkan pada transaksi sebelumnya, harga minyak Brent sempat menyentuh posisi US$ 65,79 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak 17 September lalu.

Adapun harga minyak West Texas Intermediate naik 14 sen atau 0,2% menjadi US$ 60,21 per barel.

Harga minyak terdongkrak adanya harapan akan kenaikan permintaan energi yang akan diuntungkan dari adanya kesepakatan dagang antara AS dengan China yang diumumkan pada pekan lalu.

Seperti yang diketahui, pada Jumat (13/12), Washington dan Beijing mengumumkan kesepakatan perdagangan fase satu. Pejabat AS bilang, sejumlah tarif akan dipangkas. Sebagai balasannya, China akan membeli produk pertanian AS dengan nilai yang cukup besar.

Kemajuan dari perjanjian dagang dapat mengerek permintaan minyak. Namun, Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago bilang, market masih menanti perjanjian di atas kertas.

"Market berhenti sejenak untuk menanti kelanjutan dari kesepakatan dagang AS-China. Kami berupaya untuk melakukan konsolidasi apakah harga minyak bisa bertahan di atas US$ 60 sebelum akhirnya naik lebih tinggi lagi," papar Flynn.

Kesepakatan untuk menarik tarif tambahan AS atas barang-barang China senilai US$ 160 miliar akan diberlakukan pada pekan ini.

"Apa yang dibutuhkan market sekarang adalah...kejelasan mengenai detil kesepakatan. Semakin lama kita menanti detil kesepakatan ini, semakin besar keraguan pelaku pasar mengenai seberapa bagus kesepakatan yang dihasilkan," jelas analis ING Economics.

Di sisi lain, harga minyak mendapatkan sokongan dari data ekonomi China yang dirilis Senin (16/12). Data itu menunjukkan output industri dan pertumbuhan ritel penjualan China melonjak melebihi ekspektasi pada November.

Sementara, harga minyak Brent sudah mencatatkan reli di sepanjang tahun ini, karena disokong oleh pemangkasan produksi minyak oleh negara-negara Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan aliansinya, termasuk Rusia. Pada bulan ini, mereka sepakat untuk menurunkan suplai minyak sebanyak 500.000 barel per hari mulai 1 Januari 2020 mendatang.
Harga Minyak Naik ke Level Tertinggi Hampir 3 Bulan

Posted by On 18.01.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.29 WIB, minyak Brent pengirim Februari 2020 ke level US$ 65 per barel atau naik 1,25% dari sesi sebelumnya. Tertinggi sejak 23 September.

Harga minyak mentah dunia naik ke level tertinggi hampir tiga bulan pada perdagangan Jumat (13/12). Tersulut kemajuan penyelesaian sengketa perdagangan Amerika Serikat (AS)-China dan hasil pemilihan umum Inggris.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) ke level US$ 59,74 per barel atau naik 0,95% dari sesi sebelumnya.

Berbagai sumber di AS pada Kamis (12/12), mengatakan bahwa Washington telah menetapkan ketentuan-ketentuannya untuk kesepakatan perdagangan dengan Beijing, menawarkan untuk menangguhkan beberapa tarif atas barang-barang dan memotong yang lain sebagai imbalan atas pembelian barang-barang pertanian Amerika oleh China.

"Kejadian 24 jam yang lalu telah menghapus lapisan ketidakpastian bagi ekonomi global," kata Stephen Brennock dari broker minyak PVM.

Diketahui, perang dagang yang berlangsung 18 bulan telah meredam harga minyak, begitu pula ketidakpastian seputar Brexit turut membebani. Partai Konservatif Inggris yang berkuasa memenangkan mayoritas besar dalam pemilihan umum hari Kamis, memberikannya kekuatan untuk membawa negara itu keluar dari Uni Eropa (Brexit).
Harga Minyak Semakin Mendekati US$60/Barel

Posted by On 18.36.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Menjelang akhir pekan ini, harga minyak terangkat potensi kesepakatan dagang antara AS dan China. Menurut sumber Reuters, AS dan China sepakat untuk mengurangi tarid dan menunda tarif baru yang dijadwalkan pada 15 Desember.

