Popular Post

Total Pengunjung

Polisi Sebut Pembunuhan Hakim Jamaluddin Direncanakan

Posted by On 04.37.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto menyebutkan bahwa pembunuhan terhadap hakim Jamaluddin dilakukan secara terencana. Itu disimpulkan dari hasil analisis smeentara terhadap keterangan saksi dan alat bukti yang ada, serta hasil pemeriksaan laboratorium forensik maupun laboratorium kriminal, dan bukti-bukti lainnya.

"Sudah pasti ini pembunuhan terencana,"kata Irjen Agus saat ditemui di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Medan, Sabtu (14/12/2019).

Meski telah menyebut jika kasus pembunuhan itu sebagai pembunuhan berencana, namun Irjen Agus belum mau mengungkapkan lebih jauh siapa saja yang terlibat dalam eksekusi dan perencanaan pembunuhan tersebut.

"Yang lain-lain saya rasa tidak perlu kita ungkap karena itu merupakan kegiatan teknis kita. Semakin terencana suatu kejadian butuh waktu untuk mengungkapkannya,"tukasnya.

Untuk keperluan penyelidikan, sambung Agus, pihak sudah memeriksa setidaknya 29 orang saksi. Mulai dari keluarga, kerabat hingga kolega hakim Jamaluddin. Q

Diberitakan sebelumnya, Jamaluddin ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di sebuah jurang di Dusun II Namo Bintang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang, pada Jumat siang.

Korban yang merupakan Hakim dan juga Humas Pengadilan Negeri (PN) Medan, ditemukan warga di dalam satu unit mobil Toyota Land Cruiser Prado nomor polisi BK 77 HD warna hitam.

Saat ditemukan jenazah sudah membiru dengan kondisi terbaring di posisi bangku belakang.

[AS]
Jurnalis Apresiasi Kinerja Agus Andrianto Selama Jabat Kapolda Sumut

Posted by On 06.14.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Para jurnalis di Kota Medan, menyampaikan apreasiasi mereka atas kinerja Irjen Pol Agus Andrianto selama menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara.

Seperti yang disampaikan salah satu wartawan senior, Ressi Erlangga. Ressi mengaku selama menjabat Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto, berhasil menjaga kondusifitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Sumatera Utara, khususnya di Kota Medan sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Utara.

"Kapolda Sumut juga berhasil mensukseskan perhelatan pesta demokrasi seperti Pileg dan Pilpres 2019 secara serentak," katanya, Rabu (12/12/2019).

Hal senada juga disampaikan Anto Genk. Jurnalis senior yang kini menjadi pemilik salah satu surat kabar terbitan Medan itu mengatakan, selama bertugas di Polda Sumatera Utara, Agus Andrianto, sudah banyak membantu masyarakat dengan kegiatan bakti sosial yang intens dilaksanakan.

"Bakti sosial itu sebagai bentuk kedekatan institusi Polri khususnya Polda Sumut hadir di tengah-tengah masyarakat," sebutnya.

Dengan ditunjukkan Agus Andrianto, sebagai Kepala Badan Pemeriliharaan Keamanan (Kabarhakam) Mabes Polri, Ressi berharap nantinya Agus dapat bekerja dan menjalankan tugas dengan baik. Sehingga kondisi keamanan di seluruh wilayah Republik Indonesia tetap terjaga aman dan kondusif.

"Semoga dengan tugas dan tanggungjawab yang baru sebagai Kabarhakam Mabes Polri, Irjen Pol Agus Andrianto, dalam menjalankan dengan baik," harapnya.

Diberitakan sebelumnya, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) memutasikan sejumlah jabatan Kapolda. Adapun mutasi jabatan itu berdasarkan Surat Telegram Kapolri nomor ST/3229/XII/KEP./2019 tertanggal Jumat (6/12/2019).

Salah satunya, Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Agus Andrianto yang mendapat tugas baru sebagai Kabaharkam Polri. Posisi Agus di Sumut bakal diisi oleh Irjen Martuani Sormin yang menjabat sebagai Asops Kapolri.

[AS]
Kematian Hakim Jamaluddin, Polisi Periksa 22 Saksi

Posted by On 03.03.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Penyidik Reserse Kriminal Umum Polda Sumatera Utara dan Polrestabes Medan, telah melakukan penyelidikan awal terhadap kematian hakim sekaligus Humas Pengadilan Negeri Medan, Jamaluddin.

