Popular Post

Total Pengunjung

Pemerintah Akan Isolasi Daerah Terjangkit Demam Babi

Posted by On 06.18.00 with No comments

digtara.com | JAKARTA – Pemerintah akan mengisolasi daerah yang terjangkit Demam Babi Afrika. Langkah itu diambil untuk mencegah virus tersebut menyebar dan menjangkiti ternak babi di daerah lainnya.

Hal itu dikatakan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo usai menghadiri acara Natal di kediaman Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, di Jakarta, Rabu (25/12/2019).

"Salah satunya dengan mengisolasi daerah yang terjangkit sangat total. Kemudian daerah lain harus secara rutin, tiap hari harus cek apakah ada virus yang menyangkut," kata Menteri Syahrul.

Syahrul mengatakan isolasi memang langkah yang paling penting dilakukan untuk mencegah penyebaran virus.
"Isolasi untuk dia keluar wilayah, itu yang kita perketat, oleh pemerintah daerah," katanya.

Ia menyebut peternakan babi tidak dikembangkan secara menyeluruh di Indonesia tapi terpusat di satu titik. Kabupaten yang terjangkit juga tidak lebih dari dua atau tiga wilayah.

Oleh karena itu, Syahrul mengatakan pengendalian secara maksimal sesuai prosedur, yakni dengan pemusnahan, kini masih dalam proses.

"Kami sudah lakukan pengendalian secara maksimal dilakukan oleh para gubernur, para bupati dan jajaran pengamanan yang ada, tentu saja penanganan sesuai prosedur yang ada, memang kita harus musnahkan di sana dan itu dalam proses," katanya.
RESPON TERHADAP SIKAP MALAYSIA

Terkait sikap Malaysia yang melarang impor babi dari kawasan yang terjangkit, termasuk Indonesia, menurut Syahrul hal itu memang jadi risiko yang harus diterima.

"Itulah salah satu risiko kalau kita terjangkit, makanya saya juga tetapkan daerah khusus saja yang terjangkit itu yang harus jawab. Pengalaman kita tentang flu burung kemarin. Begitu bilang ada yang terjangkit, tidak masuk (impornya)," katanya.

Kementerian Pertanian telah mengumumkan adanya kasus Demam Babi Afrika atau lebih dikenal dengan African Swine Fever (ASF) di Sumatera Utara.

Hal itu ditegaskan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) Nomor 820/Kpts/PK.32/M/12/2019 tentang Pernyataan Wabah Penyakit demam babi Afrika (African Swine Fever/ ASF) pada beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara pada12 Desember 2019.

Penyakit ASF telah terjadi di 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (ISIKHNAS), sampai minggu ke-2 Desember 2019, total kematian ternak babi yang terjadi di Sumut dilaporkan mencapai 28.136 ekor.

[AS]
Polda Sumut Akan Bentuk Tim Khusus Tangani Virus Kolera Babi

Posted by On 02.57.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Polda Sumatera Utara akan membentuk tim untuk menuntaskan kasus kematian puluhan ribu ekor babi di Sumatera Utara. Dimana berdasarkan laporan yang ada, babi-babi itu mati akibat penyakit Hog Cholera atau Kolera Babi serta African Swine Fever atau Demam Babi Afrika.

Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Martuani Sormin, menyebutkan, tim yang akan dibentuk itu nantinya akan berkolaborasi dengan tim yang sudah dibentuk Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

"Tadi saya bicara di depan Gubernur, khusus masalah Kolera yang menimpa babi. Kita bentuk tim dari dinas Peternakan, Kesehatan, Balai POM, dan Polda maupun TNI. Akan kita libatkan untuk mengecek apa yang terjadi masalah babi ini," kata Martuani, Senin (23/12/2019)

Kapolda berharap dengan keterlibatan seluruh elemen tersebut bisa segera mengatasi permasalahan Kolera Babi tersebut.

"Karena saya orang baru saya mohon waktu," ujarnya.

[caption id="attachment_37937" align="aligncenter" width="700"] Bangkai Babi terjangkit Kolera Babi yang ditemukan di Sungai Bederah Medan (ist)[/caption]

Untuk diketahui, jumlah babi yang mati akibat Kolera Babi dan Demam Babi Afrika itu, dilaporkan telah mencapai 30 ribu ekor. Jumlah itu tersebar di 16 kabupaten/kota.

Yakni Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan, Deliserdang, Karo, dan Kota Medan. Lalu Kabupaten Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Kemudian Kabupaten Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Kota Tebing Tinggi, Kota Pematang Siantar dan Kabupaten Langkat.

[AS]
30 Ribu Ekor Babi di Sumut Mati Akibat Wabah Demam Babi Afrika

Posted by On 05.35.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Sebanyak 30 ribu ekor babi di Sumatera Utara, tercatat mati dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Jumlah kematian yang terbilang fantastis itu tersebar di 16 wilayah Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

Yakni Dairi, Humbang Hasundutan, Deliserdang, Medan, Karo, Toba Samosir dan Serdang Bedagai.

Lalu Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samsosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Tebing Tinggi, Pematang Siantar dan Kabupaten Langkat.