Ini merupakan bagian dari kesepakatan kedua negara dengan ekonomi terbesar tersebut. China juga menyepakati pembelian produk pertanian senilai US$ 50 miliar di tahun depan sebagai bagian dari kesepakatan.

Harga minyak makin mendekati US$ 60 per barel lagi. Jumat (13/12) pukul 7.26 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 59,55 per barel.

Harga minyak acuan Amerika Serikat (AS) ini naik 0,62% ketimbang harga penutupan hari sebelumnya. Ini adalah kenaikan harga minyak di hari kedua. Kemarin, harga minyak WTI sudah naik 0,71%. Dalam dua hari, harga minyak naik 1,34%.

Harga minyak cenderung menguat dalam dua pekan ini. Pekan lalu, harga minyak terdongkrak sentimen positif penambahan volume pemangkasan produksi OPEC+ di kuartal pertama 2020.

"Semua pelaku pasar menunggu kesepakatan terjadi," kata Gene McGillian, vice president of market research Tradition Energy kepada Reuters.

Tapi, masih ada potensi penurunan harga minyak di tahun depan. International Energy Agency (IEA) meramalkan kenaikan tajam persediaan minyak global meski ada pemangkasan OPEC. Pasokan lebih ini berasal dari AS dan negara-negara non-OPEC lain.

"Meski harga menguat akibat Federal Reserve yang dovish dan pelemahan dolar, IEA menegaskan bahwa pasar minyak masih akan oversupply pada semester pertama 2020," kata Giovanni Staunovo, analis minyak UBS.
Harga Minyak Menguat Tipis Setelah Kemarin Merosot

Posted by On 17.42.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Kamis (12/12/2019) pukul 7.17 WIB harga minyak menguat tipis setelah kemarin merosot. Di mana harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange naik 0,24% ke US$ 58,90 per barel.

Pergerakan harga minyak masih menunggu kabar negosiasi dagang Amerika Serikat (AS)-China. Menurut sumber Reuters, Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan bertemu dengan penasihat ekonomi dan perdagangan tertinggi hari ini untuk mendiskusikan kelanjutan penerapan tarif impor US$ 156 miliar dari China yang akan berlaku 15 Desember.

Sumber Reuters menyebut, pertemuan ini akan melibatkan US Trade Representative Robert Lighthizer, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, dan penasihat Gedung Putih Larry Kudlow dan Peter Navaro. Seorang sumber mengatakan bahwa kelanjutan penerapan tarif impor pada 15 Desember akan menggoyahkan negosiasi dagang AS-China untuk mengakhiri perang dagang yang telah berlangsung 17 bulan.

Kenaikan harga minyak hari ini pun merupakan pembalian dari transaksi kemarin. Rabu (11/12), harga minyak acuan AS ini melorot 0,81% dari hari Selasa yang masih ada di US$ 59,24 per barel. Penurunan harga minyak ini terjadi setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa terjadi kenaikan persediaan minyak mentah.

Menurut data EIA, stok minyak mentah naik 822.000 barel pada pekan lalu. Angka ini jauh berbeda dari prediksi polling Reuters yang meramalkan penurunan persediaan hingga 2,8 juta barel.

Dengan total persediaan 447,9 juta barel, stok minyak sekitar 4% lebih tinggi dari rata-rata pekan pertama Desember lima tahun terakhir. Meski stok minyak naik, persediaan minyak di Cushing, Oklahoma yang merupakan pusat pengiriman WTI, turun 3,4 juta barel pekan lalu. Ini adalah penurunan terbesar sejak Februari 2018.

Sementara persediaan bensin dan distilat melonjak. Stok bensin melesat 5,4 juta barel. Sementara distilat yang termasuk solar dan heating oil naik 4,1 juta barel, lebih dari dua kali lipat prediksi analis.