Untuk keperluan penyelidikan itu, sebanyak 22 orang saksi telah diperiksa. Terdiri dari keluarga, kerabat dan rekan kerja korban.

Kehadiran para saksi sangat diharapkan, karena kesaksian mereka akan dihubungkan satu salam untuk menggambarkan kebiasaan-kebiasaan korban semasa hidupnya. Termasuk juga mengidentifikasi motif dan tersangka dalam kasus itu.

“Iya total ada 22 orang yang diperiksa,”sebut Kapolda Sumater Utara, Agus Andrianto.

Agus menyebutkan, pihaknya sangat berhati-hati dalam melaksanakan penyelidikan kasus itu. Dia tak ingin gegabah akibat terburu-buru menetapkan status tersangka kepada orang yang dicurigai.

“Kita enggak boleh gegabah. Kita dalami semuanya alibinya. Kita periksa semua alat bukti yang ada. Mohon doa restu agar kasus ini segera terungkap," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, hakim Jamaluddin ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di dalam mobilnya yang terperosok ke sebuah jurang di Dusun II Namo Bintang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Jumat 29 November 2019 siang.

Saat ditemukan jenazah hakim yang juga Humas di Pengadilan Negeri Medan itu sudah membiru dengan kondisi terbaring di lantai di depan bangku barisan tengah mobil.
Kapolda Sumut: Hakim Jamaluddin Sudah Tewas Belasan Jam Sebelum
Ditemukan

Posted by On 02.13.00 with No comments

digtara.com |MEDAN – Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto menyebutkan, almarhum Jamaluddin, telah tewas belasan jam sebelum jasadnya ditemukan di dalam mobil di jurang Kutalimbaru, Jumat 29 November 2019 lalu.

Kesimpulan itu didapat setelah polisi melakukan pemeriksaan forensik terhadap jenazah hakim sekaligus Humas Pengadilan Negeri Medan itu.

“Korban sudah belasan jam meninggal sebelum ditemukan. Itu ditandai dari kondisi tubuh korban yang sudah kaku, sudah lemas kembali, kemudian lembab lagi dan menuju pembusukan,”sebut Agus di Mapolda Sumut, Rabu (4/12/2019).

Saat ditanya penyebab kematiannya, Agus belum mau menyebutkan. Namun Agus menegaskan bahwa korban merupakan korban pembunuhan.

Saat ini tim dari Polda Sumut dan Polrestabes Medan, kata Agus, masih melakukan penyelidikan untuk menangkap pelaku pembunuhan tersebut.

"Kita mau menduga orang sebagai pelaku itu kan enggak boleh gegabah. Dalami semuanya alibi, kita periksa semua alat bukti yang ada. Mohon doa restu agar kasus ini segera terungkap,"pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, hakim Jamaluddin ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di dalam mobilnya yang terperosok ke sebuah jurang di Dusun II Namo Bintang, Desa Suka Dame, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Jumat 29 November 2019 siang.

Saat ditemukan jenazah sudah membiru dengan kondisi terbaring di posisi bangku belakang.

[AS]
RS Bhayangkara Medan Kembali Terima Tiga Pasien Keluarga Miskin Atensi
Kapolda Sumut

Posted by On 16.29.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - RS Bhayangakara Medan kembali menerima sebanyak tiga orang pasien yang menjadi atensi Kapolda Sumatera Utara. Ketiganya berasal dari keluarga miskin.

Pasien pertama adalah AF alias Arsy (1). Bayi malang asal Belawan, Kota Medan yang didiagnosa mengalami invaginasi (intussusepsi) pasca operasi colostomi yang pernah dialami bayi malang tersebut.

Arsy lahir secara normal dengan berat badan 3500 gram. Pada umur 3 bulan, ia diberi makan oleh orangtuanya sehingga membuat perut Arsy membengkak. Kala itu orangtuanya sempat mengurut perut sang bayi hingga akhirnya Arsy terpaksa dioperasi. Sayangnya, penanganan terhadap Arsy tidak dituntaskan orangtuanya karena masalah biaya. Penyakitnya pun semakin parah.

Pasien kedua adalah Syahlan (32), warga Kabupaten Batubara. Syahlan didiagnosa mengalami pembusukan kaki akibat luka yang dialaminya pasca-kecelakaan tunggal beberapa waktu lalu.

"Untuk pasien yang mengalami pembusukan kaki ini sudah dilakukan tindakan operasi amputasi. Sedangkan untuk bayi Arsi, masih dilakukan observasi untuk segera mendapatkan tindakan,"kata Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Tatan Dirsan Atmaja, Selasa (3/12/2019) malam.