"Yang tertinggi terjadi kematian babi ada di Dairi, Karo dan Deliserdang,"kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Azhar Harahap, seperti dilansir Antara, Jumat (20/12/2019).

Menurutnya, selama ini pihaknya terus melakukan upaya pengendalian penyebaran virus tersebut dengan bio security. Yakni mencegah lalu lintas ternak babi, melarang pemindahan ternak babi antar daerah, penyemprotan desinfektan dan pemberian vaksin.

"Langkah-langkah hingga saat ini pengendalian tetap kita lakukan," katanya.

Merebaknya virus itu dimulai sejak 25 September yang lalu. Belakangan, beredar salinan Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 820/KPTS/PK.320/M/12/2019 tentang pernyataan wabah penyakit demam babi afrika (African Swine Fever) di beberapa kabupaten/kota di Sumut.

Keputusan Menteri Pertanian RI sebanyak 6 lembar tersebut ditetapkan di Jakarta, pada 12 desember 2019 yang ditandatangani Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo.

[AS]
Akibat Kolera Babi, Sumut Berpotensi Merugi Hingga Rp.4 Triliun

Posted by On 21.45.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Balai Veteriner Medan, mencatat angka kematian hewan ternak babi akibat penyakit Hog Cholera (Kolera Babi) telah mencapai 27 ribu ekor.

Selain mengancam populasi, kematian puluhan ribu ekor babi itu juga berpotensi mengganggu perekonomian Sumatera Utara. Itu karena potensi kerugian yang ditaksir mencapai Rp.4 triliun akibat kematian ribuan babi tersebut.

Ekonom, Gunawan Bendjamin, mengatakan, kematian babi ini menjadi ancaman tersendiri bagi perekonomian Sumatera Utara. Sehingga harus segera ditanggapi secara serius.

Karena masalah kematian babi ini sangat erat kaitannya dengan potensi kenaikan harga pangan. Selain itu, angka kematian yang terus mengalami peningkatan tersebut sangat merugikan para peternak babi.

Terlebih disaat menjelang perayaan Natal tahun ini. Semua peternak babi dirugikan karena penjualan hewan ternak mereka tidak laku di pasaran. Bahkan sekalipun dijual dengan harga yang sangat miring. Kondisi ini sangat mengganggu daya beli peternak babi. Terlebih menjelang perayaan keagamaan besar Natal yang sebentar lagi.

“Jika mengacu kepada data hewan yang mati dari Balai Veteriner Medan, Jumlah sebanyak 27 ribuan babi yang mati telah merugikan peternak babi SUMUT sebesar hampir 100 Milyar Rupiah sejauh ini. Dan jika melihat tren kematian yang terus meningkat, maka ancaman kematian populasi babi terbuka lebar. Nah ancaman 1,2 juta populasi babi yang bisa saja mati ini, akan merugikan peternak Sumut sekitar 4 Triliun nantinya,”sebut Gunawan, Jumat (13/12/2019).
PEMERINTAH HARUS GERAK CEPAT

Untuk itu, menurut Gunawan, pemerintah harus bertindak segera agar kerugian ini tidak meluas. Jadi langkah utama yang bisa dilakukan dengan segera adalah menyelamatkan daya beli peternak babi terlebih dahulu. Mengingat daya beli mereka terpuruk seiring dengan sulitnya mereka menjual hewan ternak tersebut belakangan ini.

“Selanjutnya, kita pikirkan nasib peternak babi selama kandang tidak bisa digunakan untuk berternak. Karena menurut Balai Veteriner, kandang babi harus disterilkan dari virus secepat-cepatnya itu adalah 3 bulan dengan pengawasan ketat, meskipun idealnya (sesuai dengan rekomendasi) itu sekitar 1 tahun,”sebutnya.

Waktu selama itu tentunya membuat peternak akan kehilangan daya belinya. Ini akan memperburuk masalah ekonomi masyarakat khususnya mereka yang beternak babi. Untuk itu, kita mendorong pemerintah agar segera memberikan bantuan kebutuhan pokok dasar peternak, serta mengeluarkan anggaran untuk membatasi ruang gerak penyebaran virus tersebut.

“Untuk menyelamatkan potensi kerugian yang 4 Triliun tadi. Sebaiknya pemerintah menyiapkan anggaran optimal agar penyebaran virus dan kematian babi bisa dihentikan,”tukasnya.
HARGA PRODUK SUBSTITUSI NAIK

Kematian babi belakangan ini juga sangat potensial membuat sejumlah bahan pangan subtitusi dari babi seperti daging ayam, telur ayam maupun sapi berpeluang mengalami kenaikan harga. Menjelang perayaan Natal an Tahun Baru umumnya konsumsi akan protein akan mengalami peningkatan. Dan jika masyarakat yang biasa mengkonsumsi babi mengalihkan ke jenis protein lain, maka ada peluang kenaikan harga daging ayam, telur ayam maupun daging.

“Meskipun Balai Veteriner telah menegaskan bahwa babi yang terserang virus aman dagingnya untuk dikonsumsi manusia. Jadi seharusnya tidak ada kekuatiran yang berlebihan maupun tidak masuk akal. Untuk itu saya mengajurkan masyarakat agar terus memerangi berita yang tidak benar atau hoaks, karena sangat meresahkan,”tukasnya.