"Data inventaris agak bearish jika kita mempertimbangkan penurunan operasional penyulingan dan penurunan permintaan bensin," kata John Kilduff, partner Again Capital kepada Reuters.

Phil Flynn, senior energy analyst Price Futures Group mengatakan bahwa badai musim dingin yang menyebabkan salju tebal di sejumlah negara bagian AS berdampak pada penurunan permintaan bensin sehingga stok meningkat.

"Mobil-mobil diparkir dan ada penurunan permintaan. Tapi ini hanya gejolak yang terjadi sekali," kata Flynn.
Harga Minyak Global Masih Tertahan Negosiasi Perang Dagang

Posted by On 18.36.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Rabu (11/12) pukul 7.17 WIB harga minyak turun lagi setelah menguat sehari. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 59,08 per barel, turun 0,27% dari harga penutupan perdagangan kemarin.

Meski turun, harga minyak jenis light sweet ini cenderung stagnan sejak akhir pekan lalu. Rencana tambahan pemangkasan OPEC yang disepakati pekan lalu tidak mampu mengangkat harga minyak lebih tinggi. Pasar komoditas energi masih dibayangi negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang belum menunjukkan kejelasan.

Pekan lalu, OPEC+ menyepakati tambahan pemangkasan produksi sebesar 500.000 barel per hari yang akan berlaku hingga Maret 2020. Dengan tambahan ini, total pemangkasan produksi OPEC+ mencapai 1,7 juta barel per hari.

Gene McGillian, director of market research Tradition Energy mengatakan, setelah para produsen mengumumkan pemangkasan, pasar minyak bergerak sedikit di bawah level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. "Tapi tanpa kesepakatan dagang AS-China, harga minyak sulit terangkat dalam reli baru," kata dia kepada Reuters.

Menteri Pertanian AS Sonny Perdue mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak ingin mengimplementasikan tarif impor baru. Tapi, dia ingin ada upaya China untuk menghindari tarif ini.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa kedua pihak tengah menyusun dasar kesepakatan untuk menunda pengenaan tarif baru yang akan berlaku 15 Desember. Sementara itu, tingkat impor China terhadap komoditas utama AS yang meninggi, menunjukkan bahwa pengucuran stimulus oleh pemerintah telah membuahkan hasil.

American Petroleum Institute (API) akan merilis data persediaan minyak mentah. Selain itu, bank sentral AS Federal Reserve akan mengakhiri rapat FOMC nanti malam.
Minyak Brent Berjangka Turun 14 Sen

Posted by On 17.09.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Senin (9/10) kemarin harga minyak dunia turun, setelah data menunjukkan ekspor China turun selama empat bulan berturut-turut.

Mengirim kegelisahan ke pasar yang sudah khawatir tentang terganggunya permintaan global akibat perang perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Berdasarkan data CNBC, minyak Brent berjangka turun 14 sen, atau 0,22%, menjadi US$ 64,25 per barel setelah naik sekitar 3% pekan lalu di tengah berita bahwa OPEC dan sekutunya akan memperdalam penurunan produksi.

Sedangkan, minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) turun 18 sen atau 0,3% menjadi US$ 59,02 per barel. Pekan lalu, WTI naik sekitar 7% pada prospek untuk produksi yang lebih rendah dari OPEC +, yang terdiri dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen terkait termasuk Rusia.

Turunnya harga minyak setelah data pabean China merilis data ekspor pada November turun 1,1% dari tahun sebelumnya.

"Bahwa data perdagangan China merupakan faktor, tentu saja," kata John Kilduff, partner di Again Capital.
Awal Pekan, Harga Minyak Terjatuh

Posted by On 18.07.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Awal pekan ini. Senin (9/12/2019) pukul 7.02 WIB harga minyak turun. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 58,99 per barel.