Sedangkan pasien ketiga adalah Agus Salim (26), warga Belawan, Kota Medan. Agus didiagnosa mengalami Gastroenteritis dan dehidrasi berat.

Itu terjadi setelah air seni keluar merembes melalui bekas luka operasi batu empedu yang dialaminya beberapa waktu lalu.

"Untuk pasien atas nama Agus ini juga sedang dilakukan observasi untuk segera dilaksanakan tindakan,"terang Tatan.

Selain ketiga pasien ini, lanjut Tatan, Kapolda Sumut juga sudah memberikan pengobatan gratis kepada puluhan pasien miskin lainnya di seluruh wilayah Sumatera Utara. Para pasien dirujuk ke RS Bhayangkara Medan dan RS Bhayangkara Tebingtinggi.

Ini sebagai bentuk kepedulian sosial Kapolda Sumut serta Polri akan kondisi masyarakat miskin yang kesulitan mendapatkan perawatan medis. Ini menjadi bagian dari bakti Polri disamping menjalankan tugas-tugas penegakkan hukum di masyarakat.

"Mereka akan dirawat sampai benar-benar sembuh. Seluruh biaya ditanggung Kapolda Sumut,"tandasnya.

[AS]
Polisi Pulangkan Tiga Terduga Teroris Yang Sempat Ditangkap Densus 88
Terkait Bom di Mapolrestabes Medan

Posted by On 04.44.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Polisi memulangkan sebanyak tiga orang yang sempat ditahan terkait aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Rabu 13 November 2019 kemarin.

Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto menyebutkan, ketiganya orang yang diamankan adalah AH, S dan MN. Namun Agus tidak memberikan penjelasan mengapa ketiga orang itu dipulangkan.

“Iya, tiga orang dikembalikan,”sebut Agus.

Hingga saat ini, sambung Agus, sebanyak 30 orang yang diamankan pasca teror bom bunuh diri itu. 24 orang diantaranya masih ditahan.

“Tiga meninggal dan 3 dikembalikan,”tukasnya.

Satu diantara yang masih  ditahan, kata Agus, adalah perempuan berinisial DA, yang merupakan istri dari RMN alias Dedek, bomber yang beraksi di Mapolrestabes Medan. DA kini berstatus tersangka.

“Untuk tersangka perempuan kita tahan di Mako Brimob Polda Sumut, sedangkan yang pria di Mapolda Sumut. Kita masih terus buru tersangka lainnya,”tukasnya.

[AS]
Tersangka Bom Medan Bertambah Jadi 23 Orang

Posted by On 05.58.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Polisi telah menetapkan status tersangka kepada 23 orang yang diduga terlibat dalam kelompok teror yang menjalankan aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan pada Rabu 13 November 2019 kemarin.  Jumlah itu setelah sebanyak lima orang berhasil ditangkap pada Minggu sehari sebelumnya.

“Jadi total ada 23 tersangka. Kemarin 18 orang. Sekarang nambah 5 orang lagi. Dari 5 tersangka baru itu, 2 diantaranya menyerahkan diri ke Polsek Hamparan Perak,”sebut Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto.

“Dari kelima tersangka baru ini, kita menyita senjata api rakitan, senapan angin, anak panah  dan senjata tajam jenis sangkur,”tambahnya.

Dari 23 tersangka itu, lanjut Agus, 3 diantaranya meninggal dunia. Sementara 20 lainnya kini ditahan di Mako Brimob Polda Sumut dan Mapolda Sumatera Utara.

“Ada 5  orang perempuan yang kita tahan di Mako Brimob dan 15 orang laki-laki di Mapolda Sumatera Utara,”jelas Agus.

Namun Agus masih enggan menyebutkan para tersangka yang sudah ditetapkan. Ia meminta awak media bersabar, hingga nantinya penyelidikan dirampungkan.

“Nanti rencananya Divisi Humas Mabes Polri yang akan menyampaikan. Apakah di Medan atau di Jakarta,”terang Agus.

Saat ditanya apakah ada tersangka yang berhasil melarikan diri saat upaya penyergapan dilakukan oleh Polisi, Agus mengaku tidak ada. Namun ia mengaku saat ini pihaknya masih mengembangkan penyelidikan kepada semua pihak yang terlibat dengan kelompok teror yang beraksi di Mapolrestabes Medan itu.

