Popular Post

Total Pengunjung

Jumlah Pengguna Jasa Angkutan di Pelabuhan Belawan Meroket

Posted by On 18.04.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, mencatat peningkatan yang signifikan pada jumlah pengguna jasa angkutan melalui Pelabuhan Belawan Medan.

Tercatat, selama Januari  hingga Oktober 2019, jumlah penumpang yang melalui pelabuhan tersebut telah mencapai 149.779 orang. Naik hampir 300 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya 64.478 orang.

"Penumpang yang masuk ke Pelabuhan Belawan pada 2019 naik 287,39 persen atau menjadi 249.779 orang," ujar Kepala BPS Sumut, Syech Suhaimi di Medan, Sabtu (7/12/2019).

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumut, Solahuddin Nasution, mengatakan kenaikan jumlah penumpang kapal laut di Pelabuhan Belawan dipicu mahalnya harga tiket pesawat.

"Bagi masyarakat yang tidak memiliki kepentingan yang mendesak, lebih memilih naik kapal laut," ujarnya.

Atau, kalau tetap menggunakan pesawat udara, maka warga mengambil penerbangan melalui bandara luar negeri seperti Malaysia untuk mendapatkan harga tiket yang lebih murah.

“Di satu sisi, kondisi itu menguntungkan angkutan kapal laut yang sempat lesu,”tukasnya.

Tetapi di sisi lain, harga tiket pesawat yang mahal itu itu sudah terbukti merugikan karena terjadi penurunan wisatawan domestik.

"Oleh karena itu, Asita tetap menginginkan harga tiket pesawat tetap kembali ke harga normal," ujar Solahuddin.

[AS]
Realisasi Ekspor Sumut Turun 13,03 Persen

Posted by On 03.18.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Realisasi ekspor Sumatera Utara hingga Oktober 2019, tercatat sebesar 6,448 miliar Dolar Amerika Serikat (USD). Jumlah itu turun sekitar 13 persen jika dibandingkan periode yang Januari-Oktober 2018 yang telah mencapai USD 7,414 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, Syech Suhaimi menyebutkan, penurunan kinerja ekspor ini terjadi akibat melemahnya permintaan pasar dunia. Itu terjadi seiring masih terjadinya krisis ekonomi global serta dampak dari perang dagang antara China dan Amerika Serikat.

“Permintaan yang menurun berdampak negatif terhadap ekspor Sumut,"kata Syech Suhaimi, seperti dilansir Antara, Senin (2/12/2019).

Dia menjelaskan, penurunan ekspor Sumut terbesar disebabkan oleh menurunnya sektor industri sebesar 14,34 persen.

Di periode 2019, nilai ekspor sektor industri Sumut tinggal USD 5,856 miliar dari Januar-Oktober 2018 senilai USD 6,837 miliar .

"Ekspor sektor pertanian yang masih bisa tumbuh 2,50 persen atau menjadi USD 591,902 juta dari periode sama 2018 yang UDS 577,470 juta," ujarnya.

Pengamat ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU), Wahyu Ario Pratomo, mengatakan ekspor Sumut yang masih didominasi produk industri hasil perkebunan seperti minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan karet memang rentan mengalami fluktuasi.

Untuk itu, katanya, ekspor pertanian perlu didorong terus dan termasuk meningkatkan pemasaran di dalam negeri.

"Tidak boleh tergantung sekali dengan ekspor. Kondisi saat ini sudah membuktikan bahwa ketergantungan ekspor membahayakan," ujarnya.

[AS]
November 2019, Sumut Alami Deflasi 0,66 Persen

Posted by On 01.01.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, mencatatakan delfasi sebesar 0,66 persen pada tingkat pergerakan harga di Sumatera Utara selama November 2019 lalu.

Dari hasil pemetaan yang dilakukan, kata Kepala BPS Sumut, Syech Suhaimi, deflasi terjadi lantaran adanya penurunan harga komoditas. Itu ditunjukkan oleh turunnya indeks tiga kelompok pengeluaran yang dihitung, seperti bahan makanan, transportasi, komunikasi dan jasa keuangan.

"Kalau kita lihat perkembangan inflasi, kita mengalami deflasi dalam tiga bulan terakhir. Nanti Desember sangat menentukan untuk keseluruhan pada 2019," kata Syech Suhaimi di Kantor BPS Sumut, Senin (2/12/2019).

Komoditas yang mengalami penurunan harga pada November 2019 antara lain cabai merah, ikan dencis, angkutan udara, cabai hijau, telur ayam ras, daging ayam ras, dan sawi hijau.

"Penurunan harga paling tinggi, adalah dari komoditas cabai merah sebesar 15,63%, "katanya.

Dia mengatakan dari 23 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatra Utara, sebanyak 18 kota tercatat deflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 1,06% dengan IHK sebesar 146,21 dan terendah di Batas sebesar 0,01% dengan IHK sebesar 137,96.

[AS]
Gunung Sitoli Jadi Kota Pengukur Inflasi di Sumut

Posted by On 03.03.00 with No comments

digtara.com | DELISERDANG – Badan Pusat Statistik menetapkan Kota Gunung Sitoli sebagai kota dengan indeks harga konsumen (IHK) di Sumatera Utara. Status itu akan berlaku mulai tahun 2020 mendatang.

Dengan status itu, ke depannya tingkat pergerakan harga di Gunung Sitoli, akan dihitung dan menjadi bagian dari pengukuran tingkat pergerakan harga di Sumatera Utara.