Harga minyak ini turun 0,35% ketimbang harga penutupan perdagangan pekan lalu pada US$ 59,20 per barel. Sejalan, harga minyak brent untuk pengiriman Februari 2020 di ICE Futures turun 0,34% ke US$ 64,17 per barel ketimbang harga akhir pekan lalu pada US$ 64,39 per barel.

Jumat lalu, harga minyak melejit setelah OPEC+ menyetujui penambahan pemangkasan produksi minyak hingga 500.000 barel per hari pada kuartal pertama 2020. Dengan tambahan ini, total pemangkasan produksi OPEC+ di kuartal pertama mencapai 1,7 juta barel per hari atau 1,7% dari total permintaan global.

Menteri Energy Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan, pemangkasan efektif Saudi akan mencapai 2,1 juta barel per hari karena Saudi akan memangkas lebih banyak daripada kuota.

Amrita Sen, co-founder Energy Aspects mengatakan, tujuan menteri energy Saudi bukan untuk mengangkat harga minyak, tapi menetapkan batas bawah paling kuat di kuartal pertama untuk menahan pelemahan musiman kuartal pertama.

"Saudi percaya bahwa OPEC perlu menaikkan produksi di semester kedua 2020, makanya jangka waktu pembatasan ini pendek," kata Sen seperti dikutip Reuters.

Phil Flynn, analis Price Futures Group mengatakan hal serupa. Pemangkasan ini dilakukan ketika permintaan akan lebih tinggi dan akan menambah tekanan pada harga produk minyak, terutama diesel dengan sulfur sangat rendah, menjelang peraturan bahan bakar kapal IMO 2020. "Meski respons pasar terbatas, jangan salah, keputusan OPEC ini akan menciptakan batas terendah harga minyak," kata dia.

Hans Van Cleef, senior energy economist ABN AMRO mengatakan, pasar minyak kecewa karena pemangkasan hanya 500.000 barel per hari. Dia melihat, pemangkasan ini hanya formalisasi tingkat kepatuhan anggota dalam beberapa bulan.

Sementara Goldman Sachs menaikkan prediksi harga minyak brent tahun 2020 menjadi US$ 63 per barel dari sebelumnya US$ 60 per barel dengan harga jangka panjang US$ 55 per barel. Goldman pun memprediksi harga minyak WTI berada di US$ 58,50 per barel dengan harga jangka panjang US$ 50 per barel.
Harga Minyak Dunia Naik Tipis

Posted by On 19.03.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Perdagangan Kamis (5/12) Harga minyak dunia naik tipis. Meski OPEC dan mitranya merencanakan penurunan produksi terdalam dekade ini untuk mencegah kelebihan pasokan.

Minyak mentah Brent berjangka ditutup pada US$ 63,39 per barel, naik 39 sen atau 0,6%. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berakhir di US$ 58,43 per barel, tidak berubah dari sesi sebelumnya. Setelah mencapai tertinggi sejak akhir September di awal sesi.

Panel menteri anggota kunci Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya yang dipimpin oleh Rusia, dikenal sebagai OPEC +, merekomendasikan penurunan produksi sebesar 500.000 barel per hari (bph) pada kuartal pertama 2020, menurut Menteri Energi Rusia Alexander Novak.

OPEC + telah setuju untuk secara sukarela mengurangi pasokan sejak 2017 untuk melawan peningkatan produksi dari Amerika Serikat (AS), yang sekarang merupakan produsen top dunia.

Pembatasan pasokan 1,2 juta barel per hari ditetapkan akan berakhir pada bulan Maret. Pemotongan 1,7 juta barel per hari akan berjumlah 1,7% dari pasokan global.

Asal tahu, para menteri OPEC berkumpul pada hari Kamis di Wina dan OPEC + akan bertemu lagi pada hari Jumat untuk menyampaikan suara pada kesepakatan.