“Sementara belum (melarikan diri). Tapi dari hasil pengembangan, siapapun yang masuk dalam kelompok ini akan dilakukan upaya hukum. Itu untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat,”tandasnya.

[AS]
18 Orang Ditetapkan Sebagai Tersangka Bom Medan

Posted by On 05.15.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Polisi telah menetapkan status tersangka kepada sebanyak 18 orang terkait ledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan pada Rabu 13 November 2019 lalu. Jumlah itu meningkat sangat signifikan dibandingkan malam kemarin, yang baru 9 orang.

Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto menyebutkan, ke 18 orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka itu, ditangkap berdasarkan hasil pengembangan penyelidikan yang dilakukan personel gabungan Detasemen Khusus 88 dalam beberapa hari terakhir.

Bersama para tersangka, jelas Agus, ikut diamankan sejumlah barang bukti seperti senjata api, sentaja tajam, rangkaian bom dan beberapa bahan yang patut diduga akan digunakan sebagai bahan pembuat bom.

“Barang-barang itu kita amankan dari penggeledahan di salah satu lokasi di Sicanang, Belawan, Kota Medan,”ujar Agus, Sabtu (16/11/2019).

Selain 18 orang tersangka itu, Polisi terang Agus, juga menembak mati dua orang terduga pelaku teror yang terlibat jaringan terorisme tersebut. Mereka disinyalir sebagai pembuat bom yang digunakan dalam aksi bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan.

“Kedua orang yang kita tembak mati itu, pembuat bomnya,”sebut Agus.

Agus mengaku hingga saat ini pihaknya masih terus melakukan pengembangan penyelidikan atas jaringan teror tersebut. Penyelidikan kini bahkan tak hanya dilakukan di Sumatera Utara. Tapi juga meluas hingga ke wilayah Aceh.

“Setidaknya tiga orang sudah diamankan di Aceh. Ini terus kita kembangkan untuk menangkap seluruh anggota jaringan teror ini sampai tuntas. Ini demi kenyamanan masyarakat,”tukasnya.

[AS]
9 Orang Berpotensi Jadi Tersangka Kasus Ledakan Bom di Mapolrestabes
Medan

Posted by On 07.43.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Polisi sudah memeriksa setidaknya 14 orang terkait ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Mapolrestabes Medan, pada Rabu 13 November 2019 kemarin. Dari 14 orang tersebut, sebanyak 9 orang diantaranya berpotensi menjadi tersangka.

Hal itu dikatakan Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto, usai menjenguk para korban ledakan bom yang tengah dirawat di RS Bhayangkara Medan, Jumat (15/11/2019) malam.

“Intinya dari kejadian kemarin, kita sudah 13-14 orang pengamanan dan berpotensi tersangka ada 9 orang. Jumlah ini bisa berkembang, sesuai dengan penyelidikan yang masih dilakukan,”sebut Agus.

Saat ditanya keterlibatan 9 orang yang berpotensi menjadi tersangka itu, Agus masih enggan menyebutkannya. Ia berdalih masih dalam tahap penyelidikan.

Begitu pula terkait dugaan kelompok teror yang diduga terlibat dalam ledakan tersebut. Meski mengaku aparatnya terlibat dalam penyelidikan itu, namun Agus meminta masyarakat menunggu keterangan lengkap dari Detasemen Khusus 88 maupun Mabes Polri.

“Soal materi penyelidikan lebih lanjut, nanti biar Densus dan Mabes Polri saja. Saat ini masih dalam penyelidikan,”kilahnya.

Meski begitu, sambung Agus, pihaknya akan menindaklanjuti kasus terorisme ini sampai tuntas. Itu dilakukan demi memberikan rasa aman kepada masyarakat.

“Mohon doa restunya,”sambungnya.
PENGALIHAN ISU

Agus lebih lanjut menyatakan, belakangan ini sering dikembangkan isu bahwa penangkapan terduga teroris oleh Polisi, merupakan bagian dari pengalihan isu. Seperti jelang pelantikan Presiden hasil Pemilu 2019, dimana saat itu Polisi berhasil menangkap tiga orang terduga teroris.

“Saat itu isu yang dimunculkan adalah pengalihan isu dan sebagainya. Ternyata ada kejadiakan. Dan beberapa tersangka sudah ditangkap di wilayah kita, dan akan berkembang pada tersangka lain, berdasarkan pada hasil penyelidikan yang dilakukan,”terangnya.