Masalah serangan virus ke babi ini bukan hanya dialamai oleh Sumatera Utara saja. Namun ini merupakan bencana global dimana negara lain pun mengalami hal yang sama. Tetangga kita yang terdekat Thailand juga mengalami masalah serupa.

“Untuk itu segera semua pihak atau stake holder khususnya pemerintah segera turun tangan untuk membatasi penyebaran virus tersebut, Agar tidak memicu multiplier efek lainnya yang bisa saja memicu kenaikan harga kebutuhan masyarakat pada umumnya,”tandasnya.

 

Penulis : Dhe Regar
Warga Kembali Temukan Bangkai Babi di Sungai Padang

Posted by On 16.32.00 with No comments

digtara.com | TEBINGTINGGI – Warga yang bermukim di sekitar bantaran Sungai Padang, Kota Tebingtinggi, dihebohkan dengan penemuan kembali bangkai  babi di aliran sungai yang membelah kota tersebut.

Sultan Galip (22) warga setempat yang pertama kali melihat bangkai babi itu mengatakan, saat itu ia sedang mencari cacing di pinggiran Sungai Padang, tepatnya di Kelurahan Tanjung Marulak Hilir Kecamatan Rambutan, Kota Tebingtinggi.

Saat berada di bendungan yang banyak sampah tersangkut, dia melihat bangkai babi ukuran sangat besar dan hampir membusuk tersangkut di tumpukan sampah.

“Kami pikir awalnya batang kayu,”sebut Sultan.

Penemuan bangkai babi itu kemudian dilaporkan kepada kepala lingkungan setempat. Sultan dan warga lainnya berharap agar segera menyampaikan kepada tim yang dibentuk pemkot melalui kelurahan, untuk segera mengevakuasi bangkai babi tersebut.

“Dikhawatirkan bangkai babi yang diperkirakan sudah 3-4 hari terendam itu akan pecah perutnya dan menimbulkan pencemaran,”tandasnya.

[AS]
Akhyar: Jangan Takut Makan Ikan

Posted by On 02.25.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution, mengajak warga Kota Medan untuk mengkonsumsi ikan dan hasil laut lainnya. Itu disampaikan Akhyar saat menghadiri kegiatan makan ikan bersama di halaman parkir dalam Pasar Cemara Medan, Senin (25/11/2019).

Acara itu dibuat untuk mensosialisasikan bahwa ikan yang dijual di Medan, aman dari pencemaran virus Hog Cholera (Kolera Babi). Penyebaran Kolera Babi ini menjadi pembahasan penting beberapa pekan terakhir. Itu karena masyarakat khawatir ikan-ikan mengkonsumsi bangkai babi terjangkit Kolera Babi yang dibuang di sejumlah sungai di Medan.

"Ikan yang dijual di pasaran merupakan ikan yang aman dan layak kita konsumsi. Ikan yang dijual merupakan ikan yang berasal dari tengah laut artinya ikan tersebut aman untuk dikonsumsi," kata Akhyar.

Menurut Akhyar, ikan yang berada di pasaran aman tidak terkena virus Kolera Babi seperti yang saat ini dirisaukan warga. Sebab ikan yang ada di pasaran berasal dari laut tengah sehingga aman dari sesuatu yang menjijikan.

"Marilah kita makan ikan, karena dengan makan ikan anak-anak dapat tumbuh berkembang dengan penuh gizi, sehat serta cerdas,"ajak Akhyar.

[caption id="attachment_39055" align="aligncenter" width="700"]Akhyar: Jangan Takut Makan Ikan Plt. Wali Kota Medan, Akhyar Nasution, melihat langsung proses pemasakan ikan di gelaran makan ikan bersama yang digelar di Pasar Cemara (ist)[/caption]

"Ikan yang ada di pasaran aman dari bakteri hog cholera aman dari sesuatu yang menjijikkan dan setelah diteliti oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan ikan tersebut tidak terkena virus dan aman di konsumsi. Air yang berada di tengah laut juga sudah diteliti dan sama sekali tidak ada sedikitpun mengandung virus tersebut. Ayo kembali makan ikan,"sebutnya lagi.

 
TIDAK MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN

Dalam kesempatan tersebut Akhyar tidak bosan-bosannya untuk mengingatkan masyarakat terutama para pedagang yang ada di Pasar Cemara untuk tidak membuang sampah sembarangan ke dalam parit. Selain itu, Akhyar juga menghimbau agar para pedagang mewadahi sampah sehingga sampah yang ada tidak berserakan.

"Pemko Medan saat ini tengah berupaya membuat Kota Medan bersih, namun tidak semua menyahuti dengan baik. Maka dari itu ayo. Kota Medan harus bersih salah satu caranya dengan mengurangi sampah plastik. Bersih itu bukan main-mainbersih itu serius," tegas Akhyar.

Sebelumnya, Ketua Komunitas Pedagang Ikan Juwari mengatakan bahwa para pedagang selama ini merasa risau karena terkena dampak sosial dari bangkai babi yang dibuang sembarangan ke sungai oleh oknum tidak bertanggung jawab.