"Kami berada di ujung tombak menunggu untuk melihat apa pengumuman yang sebenarnya akan terjadi, jadi itu sebabnya naik turun," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago.
Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 3%

Posted by On 18.19.00 with No comments

digtara.com | NEW YORK - Perdagangan Rabu (4/12) kemarin Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3%. Di tengah ekspektasi bahwa organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan mitranya akan memperpanjang pembatasan produksi. Ditambah data produksi minyak Amerika Serikat (AS) menunjukkan penurunan besar.

Mengutip Reuters, minyak mentah berjangka Brent mengakhiri sesi naik US$ 2,31, atau 3,8%, mencapai US$ 63,14 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) berakhir naik US$ 2,33, atau 4,2%, pada US$ 58,43 setelah menyentuh sesi tinggi US$ 58,66 per barel.

OPEC dan sekutu-sekutu termasuk Rusia atau OPEC +, dapat menyetujui pengurangan produksi minyak mentah lebih dalam ketika mereka bertemu di Wina pekan ini.

Menteri perminyakan Irak Thamer Ghadhban mengatakan kepada wartawan di Wina pada hari Selasa (3/12) bahwa "pemotongan lebih dalam lebih disukai oleh sejumlah anggota kunci".

Pada hari Rabu, Ghadhban mengatakan ia akan mendukung setidaknya memperpanjang pemotongan yang ada hingga akhir 2020.

"Kita harus memberikan sinyal positif kepada pasar dan bagi saya setidaknya kita harus menggulirkan perjanjian saat ini," katanya.

Sementara itu, Administrasi Informasi Energi AS melaporkan persediaan minyak turun 4,9 juta barel dalam sepekan ke 29 November. Jauh dari prediksi analis yakni penurunan 1,7 juta barel.
Harga Minyak Dunia Merangkak Naik

Posted by On 20.03.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Menjelang pertemuan negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dan sekutunya membahas perpanjangan pembatasan produksi minyak. Harga minyak dunia merangkak naik pada perdagangan Rabu (4/12).

Mengutip Bloomberg, pukul 9.43 WIB, minyak Brent pengiriman Februari 2020 ke level US$ 61,18 per barel atau naik 0,59%. Setelah sesi sebelumnya turun 0,16%.

Senasib, minyak West Texas Intermediate (WTI) ke level US$ 56,41 per barel atau naik 0,55%. Setelah pada sesi sebelumnya naik 0,25%.

OPEC dan sekutu yang mencakup Rusia atau OPEC + sedang bersiap menyetujui pemangkasan produksi minyak mentah pekan ini.

Thamer Ghadhban, menteri perminyakan Irak, mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa di Wina bahwa "pengurangan yang lebih dalam produksi minyak disetujui oleh sejumlah anggota kunci".

Tetapi masih ada beberapa keraguan di pasar mengenai apakah OPEC akan memangkas produksi lebih lanjut. Banyak analis hanya mengharapkan perpanjangan dari pemotongan yang ada saat ini.

"Kami ... berpikir OPEC dapat mengumumkan perpanjangan untuk memasok pengurangan untuk mencakup seluruh tahun 2020 daripada tiga hingga enam bulan yang menjadi faktor dalam pasar saat ini," tulis BNP Paribas Markets dalam sebuah catatan.

Asal tahu, anggota OPEC bertemu pada hari Kamis (5/12) dan kemudian pada hari Jumat (6/12) kelompok OPEC + bertemu. OPEC + telah membatasi pasokan minyak sejak 2017.
Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 1%

Posted by On 20.27.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan Senin (2/12/2019) harga minyak dunia naik lebih dari 1% . Terkerek tanda-tanda meningkatnya manufaktur di China, terlihat dari kenaikan permintaan bahan bakar.

Di samping itu, negara-negara pengekspor minyak (OPEC) mengisyaratkan melanjutkan penurunan produksi pada pertemuan pekan ini.

Melansir Bloomberg, pukul 09.45 WIB, minyak Brent pengiriman Februari 2020 ke US$ 61,29 per barel atau naik 1,32% dari sesi sebelumnya.