“Dengan bertambah Gunung Sitoli, Nias, maka kota yang dijadikan IHK di Sumut menjadi lima. Sebelumnya ada empat kota IHK di Sumut. Yakni Kota Medan, Padangsidempuan, Sibolga dan Pematangsiantar" ujar Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Sumut, Dinar Butar Butar di Deliserdang, Jumat (29/11/2019).

Dia menjelaskan, dasar pemilihan kota IHK yang baru itu berdasarkan pantauan besaran produk domestik regional bruto di wilayah itu. Lalu pengeluaran perkapita dan letak geografisnya. Penetapan itu juga mempertimbangkan usulan BPS Provinsi, Kota/Kabupaten dan termasuk Wali Kota setempat.

Menurut Dinar, IHK menggambarkan perubahan tingkat harga eceran barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga di suatu kota. Indeks itu merupakan ukuran rata-rata perubahan permintaan masyarakat akan barang dan jasa antarwaktu.

"Persentase perubahan IHK itulah yang disebut inflasi atau deflasi," katanya.

Adapun bahan dasar penyusunan inflasi/deflasi adalah hasil Survei Biaya Hidup (SBH) untuk menghasilkan paket komoditas. Selain dari paket komoditas juga digunakan untuk menghitung Diagram Timbang.

Diagram Timbang yang digunakan saat ini hasil dari SBH 2012 . SBH terakhir yang dilaksanakan pada tahun 2018 akan dirilis mulai awal tahun 2020.

[AS]
Triwulan III-2019, Pertumbuhan Ekonomi Sumut Melambat

Posted by On 01.54.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara (Sumut) di triwulan III-2019. Tercatat ekonomi Sumut tumbuh 5,11 persen.

Kinerja pertumbuhan ekonomi itu memang lebih baik dibandingkan rata-rata nasional yang hanya 5,02 persen. Namun sejatinya pertumbuhan itu mengalami perlambatan jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang berhasil mencapai 5,38 persen.

Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik pada BPS Sumatera Utara, Taulina Anggarani, memaparkan, pertumbuhan ekonomi Sumut didukung oleh semua lapangan usaha yang juga mengalami pertumbuhan, meski cenderung mengalami perlambatan.

"Kalau sumber pertumbuhan pada Triwulan III-2019 ini, dari pertanian, kehutanan dan perikanan 1,03 persen. Lalu pertambangan dan penggalian 0,06 persen. Industri pengolahan 0,22 persen. Konstruksi 0,90 persen. Transportasi dan pergudangan 0,30. Informasi dan komunikasi 0,27 persen dan lainnya juga,"kata Taulina  dalam konfrensi pers yang digelar di Kantor BPS Sumatera Utara, Selasa (5/11/2019).
DARI SISI PENGELUARAN

Sementara itu dari sisi pengeluaran, sambung Taulina, pertumbuhan ekonomi Sumut di Triwulan III-2019 (yoy) ini terjadi hampir pada semua komponen kecuali ekspor dan impor barang dan jasa.

"Pertumbuhan tertinggi dicapai komponen pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P) sebesar 11,39 persen. Lalu diikuti komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 6,26 persen. Kemudian komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga (PK-RT) sebesar 4,92 persen. Ini merupakan komponen dengan sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 2,50 persen, diikuti komponen PMTB sebesar 1,94 persen dan komponen PK-P sebesar 0,82 persen," jelasnya.

Secara regional, Sumatera Utara memiliki kontribusi paling besar terhadap pertumbuhan kegiatan ekonomi di Pulau Sumatera pada triwulan III-2019 ini. Sumut berkontribusi 23,44 persen. Menyusul Sumut ada Riau dengan kontribusi sebesar 21,92 persen dan Provinsi Sumatera Selatan dengan kontribusi sebesar 13,55 persen.

[AS]
Harga Komoditi Turun, Ekspor Sumut Melorot Hingga 12 Persen

Posted by On 23.09.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara mencatat terjadinya penurunan cukup signifikan pada kinerja ekspor Sumatera Utara.

Tercatat hingga triwulan III-2019, atau tepatnya di September 2019, realisasi ekspor Sumut hanya berada di angka USD5,801 miliar. Jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2018 lalu, yang berhasil menembus angka USD6,597 miliar.

Kepala BPS Sumut, Syech Suhaimi, menyatakan penurunan ini sebagai dampak melemahnya harga komoditi ekspor asal Sumatera Utara di pasar internasional.

“Ada penurunan 12,06 persen secara nilai. Tapi secara volume ekspor kita sebenarnya meningkat. Ini karena dampak penurunan harga komoditi kita,”sebut Suhaimi, Minggu (3/11/2019).

Suhaimi memaparkan, volume barang ekspor Sumut pada triwulan III-2019 telah mencapai 7,242.300 ton. Padahal di periode yang sama tahun lalu, hanya 6.988.521 ton.

Data, katanya, menunjukkan, nilai ekspor yang melemah antara lain pada golongan barang lemak, minyak hewan/nabati yang di dalamnya ada crude palm oil (CPO) serta karet dan barang dari karet.

Pengamat ekonomi Sumut, Wahyu Ario Pratomo menyebutkan, krisis global yang masih berlanjut memang dipastikan berdampak pada terganggunya ekonomi.

Nilai ekspor misalnya akan terganggu karena harga jual dan bahkan permintaan menurun.

"Penurunan nilai ekspor memang tidak terelakkan," katanya.

Oleh karena itu, ujar Wahyu yang juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (USU) , saatnya pemerintah membantu pengusaha dengan mengeluarkan deregulasi yang mendukung pengusaha.

“Misalnya ada dorongan peningkatan penjualan di dalam negeri atau membantu pengembangan pasar ekspor,”demikian seperti dilansir Antara.

[AS]