[caption id="attachment_39053" align="aligncenter" width="700"]Akhyar: Jangan Takut Makan Ikan Akhyar makan bersama dengan sejumlah tokoh masyarakat (ist)[/caption]

"Hari ini melalui acara ini kami ingin menunjukkan dan meyakinkan kepada masyarakat luas bahwa ikan yang berada di pasaran sangat layak dan aman untuk di komsumsi. Jadi tidak alasan lagi bagi masyarakat untuk tidak mengkonsumsi ikan," jelas Juwari.

[AS]
14 Ekor Bangkai Babi Ditemukan di Aliran Sungai Padang

Posted by On 07.05.00 with No comments

digtara.com | TEBINTINGGI – Sebanyak 14 ekor bangkai babi ditemukan di alirang Sungai Padang, Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara, Sabtu (23/11/2019).

Bangkai babi itu diduga mati akibat terpapar virus Hoc Cholera atau Kolera Babi.

Camat Padang Hilir, Ramadhan Pulungan, menyatakan bahwa penemuan bangkai babi pertama kali diketahui oleh seorang warga yang mencium bau busuk di sekitar sungai.  Penemuan itu kemudian dilaporkan ke pihak Kecamatan dan Polsek setempat.

“Awalnya ditemukan sepuluh ekor bangkai babi tersangkut di akar pohon. Setelah dilakukan penyususuran di sepanjang sungai, ditemukan kembali empat ekor bangkai babi. Seluruh bangkai babi tersebut kemudian dievakuasi dan dikubur di sekitar lokasi penemuan,”sebut Ramadhan.

Ramadhan mengaku hingga saat ini pihaknya belum mengetahui siapa yang sengaja membuang babi tersebut. Polisi pun kini sedang menyelidiki pembuang bangkai babi tersebut. “Kita harap pelakunya segera tertangkap,”tukasnya.

Sebelumnya Dinas Ketahanan Pangan Pertanian Dan Peternakan Kota Tebing Tinggi menyebutkan ada 24 kasus kematian babi yang disebabkan Virus Kolera Babi. Namun jumlah itu kemungkinan akan bertambah, karena banyak peternak babi yang tidak melaporkan kematian ternaknya.

Untuk mengantisipasi bangkai babi yang dibuang sembarangan, Pemerintah Kota Tebingtinggi telah menyiapkan lahan untuk mengubur babi yang mati.

Saat ini, Kota Tebingtinggi menjadi salah satu daerah endemik Virus Kolera Babi. Selain Tebingtinggi, ada 15 kabupaten-kota lainnya di Sumatera Utara yang mengalami kondisi serupa.

Pemerintah daerah yang di 15 kabupaten/kota tersebut, bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, sudah melakukan beragam upaya agar tak lagi ada bangkai babi yang dibuang. Termasuk memberikan vaksin kepada ternak babi warga, dan membantu penguburan ternak babi warga yang mati akibat Kolera Babi.

[ERWAN/AS]
10.298 Ekor Babi Mati di Sumut, DPR-RI Turun Tangan

Posted by On 04.23.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Komisi IV DPR-RI mendukungan penuh Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, dalam menangani wabah penyakit babi yang saat ini melanda daerah tersebut.

Hal itu disampaikan langsung oleh Ketua Komisi IV DPR-RI, Sudin, saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik ke Pemprov Sumut, di Ruang Rapat Khairuddin Nasution, Lantai 8, Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30, Medan, Jumat (22/11/2019).

Sampai saat ini tercatat ada 10.298 ekor babi yang mati terkena penyakit. Dukungan itu diharapkan dapat membuat penanganan penyebaran wabah secepat mungkin dilakukan agar tidak merugikan masyarakat dan juga peternak.

Sudin mengatakan, Komisi IV DPR-RI akan membantu sekuat tenaga agar permasalahan wabah babi di Sumut segera teratasi. Sehingga tidak menyebar ke daerah yang belum terinfeksi wabah.

"Kita memberikan dukungan penuh kepada Pak Gubernur untuk mengatasi masalah ini. Kalau perlu relokasi anggaran, kita akan bantu. Kita tidak ingin masalah ini semakin besar,” tegas SudinSudin datang bersama anggota Komisi IV lainnya.

[caption id="attachment_38787" align="aligncenter" width="700"]10.298 Ekor Babi Mati di Sumut, DPR-RI Turun Tangan Komisi IV DPR-RI menggelar kunjungan kerja ke Pemprov Sumut. Salah satu yang menjadi bahasan penting adalah terkait penyakit babi yang kini mewabah di sejumlah daerah di Sumut (ist)[/caption]


MENYELAMATKAN YANG TERSISA


Populasi babi di Sumut menurut data terakhir Kementerian Pertanian ada 1.277.471 ekor.  Upaya yang perlu dilakukan sekarang adalah menyelamatkan sisa babi yang belum terkena wabah.

“Masih ada sekitar 1,26 juta babi lagi di Sumut. Kita upayakan sekuat mungkin sisanya ini tidak terkena wabah ini. Itu yang utama yang harus dilakukan,”kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, I Ketut Diarmita.