Sedangkan, minyak West Texas Intermediate (WTI) pengiriman Januari 2020 ke US$ 56,09 per barel atau naik 1,67%.

Pada hari Jumat (29/11), minyak WTI turun 5,1% di tengah volume berkurang karena liburan Hari Thanksgiving minggu lalu sementara Brent jatuh 4,4%.

Harga jatuh di tengah kekhawatiran bahwa pembicaraan untuk mengakhiri perang perdagangan antara Amerika Serikat dan China, dua pengguna minyak terbesar dunia, akan terganggu oleh dukungan AS untuk para demonstran di Hong Kong.

Tetapi hari ini, minyak naik setelah aktivitas pabrik pada bulan November di China meningkat untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan karena meningkatnya permintaan domestik di tengah langkah-langkah stimulus pemerintah.

"Dengan harga terbuka, tetap didukung oleh aktivitas pabrik China yang tangguh dan mengejutkan dengan ekspektasi PMI ke depan," kata Stephen Innes, kepala analis pasar Asia di AxiTrader.

Harga juga didukung setelah menteri perminyakan Irak mengatakan pada hari Minggu bahwa OPEC dan mitranya akan mempertimbangkan untuk memperdalam pengurangan produksi minyak yang ada sekitar 400.000 barel per hari (bph) menjadi 1,6 juta bph.

Para menteri OPEC akan bertemu di Wina pada 5 Desember dan kelompok OPEC + yang lebih luas akan bertemu pada 6 Desember untuk membuat keputusan tentang perjanjian saat ini.
Jelang Akhir Pekan, Harga Minyak Menguat Tipis

Posted by On 18.26.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Menjelang akhir pekan ini. Jumat (29/11/2019) pukul 7.15 WIB harga minyak menguat tipis. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 58,13 per barel.

Pada Rabu (27/11/2019) lalu harga minyak ini naik tipis ketimbang posisi US$ 58,11 per barel. Kemarin, bursa Amerika Serikat (AS) tutup untuk libur Thanksgiving. Sementara di perdagangan Asia dan Eropa kemarin, harga minyak cenderung dan ditutup turun tipis.

Harga minyak brent untuk pengiriman Januari 2020 di ICE Futures kemarin tercatat turun 0,39% ke US$ 63,87 per barel.

"Persetujuan legislasi Hong Kong yang mendukung demonstran tampaknya akan menempatkan kesepakatan dagang dalam pertanyaan, karena China menekankan akan membalas," kata Hussein Sayed, chief market strategist FXTM kepada Reuters.

Sayed mengatakan, jika investor menduga bahwa kesepakatan dagang akan benar-benar terancam, bisa terjadi aksi jual besar-besaran pada bulan Desember. "Saat ini, investor lebih suka menunggu," kata dia.

China kemarin mengatakan akan mengambil tindakan balasan setelah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan legislasi yang mendukung demonstran anti-pemerintah di Hong Kong.

Sementara itu, data pemerintah AS menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 1,6 juta barel pada pekan lalu. Produksi minyak pun mencapai rekor tertinggi pada 12,9 juta barel per hari.

Phil Flynn, analis Price Futures Group mengatakan bahwa aksi jual yang terjadi kemarin merupakan tindakan reaktif yang berlebihan. "Ekonomi AS secara umum cukup bagus dan ini seharusnya bisa memperbaiki permintaan selanjutnya," kata Flynn.

Apalagi, musim dingin sudah dimulai dan badai musim dingin mulai melanda dan menaikkan permintaan solar. Pekan depan, investor akan mencermati arah kebijakan OPEC+. "Kami memperkirakan OPEC+ melanjutkan kesepakatan pemangkasan produksi antara tiga hingga enam bulan dari tenggat waktu awal Maret 2020," kata Giovanni Staunovo, analis minyak UBS kepada Reuters.