Untuk itu, Agus memohon kepada media untuk menyampaikan kepada masyarakat, bahwa Polisi bekerja secara profesional. Penangkapan yang dilakukan terhadap terduga teroris bukanlah pengalihan isu. Melainkan karena memang para teroris benar-benar ada di masyarakat.

“Isu apa yang mau kita alihkan. Tidak ada untungnya kita mengalihkan isu. Mereka benar-benar ada di sekeliling kita. Mereka kehilangan rasa kemanusiaan. Hak asasi, hak hidup, sebagai hak dasar manusia, mereka ambil. Korbannya kan tidak melihat siapa. Masyarakat, aparat juga bisa menjadi korban,”pungkasnya.

“Ini adalah musuh kita bersama, mari kita rapatkan barisan. Modus mereka adalah tinggal di kontrakan, lalu mengisolasi diri, tidak bersosialisasi dengan masyarakat lainnya. Mohon kepada masyarakat yang melihat tetangganya yang mencurigakan, tolong disampaikan kepada aparat setempat, mulai aparat desa, Polisi, TNI. Mari kita rapatkan barisan, kita perangi bersama,”tandasnya.

[AS]
Sosok Kapolda Sumut Irjen Agus Andrianto Dimata Pemuda

Posted by On 03.29.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Ketua DPD KNPI Sumatera Utara, Samsir Pohan, menilai sosok Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto, sebagai sosok polisi yang moderen dan humanis. Agus juga mampu merangkul semua kalangan, khususnya tokoh pemuda dan ulama.

Hal ini terbukti dengan kondisi kamtibmas yang aman saat sebelum dan sesudah pelaksanaan Pilpres 2019. "Tidak mudah untuk menjaga Sumut tetap aman. Namun hal itu bisa dilakukan pak Agus dengan merangkul semua pihak. Dan pesta demokrasi pun berjalan tanpa hambatan yang berarti,"kata Samsir, Kamis (7/11/2019).

Menurut Samsir, kepiawaian komunikasi Kapolda bersama dengan jajarannya, membuktikan Intitusi Polri di Sumut mampu menjadi polisi yang profesional modern dan terpercaya (promoter).

Dengan keberhasilan tersebut, masih kata Samsir, layaklah kalau Irjen Agus Andrianto untuk diberikan kepercayaan dalam jabatan dan amanah yang lebih strategis lagi di Mabes Polri.

"Sumatera Utara merupakan gambaran Indonesia sehingga keberhasilan beliau dalam merawat dan menjaga keberagaman di Sumut layak diparesiasi", ucap Samsir yang juga Wakil Ketua Golkar Sumut ini

[caption id="attachment_37162" align="aligncenter" width="1202"] Foto:Irsan Muliadi[/caption]

Hal yang sama disampaikan Ketua Perhimpunan Remaja Masjid Dewan Masjid Indonesia (Prima DMI) Sumut Irwansyah Putra Nasution.

"Pak Agus juga orang yang peka terhadap kondisi sosial masyarakat. Sudah banyak warga yang tidak mampu dibantunya. Dari penderita Kanker, katarak hingga tumor, semuanya di fasilitasi,"ujar Ibey -panggilan akrab Irwansyah.

Mengutip dari pemberitaan Humas Polda Sumut bahwa sudah 88 ribu warga yang ikut pengobatan gratis serta baksos yang dilaksanakan Biddokes Polda Sumut.

Sehingga menurut Ibey, sosok Agus sangat layak dijadikan teladan dan dicontoh polisi lainnya sebagai sosok yang moderen dan humanis.

[caption id="attachment_37165" align="alignnone" width="1280"] Foto:Irsan Muliadi[/caption]

"Kita doakan pak Agus menjadi dirinya sendiri dan berdiri sebagai tokoh yang mempererat kebhinekaan dibawah bingkai merah putih,"tutupnya.

[AS]
IPW Prediksi 4 Nama Jenderal Yang Bakal Jadi Kepala Bareskrim Polri

Posted by On 01.01.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Indonesia Police Watch (IPW) memprediksi empat nama Jenderal Polisi aktif yang berpotensi menjadi Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Pasalnya posisi yang sangat bergengsi itu, masih kosong sejak ditinggal Jenderal Pol Idham Aziz, yang diangkat sebagai Kapolri.

Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, menyebutkan, keempat nama tersebut adalah Kadiv Propam Irjen Sigit; Kapolda Metro Jaya, Irjen Gatot Edi; Deputi Operasi Polri, Irjen Sormin, dan Kapolda Sumut, Irjen Agus Andrianto.