 

SINERGITAS PENANGANAN


Sampai saat ini Pemprov Sumut dan Pemda kabupaten/kota sudah berupaya keras untuk menghentikan penyebaran wabah ini. Bukan itu saja, Pemprov dan Pemda bekerja sama dengan Kepolisian. Khususnya dalam menghentikan pembuangan bangkai babi ke sungai, tong sampah dan tempat-tempat umum lainnya dengan cara patroli. Karena selama ini pemilik peternakan babi yang hewan ternaknya mati membuang bangkainya ke sembarang tempat.

Gubernur Edy Rahmayadi mengatakan, Pemprov Sumut sekarang sedang menyosialisasikan kepada peternak-peternak babi agar memberikan bangkai babinya kepada tim yang dibentuk di tiap-tiap kecamatan yang mayoritas masyarakatnya memelihara babi. Selanjutnya bangkai tersebut akan dimusnahkan.

“Kita sudah bentuk tim untuk menangani ini, kalau ada peternak yang babinya mati serahkan bangkainya kepada tim kami yang ada di daerah, jangan dibuang sembarang. Tim ini juga patroli mencegah orang membuang bangkai babi sembarangan,” tegas Edy.

Edy Rahmayadi juga prihatin bila wabah ini sulit dihentikan karena tidak sedikit masyarakatnya yang bergantung pada peternakan babi. Namun, saat ini babi-babi Sumut dilokalisir agar tidak keluar dari Sumut dan juga tidak menyebar ke daerah lain di Sumut,” tambah Edy.

Bila dalam waktu dekat masalah wabah babi di Sumut tidak teratasi maka Kementerian Pertanian akan melakukan penanganan secara khusus. Terkait hal itu, Pemprov Sumut akan siap mengikuti arahan dari Kementerian Pertanian. “Kita ikuti prosedur yang mereka berikan,” tegas Edy Rahmayadi.

[AS]
Musim Kolera Babi, Ini Cara Agar Ternak Tak Tertular

Posted by On 01.11.00 with No comments

digtara.com | TAPTENG – Sejumlah wilayah di Sumatera Utara kini tengah dihebohkan dengan wabah Hog Cholera atau Kolera Babi. Ribuan ekor babi di Sumut sudah mati akibat serangan virus tersebut.

Ironisnya tak sedikit dari babi yang mati, tidak dikuburkan secara benar. Babi yang mati justru di biarkan, atau di buang ke sungai, sehingga penyebaran virus Kolera Babi justru menjadi semakin masiv.

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Tengah, Kristian M Sitohang mengatakan, virus Kolera Babi tidak menyebar kepada manusia atau istilah ilimiahnya Zoonosis.

Dengan demikian masyarakat pengkonsumsi daging babi jangan takut untuk makan daging babi karena tidak akan menular kepada manusia.

“Hal ini perlu kami tegaskan, karena ada berita bohong yang menyebut tetang virus Hog Cholera ini. Sehingga menimbulkan rasa takut untuk mengkonsumsi daging babi. Sekali lagi bahwa virus Hog Cholera tidak menular kepada manusia, dia menular hanya kepada sesama ternak babi,” tegasnya.

 
TIPS AGAR TAK TERTULAR

Agar terhindar dari virus yang belum ada obatnya itu, adalah, dengan rajin membersihkan kandang ternak. Lalu menjaga sanitasi dan biosecurity kandang.

Tidak bebas keluar masuk kandang. Lalu memisahkan ternak babi yang terserang virus. Kemudia jangan membawa makanan ternak dari luar atau sisa olahan makanan.

“Kita sering menemukan peternak babi yang membawa sisa makanan dari pesta, atau dari tempat lain. Agar ternak peliharaannya aman dari virus, jangan diberikan sisa makanan yang dari luar. Selain itu juga, bagi ternak yang sehat agar dilakukan vaksin. Karena babi yang sudah terserang virus Kolera Babi, tidak ada obatnya dan pasti mati. Jadi yang bisa diselamatkan itu adalah, babi yang sehat dengan cara divaksin agar tidak terserang virus,” katanya.

Sedangkan bagi ternak yang mati karena diserang virus lanjutnya, agar dikubur atau dibakar jangan dibuang ke sungai atau ke laut, karena virusnya bisa menyebar dan mematikan ternak babi yang lain.

“Jika ini bisa dilakukan masyarakat peternak babi, maka ternaknya akan aman dari serangan virus. Dan kami sudah sosialisasikan ini kepada masyarakat Tapteng, mengingat Tapteng pernah diserang virus Hog Cholera terbesar di Sumut tahun 1997,” tandasnya.

[AS]
Babi Yang Mati Akibat Virus Kolera di Sumut Bertambah Menjadi 5800 Ekor

Posted by On 02.27.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Jumlah babi yang mati akibat serangan virus Hog Cholera (Kolera Babi) di Sumatera Utara, mengalami peningkatan. Jika sebelumnya dilaporkan sebanyak 4047 ekor babi yang mati, hari ini jumlahnya dilaporkan meningkat menjadi 5800 ekor.

"Data ini hasil laporan terbaru dari kabupaten dan kota di Sumut," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap, Senin (11/11/2019).