Perusahaan-perusahaan minyak Rusia mengajukan untuk tidak mengubah kuota produksi hingga akhir Maret. Hal ini bisa menekan OPEC+ untuk menghindari perubahan kebijakan yang besar.
Harga Minyak Global Kembali Terkoreksi

Posted by On 18.02.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Awal perdagangan pagi ini. Kamis (28/11/2019) harga minyak kembali terkoreksi pukul 07.40 WIB, harga minyak untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 57,88 per barel, turun 0,39% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 58,11 per barel.

Koreksi harga minyak dipicu oleh data produksi minyak Amerika Serikat yang mencapai rekor tertinggi dan Presiden AS Donald Trump yang menandatangani RUU mengenai dukungan bagi para demonstran Hong Kong yang berpotensi mempersulit perundingan dagang dengan China.

Energy Information Administration (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS naik 1,57 juta barel pekan lalu dan output mencapai 12,9 juta barel per hari.

"Perkiraan WIA tentang peningkatan produksi minyak mentah lebih lanjut ke rekor 12,9 juta barel per hari tampaknya memberikan katalis yang signifikan di balik penjualan hari ini," kata Jim Ritterbusch, presiden dan penasihat perdagangan Ritterbusch and Assosiates dalam riset yang dikutip Reuters.
Pergerakan Sempit Harga Minyak Masih Berlanjut

Posted by On 17.43.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Pertengahan pekan ini. Rabu (27/11/2019) pukul 7.07 WIB pergerakan sempit harga minyak masih berlanjut. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 58,27 per barel, turun 0,24% ketimbang harga penutupan perdagangan kemarin.

Meski turun dalam sehari, harga minyak jenis light sweet ini masih naik 0,45% ketimbang posisi awal pekan. Pergerakan tipis-tipis harga minyak ini terjadi dalam satu bulan terakhir.

Joint Technical Committee OPEC akan bertemu di Wina, Austria pada 3 Desember, dua hari menjelang pertemuan OPEC pada 5 Desember yang diikuti dengan pembicaraan dengan sejumlah produsen minyak lain, termasuk Rusia.

American Petroleum Institute (API) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah di pusat penyimpanan turun 516.000 barel pada pekan lalu. API juga melaporkan bahwa pasokan minyak mentah AS naik 3,64 juta barel pekan lalu. Sementara persediaan bensin naik 4,38 juta barel.

Phil Flynn, senior market analyst Price Futures Group mengatakan, pada umumnya, kondisi ekonomi berjalan baik. "Ada sedikit pergerakan pada kesepakatan dagang Amerika Serikat (AS) dan China,, tapi pasar mencerminkan kekuatan di pasar saham dan optimisme secara umum," kata Flynn kepada Bloomberg.

Kesepakatan dagang antara AS-China yang hingga kini belum ada kabarnya masih ditunggu pasar. "Optimisme bahwa perang dagang setidaknya mereda menjadi penahan harga minyak tidak turun lebih rendah lagi," kata Carsten Fritsch, analis Commerzbank kepada Bloomberg.
Jelang Pertemuan OPEC, Harga Minyak Global Cenderung Menguat

Posted by On 17.15.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA - Perdagangan kemarin harga minyak terkoreksi tipis setelah kemarin menguat. Selasa (26/11) pukul 7.06 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 57,94 per barel, turun tipis dari harga penutupan perdagangan kemarin pada US$ 58,01 per barel.

Kemarin, harga minyak menguat 0,41% karena optimisme negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Optimisme ini mencuat sejak Kamis pekan lalu dan sedikit mengerek harga minyak dari kisaran sempit sekitar US$ 57 per barel sejak awal November. Harga minyak kemarin turut disokong oleh rekor tertinggi pasar saham AS.

Craig Erlam, senior market analyst Oanda mengatakan, harga minyak cenderung stabil meski sensitivitas terhadap berita dagang masih tinggi. "Momentum jelas kurang dalam kenaikan harga minyak belakangan, meski kenaikan pekan lalu menyokong optimisme," kata Erlam kepada Reuters.