“Keempat jenderal itu merupakan figur-figur yang memiliki prestasi masing-masing di tempat tugasnya. Namun, IPW tetap tak ingin mendahului keputusan prerogatif dari Kapolri mengenai penunjukan tersebut,”sebut Neta seperti dilansir okezone, Rabu (6/11/2019).

Dalam memilih Kabareskrim yang baru, lanjut Neta, IPW berharap Kapolri melihat beberapa aspek. Setidaknya, ada empat aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih Kabareskrim yang baru. Pertama, aspek senioritas. Kedua, mencermati dinamika internal.

"Ketiga, figur calon mempunyai pengalaman yang mumpuni di bidang reserse. Keempat, faktor kedekatan dengan ulama," ujar Neta.

Menurut Neta, faktor kedekatan dengan ulama menjadi penting. Sebab, ulama masih dipandang sebagai panutan oleh masyarakat di negeri ini. Situasi ini tentunya bisa bersinergi dalam menjaga stabilitas Kamtibmas.

[AS]
Kisah Nanda, Bocah 5 Tahun Yang Lumpuh Otak Akibat Jatuh Dari Ayunan

Posted by On 05.08.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Pandangannya bergerak liar menuju sudut-sudut ruangan.  Namun terasa kosong seperti jiawnya berada di dimensi yang berbeda.

Ia tak bicara, tak juga banyak bergerak. Namun tangannya terus memeluk leher sang kakek, Irwanto. Seolah tak ingin sang kakek beranjak meninggalkannya.

Dia adalah Ananda Syahputra (5), bocah penderita kelumpuhan otak (Celebral Palsy), yang kini dirawat di RS Bhayangkara, Jalan Wahid Hasyim, Kota Medan. Bocah kelahiran 18 Februari 2014 yang kerap dipanggil Nanda itu, dirawat di rumah sakit setelah kisahnya mendapatkan perhatian dari Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto.

Nanda selama ini dirawat kakek dan neneknya di rumah keluarga mereka di Jalan Manggis, Lingkungan II, Kelurahan Limau Sundai, Binjai Barat, Kota Binjai, Sumatera Utara. Nanda dirawat kakek dan neneknya karena kedua orangtuanya telah meninggal dunia.
YATIM SEJAK USIA 3 TAHUN

Ayahnya, Ajunuar meninggal akibat serangan jantung sehari setelah Nanda dilahirkan. Sedangkan sang ibu Erni Mariani, meninggal akibat penyakit kista saat Nanda masih berusia tiga tahun.

Sang kakek, Irwanto, mengaku, Nanda mengalami kelumpuhan otak sejak usia 2 bulan. Itu terjadi setelah Nanda terjatuh dari ayunannya.

[caption id="attachment_36905" align="aligncenter" width="700"]Jatuh Dari Ayunan, Bocah 5 Tahun di Sumut Alami Kelumpuhan Otak Ananda Syahputra tengah mendapatkan perawatan di RS Bhayangkara Medan (digtara)[/caption]

"Waktu umur dua bulan Nanda jatuh dari ayunan. Sejak saat itu berat badannya langsung turun. Setelah dibawa ke rumah sakit Adam Malik, dokter bilang bahwa otaknya mengecil," ujarnya.

Dua tahun berselang, tubuh Nanda terus menyusut, badannya juga tidak banyak bergerak.

Irwanto sebenarnya terus berusaha memberikan pelayanan kesehatan terbaik untuk sang cucu. Namun keterbatasan ekonomi membuatnya tak bisa berbuat banyak.

"Cuma sekali aja dibawa ke rumah sakit. Habis itu enggak ada lagi. Kami enggak punya uang. Cuma kami rawat di rumah. Di urut-urut saja," tuturnya.
MENDAPAT ATENSI KAPOLDA SUMUT

Pada Selasa, 22 Oktober 2019 lalu, Nanda mendapat kunjungan dari tim Respek Peduli Medan. Kemudian tim membawa Nanda ke Rumah Sakit (RS) Artha Medica Binjai.

Setelah dari RS Artha Medica Binjai, kemudian Nanda dibawa ke RS Colombia Medan. Pihak rumah sakit menganjurkan Nanda untuk mendapatkan perawatan gizi. Namun karena keterbatasan biaya, Nanda kembali dirawat di rumah.

Kabar tersebut sampai kepada Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto. Irjen Agus kemudian memerintahkan agar Nanda segera diberikan pelayanan kesehatan. Nanda lalu dijemput dan dibawa ke RS Bhayangkara Medan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

[AS]