Untuk mengantisipasi penyebaran virus tersebut, Kementerian Pertanian dalam hal ini Dirjen Peternakan akan berpartisipasi dalam penanganan dan pengawasan babi.

"Untuk hari ini kita melakukan rapat di provinsi dengan seluruh kabupaten dan Kota. Rapat untuk mengambil langkah-langkah penanganan terhadap penyakit Hong Cholera yang terjadi di Provinsi Sumut," ujarnya.

Diketahui, sebanyak 11 kabupaten/kota yang terkena wabah virus hog cholera yaitu Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir. Lalu Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Samosir.

[AS]
Pemerintah Mulai Bersihkan Bangkai Babi dari Danau Siombak

Posted by On 01.17.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama Pemerintah Kota Medan dibantu masyarakat, mulai mengevakuasi ratusan bangkai babi yang mengapung di Danau Siombak, Kecamatan Medan Marelan, Senin (11/11/2019).

Petugas mengevakuasi bangkai dengan menggunakan kait besi yang ditarik dengan speedboat. Bangkai babi yang ditarik kemudian dikumpulkan di satu titik di tepi Danau Siombak.

“Hingga siang ini sudah dilakukan evakuasi terhadap 106 bangkai babi dari Danau Siombak ini," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, Azhar Harahap, seperti dilansir Antara.

Bangkai babi yang sudah dievakuasi ini, lanjut Azhar, akan dikuburkan. Penguburan ini dilakukan guna mengantisipasi pencemaran lingkungan.

“Penguburan akan dilakukan di Pulau Kecil yang berada di Danau Siombak,”jelasnya.

Sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara mencatat ada 11 Kabupaten/Kota yang terkena wabah virus hog cholera. Yaitu Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Samosir.

[AS]
Pencemaran Bangkai Babi, Pemkot Medan Bentuk Tim Terpadu

Posted by On 03.13.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Pemerintah Kota Medan membentuk tim terpadu  untuk menangani pencemaran bangkai babi di Sungai Bederah, Medan Marelan.

Plt Wali Kota Medan, Akhyar Nasution, mengatakan, hari ini mereka telah menggelar rapat pembentukan tim terpadu tersebut.

"Saya sudah menginstruksikan seluruh jajaran terkait. Khususnya tim terpadu, untuk menangani persoalan bangkai babi ini dengan serius," tegasnya seusai memipin rapat, Minggu (10/11/2019),

Perhatian serius diberikan karena Pemkot tidak ingin masalah ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Apalagi pemkot sudah memastikan temuan bangkai-bangkai babi yang hanyut di Sungai Bederah dan pencemaran yang ditimbulkannya.

Hal pertama yang harus dilakukan segera oleh tim terpadu adalah membersihkan kembali sungai tersebut dari bangkai babi, sampah dan kotoran lainnya. Selain itu, tim terpadu juga akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat, kepolisian dan pihak-pihak terkait lain. Khususnya dalam upaya mencari tahu siapa pelaku pembuang bangkai-bangkai tersebut ke sungai dan apa motifnya.

"Kami yakin bahwa pelaku dengan sengaja membuang bangkai-bangkai itu ke sungai," imbuh Akhyar.

Selain pencemaran kandungan air, sampai sekarang aroma busuk dari bangkai juga masih merebak. Khususnya di kawasan pinggiran sungai yang banyak didiami warga.

Tim terpadu itu juga ditugaskan untuk melakukan langkah-langkah antisipatif agar pencemaran tidak meluas. Termasuk untuk mengantisipasi kembali dilakukannya pembuangan bangkai hewan ke sungai.

Salah satu bagian dari tim tersebut adalah dari unsur Dinas Kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Edwin Effendi mengaku pihaknya akan menerjunkan tim untuk menyosialisasikan dampak serta upaya pencegahan akibat bangkai babi yang diduga terjangkit virus kolera tersebut.

Tim ini memberikan pendampingan kepada  pihak kecamatan dalam penanganan dampak dari pencemaran ini, terutama gangguan kesehatan.

[AS]
Pemprov Sumut Pastikan Belum Ada Penularan Kolera Babi ke Manusia

Posted by On 01.59.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah menurunkan tim untuk meneliti dampak penyebaran virus hog kolera (kolera babi) terhadap manusia.

Tim tersebut terdiri dari petugas Dinas Kesehatan dan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan. Lalu Dinas Sumber Daya Alam, Tata Ruang dan Cipta Karya Sumut. Badan Lingkungan Hidup dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumut. Serta Biro Humas dan Keprotokolan Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Utara.

Pengerahan tim ini dilakukan untuk menyikapi keresahan masyarakat pasca-kematian ribuan babi di Sumatera Utara akibat serangan virus tersebut.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, M Azhar Harahap, mengatakan, berdasarkan penelitian yagn dilakukan tim tersebut, disimpulkan bahwa virus kolera babi hingga saat ini hanya menyerang babi. Belum ditemukan kasus virus tersebut menginfeksi manusia.