Sabtu lalu, penasihat keamanan nasional AS Robert O'Brien mengatakan bahwa kesepakatan dagang awal dengan China masih mungkin tercapai di akhir tahun. Kemarin, koran Global Times di China yang mengutip ahli yang dekat dengan pemerintah China melaporkan bahwa China dan AS telah mencapai konsensus luas pada kesepakatan fase satu meski masih ada perbedaan soal penghapusan tarif.

Dari Timur Tengah, kericuhan di Iran dan Irak masih menjadi salah satu penopang harga minyak. Hari Minggu lalu, terjadi bentrok demonstran dan pihak keamanan di Baghdad dan beberapa kota di selatan Irak. Sembilan orang tewas dan puluhan orang terluka.

Pasar minyak pekan ini cenderung stabil menunggu keputusan OPEC yang akan bertemu pada pekan depan. OPEC dan Rusia diramal akan memperpanjang periode kesepakatan pemangkasan produksi hingga tengah tahun depan.
Awal Pekan, Harga Minyak Merangkak Naik

Posted by On 16.53.00 with No comments

digtara.com | AKARTA -  Awal pekan ini. Senin (25/11/2019) pukul 7.15 WIB harga minyak menanjak. Harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari 2020 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 57,96 per barel, naik 0,33% ketimbang harga penutupan perdagangan pekan lalu.

Sejalan, harga minyak brent untuk pengiriman Januari 2020 di ICE Futures menguat 0,24% ke US$ 63,54 per barel.

Harga minyak ini berada di kisaran tertinggi sejak setelah serangan fasilitas minyak Saudi Aramco pada pertengahan September lalu. "Faktor kunci prospek permintaan minyak adalah negosiasi dagang," kata Michael McCarthy, chief market strategist CMC Markets and Stockbroking kepada Reuters.

Dengan harga minyak yang mendekati level tertinggi kisaran perdagangan belakangan, tekanan jual masih berpeluang terjadi.

Baker Hughes Co melaporkan bahwa ada penurunan jumlah rig beroperasi hingga akhir pekan lalu menjadi 671. Jumlah rig beroperasi ini turun tiga ketimbang pekan sebelumnya. Jumlah rig ini pun merosot dari 885 rig aktif pada pekan yang sama tahun lalu.

Jumlah rig aktif yang merupakan indikator awal produksi minyak, turun dalam 11 bulan berturut-turut. Perusahaan eksplorasi independen dan produksi memangkas belanja pengeboran baru karena para pemegang saham mencari return yang lebih baik di tengah harga minyak yang rendah.

"Hampir dua pertiga penurunan rig dalam 12 bulan terakhir terjadi karena perusahaan swasta menghentikan pengeboran," ungkap Enverus dalam laporan yang dikutip Reuters.

Meski jumlah rig aktif turun, tingkat produksi minyak Amerika Serikat (AS) terus meningkat karena produktivitas shale oil naik.

Di sisi lain, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan Rusia kemungkinan akan memperpanjang pemangkasan produksi tiga bulan. Keputusan ini akan dibicarakan pada pertemuan 5-6 Desember mendatang.

Saat ini, OPEC+ menyepakati pemangkasan produksi hingga Maret 2020. Dengan tambahan tiga bulan, pemangkasan produksi akan berlangsung hingga pertengahan 2020. OPEC pun akan meningkatkan kepatuhan kesepakatan terutama bagi Irak dan Nigeria yang masih memproduksi lebih tinggi.

"Kepatuhan kesepakatan Irak dan Nigeria bisa memangkas 300.000-400.000 barel per hari dari level produksi OPEC sehingga menyeimbangkan pasar pada semester pertama 2020 dan kemungkinan defisit pasokan pada semester kedua," ungkap broker minyak PVM seperti dikutip Reuters.