"Tim sudah bekerja, penyakit ini hanya menyerang ternak babi. Ternak yang terinfeksi virus hog cholera pun tidak bisa diobati. Kita hanya bisa melakukan upaya pencegahan virus dengan melakukan sanitasi terhadap kandang, dan pemberian vitamin. Kita juga memberikan vaksin kepada ternak yang sehat,"sebut Azhar dalam jumpa pers di Kantor BPBD Sumut pada Minggu (10/11/2019).

 
PERTAMA KALI DITEMUKAN

Azhar menjelaskan, bahwa virus ini pertama kali ditemukan 25 September 2019, lewat surat yang disampaikan Pemkab Dairi.

"Kami pun langsung menyikapi serius laporan tersebut dengan melakukan pengambilan  sampel darah babi, di beberapa kabupaten. Seperti di Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo dan Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Deliserdang. Hasilnya menyatakan itu positif Hog Cholera,"paparnya.

Sampai saat ini telah ditemukan 4.682 ekor babi yang mati karena hog cholera. Sementara jumlah populasi babi di Sumut sebanyak 1,2 juta ekor.  Ada 11 kabupaten yang ditemukan ternak babi mati karena hog cholera. Yakni di Karo, Dairi, Humbang Hasundutan, Deliserdang, Medan, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Samosir.

Untuk penanganan bangkai babi yang terinfeksi virus hog cholera, Azhar pun mengimbau jangan menunda untuk menguburkan. "Untuk ternak yang telah mati, harus segera dilakukan pemusnahan. Lakukan penguburan dan pemusnahan dengan dibakar, jangan dibuang ke sungai atau pun di buang ke hutan," tambahnya.

TIDAK MENULAR KE MANUSIA

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumut, Alwi Mujahid juga menegaskan bahwa virus hog cholera hanya menular dari babi ke babi. Tidak ada kasus virus tersebut menular pada ternak lain atau pun manusia.

"Sampai saat ini virus tersebut hanya dari babi ke babi, belum ada laporan bisa meninfeksi ternak lain. Namun dengan adanya pembuangan bangkai babi ke sungai maka akan terjadi pencemaran air, yang bisa menimbulkan penyakit diare. Begitu pun saat ini kita juga belum menemukan kasus karena pencemaran air tersebut," tambahnya.

Ia juga mengharapkan agar bangkai yang telah dibuang ke sungai atau pun hutan agar segera dievakuasi. "Kami pun berharap agar bangkai babi ini segera dievakuasi dari sungai sehingga air aliran sungai tidak tercemari lagi. Setelah diangkap dari air, kemudian dikubur tidak menimbulkan penyakit lain," tambahnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumut, Binsar Situmorang menjelaskan dampak lingkungan hidup dari pembuangan bangkai babi ke sungai. "Pada tanggal 6 November silam, kami telah mengambil sampel air dari Sungai Badera dan Sungai Deli. Hasil dari uji sampelnya akan kami umumkan secepatnya ," ucap Binsar.

 
IMBAUAN KEPADA BUPATI/WALIKOTA

Terpisah Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengimbau para Bupati/Walikota untuk cepat tanggap mengantisipasi penyebaran virus hog cholera babi tersebut. Mereka diminta segera melapor jika menemukan ada kasus kolera babi di daerahnya masing-masing.

“Jika ada temuan, segera melapor ke Posko Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, ” tegas Gubernur.

Kepada  warga juga diimbau untuk tidak membuang ternak babi yang mati ke aliran sungai. Perbuatan itu disebut Edy melanggar Undang-Undang No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).

"Dilarang membuang ternak babi yang mati ke sungai atau ke hutan dan segera menguburnya. PPNS kita akan bekerja sama dengan kepolisian siap menindak siapa saja yang melanggarnya,” ujar Gubernur.

[AS]
Selain di Sungai Bederah, Belasan Bangkai Babi Juga Hanyut di Sungai
Babura

Posted by On 01.49.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - Warga yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Babura, Kota Medan, mulai resah. Itu dikarenakan mulai ditemukannya bangkai babi di aliran sungai yang melintas di sekitar pemukiman mereka.

Setidaknya 15 ekor bangkai babi sudah ditemukan warga. Ada yang melintas ada pula yang tersangkut di pinggir sungai.

"Yang saya lihat langsung saja tadi pagi ada tiga ekor bangkai babi yang menyangkut di pinggir sungai. Sudah sejak semalam ada bangkai babi yang ditemukan warga,"ujar Siti Ramlah, warga Jalan Karya Utama, Polonia, Medan, Jumat (8/11/2019).

Warga resah, sebut Siti Ramlah, karena bangkai babi itu menimbulkan aroma tidak sedap. Bangkai babi juga mengkontaminasi air sungai, yang sebagian warga jadikan sebagai sumber air untuk kebutuhan hari mereka.

"Udah salah ini, kenapalah dibuang ke sungai, kan pencemaran sungai jadinya. Maunya kalau mati, ya dibakar. Baunya itu kami enggak tahan," ujarnya.

Sebelumnya, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara mencatat ada 11 Kabupaten/Kota yang terkena wabah virus hog cholera yaitu Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Samosir.

Dari 11 kabupaten/kota tersebut sebanyak 4.682 ekor babi dilaporkan mati akibat virus ini. Hingga kini, Pemprov Sumut bersama pemerintah daerah berupaya keras untuk menangani masalah tersebut.

[AS]
PDAM Tirtanadi Pastikan Sumber Air Mereka Bebas Dari Kontaminasi
Bangkai Babi

Posted by On 02.06.00 with No comments

digtara.com | MEDAN - PDAM Tirtanadi memastikan sumber pasokan bahan baku airair air mereka tidak dilintasi ratusan bangkai babi. Kepastian itu disampaikan dalam merespon keresahan pasca-penmeuan ratusan bangkai babi di sungai yang melintasi Kota Medan dalam tiga hari terakhir.

M Adenin Ginting, Plt. Kabid Komunikasi dan Informasi PDAM Tirtanadi, mengatakan pihaknya telah dan masih melakukan pemantauan khusus terhadap sejumlah sumber bahan baku air bersih milik mereka yang ada di Kota Medan dan sekitarnya.

"Dari hasil pantauan tersebut saat ini kami pastikan tidak ada bangkai babi yang melintasi sumber bahan baku," ujarnya, Rabu (6/11/2019).

Dia jelaskan, Tirtanadi memiliki enam Instalasi Produksi Air Bersih (IPA) yang berada di Kota Medan dan sekitarnya. Yakni IPA Sibolangit, IPA Delitua, IPA Sunggal, IPA Limau Manis, IPA Hamparan Perak dan IPA Belumai.

Namun dari keenam IPA tersebut tidak ada satupun mengambil bahan baku dari sungai yang dilintasi bangkai babi, khususnya sungai Bederah. Dengan kata lain, sungai Bederah di Kecamatan Medan Marelan tidak menjadi salah satu sumber bahan baku air bersih yang digunakan Tirtanadi.

Seperti diketahui, dalam tiga hari terakhir terdapat ratusan bangkai babi hanyut di sungai Bederah. Selain itu, bangkai-bangkai babi juga ditemukan di sejumlah kawasan lain, yakni Sungai Babura, obyek wisata Danau Siombak dan TPA Terjun.

Selain tidak menjadi sumber bahan baku, sungai-sungai dan kawasan tersebut bahkan memiliki bagian aliran air yang berbeda. Dan secara teknis, bila sumber-sumber bahan baku air dimasuki bangkai hewan, termasuk babi, maka instalasi tidak dapat beroperasi.

Itu karena air yang berada di kawasan sumber bahan baku dialirkan ke dalam instalasi. Sehingga bila ada material besar, seperti bangkai, dalam jumlah banyak tersedot masuk maka proses pengolahan akan berhenti.

Namun demikian, Tirtanadi masih terus melakukan pemantauan secara khusus hingga persoalan ini benar-benar diselesaikan pihak berwenang. Dan sudah dapat dipastikan darimana bangkai-bangkai babi itu berasal.

[AS]
Heboh Bangkai Babi di Medan, Lebih Dari 4 Ribu Babi di Sumut Mati
Karena Kolera

Posted by On 06.53.00 with No comments

digtara.com | MEDAN – Ratusan ekor bangkai babi mengambang di aliran Sungai Bedera, yang melintas di wilayah utara Kota Medan, sejak Sabtu 2 Nopember 2019 kemarin.

Kondisi itu pun membuat kehebohan warga, khususnya yang tinggal di wilayah Medan Utara, karena bau busuk yang begitu menyengat akibat keberadaan bangkai tersebut.

Kehebohan yang terjadi di Medan ini, juga terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera Utara. Khususnya di sejumlah wilayah di kawasan Tapanuli.

Meski tak ada ratusan bangkai babi ditemukan di wilayah-wilayah itu, namun jumlah hewan ternak babi milik warga yang mati, jumlahnya telah mencapai ribuan.

Bahkan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Utara, mencatat sebanyak 4047 ekor babi mati mendadak sejak September hingga November 2019 ini.

“Matinya akibat kolera babi. Penyebaran virus bisa makin meluas karena sebagian peternak membuang babi yang mati ke sungai. Padahal, bangkai babi seharusnya ditanam. Penyebaran virus ini melalui udara. Jika bangkai tidak ditanam, maka virus akan semakin menyebar. Saat ini sudah sebelas daerah yang terkena,"kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, M Azhar Harahap, Selasa (5/11/2019)

Kasus pembuangan bangkai babi ke sungai itu semula diketahui terjadi di beberapa kabupaten di kawasan Tapanuli. Namun belakangan bangkai-bangkai babi juga sudah ditemukan di aliran sungai di Medan, seperti di Sungai Bedera, Medan Marelan.

Pembuangan bangkai secara sembarangan ini, menurut Harahap, akan membuat upaya menghadang penyebaran virus makin sulit. Berbagai upaya dilakukan, termasuk disinfektan dan pemberian vaksin kepada ternak di berbagai daerah.

Petugas, menurut Harahap, akan makin memperluas cakupan pemberian vaksin. Terutama daerah yang kini terjangkit di antaranya Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Karo, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai.

Selain itu, kata Harahap, pihaknya sudah meminta pemkab/pemkot membuat posko penanganan. Dengan begitu, penanganan kasus bisa dilakukan lebih cepat.

[AS]